Bahagia Suka Beramal Shalih

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.078
Jumat, 1 Rabiul Awal 1448

Bahagia Suka Beramal Shalih
Saudaraku, ada seorang alim yang bertahun-tahun menuntut ilmu, ia membaca banyak kitab, menghafal banyak dalil, menghadiri berbagai majelis, dan berdiskusi tentang berbagai persoalan agama, sehingga pengetahuannya luas dan wawasannya dalam. Pada suatu hari, seseorang bertanya kepadanya, “Tuan apa tanda bahwa ilmu yang kita miliki telah menjadi ilmu yang bermanfaat?” Orang alim tadi menjawab dengan sederhana: “Ketika ilmu itu mulai terlihat dalam amal shalih dan akhlaq al-karimah kita.”

Sebuah jawaban sederhana, tetapi sangat dalam. Sebab ilmu yang hanya memenuhi kepala belum tentu menerangi kehidupan. Ilmu baru benar-benar menjadi cahaya ketika ia turun ke hati, menggerakkan anggota badan, lalu tampak dalam perilaku. Di sinilah kita menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Ya, bahagia bukan hanya karena berilmu, tetapi bahagia ketika ilmu itu menjadi amaliyah. Jadi ilmu berbuah amal shalih.

Allah Swt. berfirman:  “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besar kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”
(QS. Ash-Shaff [61]: 2–3). Ayat ini mengingatkan bahwa dalam Islam terdapat hubungan yang sangat erat antara apa yang diketahui, apa yang dikatakan, dan apa yang dilakukan.

Ilmu tidak boleh berhenti menjadi pengetahuan. Ilmu harus memperkukuh iman. Iman harus mewujud dalam amal. Dan amal harus menjadi akhlak kehidupan. Karena itu, semakin seseorang berilmu, semakin panjang gelarnya semestinya semakin banyak pula kebaikan yang tampak dalam kehidupannya.

Di samping itu, ilmu harus medesain diri menjadi lebih baik. Kita mengetahui bahwa kejujuran adalah kebaikan. Maka ilmu itu seharusnya menjadikan kita lebih jujur. Kita mengetahui bahwa amanah adalah kewajiban. Maka ilmu itu seharusnya menjadikan kita lebih amanah. Kita mengetahui bahwa ghibah adalah dosa. Maka ilmu itu seharusnya membuat kita lebih berhati-hati menjaga lisan. Kita mengetahui bahwa sedekah memiliki keutamaan. Maka ilmu itu seharusnya menggerakkan tangan untuk memberi. Kita mengetahui bahwa shalat adalah kewajiban. Maka ilmu itu seharusnya membuat kita semakin menjaga shalat.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan ilmu bukan hanya berapa banyak yang kita ketahui, tetapi berapa banyak kebaikan yang lahir dari pengetahuan tersebut. Dari kebaikan itulah kebahagiaan membuncah. Bahagia berilmu bisa amaliyah.

Istilah amaliyah mengandung makna bahwa ilmu tidak berhenti sebagai teori, tetapi diwujudkan dalam praktik. Ilmu tentang sabar menjadi kesabaran. Ilmu tentang syukur menjadi kesyukuran. Ilmu tentang tawakal menjadi ketenangan hati. Ilmu tentang ikhlas menjadi amal yang tidak bergantung kepada pujian manusia. Ilmu tentang kasih sayang menjadi kepedulian. Ilmu tentang persaudaraan menjadi sikap saling menjaga. Maka ilmu yang amaliyah adalah ilmu yang hidup dalam diri. Ia tidak selalu banyak berbicara tentang dirinya, tetapi cukup memvasilitasi orang lain dapat merasakan buahnya. 

Kini kita telah berada di bulan Rabiul Awal, dimana Rabiul Awal membawa kita kepada sosok manusia agung yang seluruh hidup dan kehidupannya merupakan perwujudan wahyu dan ilmu. Allah Swt. berfirman: “Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.” (QS. Al-Ahzab 21)

Rasulullah bukan hanya mengajarkan kebaikan, tetapi menghidupkan kebaikan itu dalam dirinya. Beliau mengajarkan kejujuran dan beliau adalah al-Amin. Beliau mengajarkan kasih sayang dan beliau menjadi rahmat bagi manusia. Beliau mengajarkan kesabaran dan beliau memperlihatkan kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian. Beliau mengajarkan kedermawanan dan beliau adalah manusia yang paling dermawan. Beliau mengajarkan pemaafan dan beliau memaafkan orang-orang yang menyakitinya. Ya, beliau itu al-Qur'an berjalan.

Karena itu, ketika kita memperingati Maulid Nabi, jangan berhenti pada kegembiraan memperingati kelahiran beliau. Pertanyaan yang lebih penting adalah: seberapa jauh ilmu tentang Rasulullah telah menjadi amal dalam kehidupan kita? Bahkan kita juga mengaku mencintai Rasulullah, kita membaca shalawat, kita mengenang sirah beliau, kita mempelajari hadis beliau. Tentu semua ini merupakan kebaikan. Tetapi cinta yang sejati seharusnya melahirkan ittiba', mengikuti beliau. Allah Swt. berfirman, Katakanlah: Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.” (QS. Ali 'Imran [3]: 31). Ayat ini memberikan ukuran yang jelas. Cinta kepada Allah dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama