Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.080
Ahad, 3 Rabiul Awal 1448
Bahagia Berakhlak Mulia
Saudaraku, dikisahkan pada suatu hari ada seorang Arab Badui datang ke masjid Rasulullah. Karena tidak memahami adab masjid, ia buang air kecil di salah satu sudut masjid, apalagi masjidnya belum seperti masa-masa berikutnya Para sahabat tentu sangat terkejut dan hendak menghentikannya. Namun Rasulullah justru meminta para sahabat membiarkannya menyelesaikan hajatnya. Setelah itu, beliau memerintahkan agar tempat tersebut disiram dengan air. Rasulullah tidak mempermalukannya. Beliau tidak memaki, tidak membentak, dan tidak menjadikannya tontonan. Setelah keadaan tenang, beliau memberikan penjelasan dengan lembut bahwa masjid bukan tempat untuk melakukan hal seperti itu.
Sebuah kesalahan diperbaiki dengan ilmu, tetapi ilmu itu disampaikan dengan akhlak. Dari peristiwa ini mengajarkan sesuatu yang sangat dalam: orang berilmu bukan hanya mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tetapi juga mengetahui bagaimana menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar.
Muhasabah pertama Rabiul Awal mengajarkan bahwa ilmu harus menjadi amal. Muhasabah kedua mengajarkan agar amal itu dijaga dengan istiqamah. Hari ini kita melangkah lebih jauh: amal yang istiqamah harus melahirkan akhlak yang mulia. Sebab salah satu tanda bahwa ilmu telah benar-benar masuk ke dalam diri seseorang adalah perubahan akhlaknya. Allah berfirman: Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam 4). Ayat ini ditujukan kepada Rasulullah. Beliau adalah manusia yang paling tinggi ilmunya tentang wahyu, tetapi keagungan beliau tidak hanya tampak pada pengetahuan yang disampaikan. Ilmu itu menjelma menjadi akhlak dalam kehidupan beliau.
Sayyidah 'Aisyah r.a. ketika ditanya tentang akhlak Rasulullah menjawab: “Akhlak beliau adalah Al-Qur'an.” (HR. Muslim). Betapa indah, bukan?. Bayangkan, Al-Qur'an bukan hanya berada dalam bacaan beliau, tetapi memantul dalam perilaku beliau. Ketika Al-Qur'an mengajarkan kasih sayang, beliau menjadi manusia yang penuh kasih sayang. Ketika Al-Qur'an mengajarkan kejujuran, beliau menjadi ash-shadiq dan al-amin. Ketika Al-Qur'an mengajarkan kesabaran, beliau bersabar. Ketika Al-Qur'an mengajarkan memaafkan, beliau memaafkan. Ketika Al-Qur'an mengajarkan keadilan, beliau berlaku adil bahkan kepada orang yang tidak menyukainya.
Maka ilmu yang sejati bukanlah ilmu yang membuat seseorang semakin pandai menilai orang lain, tetapi ilmu yang membuatnya semakin mampu menilai dan memperbaiki dirinya sendiri. Ada lho... orang yang semakin banyak ilmunya justru semakin mudah merendahkan orang lain. Ia mengetahui banyak hal, tetapi sulit menghargai. Ia pandai berargumentasi, tetapi tidak pandai menjaga perasaan. Ia mampu membuktikan kesalahan orang lain, tetapi sulit mengakui kesalahannya sendiri. Ini adalah tanda bahwa ilmu belum sepenuhnya menjadi akhlak. Sebab ilmu yang berkah seharusnya melahirkan akhlaq al-karimah.
Semakin seseorang mengetahui luasnya ilmu Allah, semakin ia sadar betapa sedikit pengetahuannya. Semakin banyak membaca, semakin ia menemukan bahwa masih begitu banyak yang belum diketahuinya. Semakin memahami kehidupan, semakin ia berhati-hati dalam menghakimi.
Ilmu membuatnya rendah hati, bukan rendah diri; lembut, bukan lemah; tegas, tetapi tidak kasar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad). Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ujung dari ilmu adalah akhlak.
Apa gunanya ilmu atau kita mengetahui tentang kejujuran jika kita masih berdusta? Apa gunanya ilmu tentang amanah jika kita masih mengkhianati kepercayaan? Apa gunanya ilmu tentang sedekah jika hati kita masih kikir? Apa gunanya ilmu tentang ukhuwah jika lisan kita gemar mencela? Apa gunanya ilmu tentang kesabaran jika sedikit perbedaan membuat kita mudah marah? Ya, ilmu harus turun dari kepala ke hati, dari hati ke perilaku, dan dari perilaku menjadi karakter.
Kita mengetahui bahwa sabar itu baik, maka kita berikhtiar menjadi sabar. Kita mengetahui bahwa jujur itu wajib maka kitapun jujur dalam keadaan apa pun. Kita mengetahui bahwa memaafkan itu mulia maka kita terus belajar memaafkan. Kita mengetahui bahwa rendah hati itu indah maka kita berikhtiar untuk tidak merasa lebih tinggi karena rupa, ilmu, jabatan, harta atau keluarga. Dan kita mengetahui bahwa Rasulullah adalah teladan terbaik maka kita berikhtiar menghadirkan akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Dan saudaraku, ternyata akhlak itu justru paling nyata ketika kita berada dalam situasi yang tidak menyenangkan. Ketika dihina, bagaimana kita bersikap? Ketika dikritik, bagaimana kita menjawab? Ketika berbeda pendapat, bagaimana kita berbicara? Ketika memiliki kekuasaan, bagaimana kita memperlakukan yang lemah? Ketika memiliki ilmu, bagaimana kita memperlakukan orang yang belum tahu?
Di situlah ilmu diuji. Orang berilmu bukan orang yang tidak pernah marah, tetapi orang yang tahu bagaimana mengendalikan marahnya. Dan tentu, berilmu ukan orang yang tidak pernah kecewa, tetapi orang yang tahu bagaimana mengelola kecewanya. Bukan orang yang tidak pernah berbeda pendapat, tetapi orang yang mampu berbeda tanpa kehilangan adab.
Nah kini kita layak bertanya dalam diri. Setelah bertahun-tahun belajar, bersekolah, kuliah, dan membaca, apakah akhlak kita semakin baik? Apakah keluarga merasa lebih nyaman berada di dekat kita? Apakah murid dan mahasiswa kita merasa dihargai oleh kita? Apakah orang yang berbeda pendapat dengan kita tetap merasa aman berbicara? Apakah ilmu membuat kita semakin mudah memaafkan? Apakah ilmu membuat kita semakin rendah hati? Sebab bisa jadi orang lain tidak membutuhkan kita lantaran banyaknya ilmu yang kita miliki; mereka justru membutuhkan kita lantaran indahnya akhlak yang lahir dari ilmu itu.
Semoga ilmu yang kita miliki tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi amal yang istiqamah dan akhirnya menjadikan kita manusia yang berakhlak mulia. Bahagia berilmu adalah ketika orang lain tidak hanya kagum kepada kecerdasan kita, tetapi merasa teduh, aman, dan dimuliakan oleh akhlak kita. Aamiin