Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.049
Kamis, 1 Safar 1448
Bahagia Mencintai Ilmu
Saudaraku, diceritakan pada suatu hari, Rasulullah saat memasuki Masjid Nabawi melihat dua halaqah. Halaqah pertama dipenuhi orang-orang yang berdoa dan berzikir kepada Allah dan halaqah kedua dipenuhi orang-orang yang sedang belajar dan mengajarkan ilmu. Rasulullah memandang keduanya dengan penuh penghargaan, lalu bersabda, "Mereka semua berada dalam kebaikan." Namun kemudian beliau memilih duduk bersama majelis ilmu seraya bersabda, "Sesungguhnya aku diutus sebagai seorang pendidik (mu'allim)." (HR. Ibnu Majah, dengan makna yang juga diriwayatkan dalam beberapa kitab hadis). Peristiwa ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari misi kenabian. Rasulullah ingin menegaskan bahwa membangun manusia dimulai dengan membangun ilmunya.
Saudaraku, setelah sebulan penuh pada Muharam kita berhijrah memperkokoh tauhid dan iman, kini perjalanan ruhani kita memasuki bulan Safar dengan tema ilmu dan hikmah. Hal ini sangat selaras dengan perjalanan Islam. Setelah hati dipenuhi iman, Allah menghendaki akal dipenuhi cahaya ilmu. Sebab iman memberikan arah, sedangkan ilmu menunjukkan jalan. Iman menyalakan cahaya di dalam hati, sedangkan ilmu menerangi langkah kehidupan. Keduanya laksana dua sayap yang mengangkat seorang mukmin menuju kedekatan dengan Allah.
Muhasabah pertama bulan Safar ini mengajak kita merenungkan bahwa mencintai ilmu adalah salah satu tanda mencintai Allah. Mengapa? Karena Allah memperkenalkan diri-Nya melalui ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah yang terbentang di alam semesta. Maka setiap pengetahuan yang benar baik yang bersunber dari ayat-ayat qsuliyah maupun ayat-ayat kauniyah sejatinya membawa manusia semakin tahu dan mengenal kebesaran Penciptanya. Semakin luas cakrawala ilmu seseorang, seharusnya semakin dalam pula rasa takutnya kepada Allah. Itulah sebabnya Al-Qur'an menegaskan, "Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah para ulama." (QS. Fathir: 28). Ilmu yang benar tidak melahirkan kesombongan, melainkan ketundukan.
Secara filosofis, manusia diciptakan dengan dua anugerah besar: hati untuk beriman dan akal untuk memahami. Hati tanpa dibarengi ilmu dapat terjebak dalam fanatisme yang buta, sedangkan ilmu tanpa hati dapat berubah menjadi kesombongan bahkan kebablasan. Karena itu, Allah memuliakan manusia bukan hanya karena mampu berpikir, tetapi karena mampu menggunakan pikirannya untuk mengenal Rabb-nya. Hakikat ilmu dalam Islam bukanlah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya, melainkan mengantarkan manusia dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi sadar, dari sadar menjadi bijaksana, dan dari bijaksana menjadi semakin dekat kepada Allah Rabbuna.
Sayangnya, pada zaman ini ilmu sering dicari demi gelar, jabatan, pengaruh, atau keuntungan materi lainnya. Tidak sedikit yang belajar agar dipuji, berdebat agar menang, atau menulis agar terkenal. Padahal ilmu yang kehilangan Allah sebagai tujuannya akan kehilangan keberkahannya. Sebaliknya, ilmu yang dipelajari karena Allah akan menjadi cahaya yang menerangi pemiliknya dan manfaat yang terus mengalir kepada orang lain. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin rendah hatinya; semakin banyak yang diketahuinya, semakin ia menyadari betapa luas ilmu Allah yang belum diketahuinya.
Semangat perubahan pada bulan Safar ini adalah berhijrah dari mencintai hasil menuju mencintai proses belajar, dari belajar demi dunia menuju belajar demi ridha Allah. Seorang mukmin tidak pernah berhenti menjadi penuntut ilmu, karena setiap hari adalah kesempatan untuk lebih mengenal Rabb-nya. Selama nafas masih berhembus, selama itu pula ia akan terus membaca, merenung, bertanya, meneliti, dan mengambil hikmah. Baginya, belajar bukan beban, melainkan ibadah; bukan kewajiban yang dipaksakan, melainkan kerinduan yang menyenangkan.
Maka layak kita bermuhasabah, bertanya kepada diri sendiri. Apakah selama ini kita benar-benar mencintai ilmu, atau hanya mencintai pengakuan sebagai orang yang berilmu? Apakah buku-buku yang kita baca semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru membuat kita merasa lebih hebat daripada orang lain? Apakah ilmu telah melahirkan akhlak yang mulia, atau hanya menambah perdebatan tanpa keteladanan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang perlu dijawab dengan kejujuran, karena ukuran keberhasilan ilmu bukan seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan seberapa besar ilmu itu mengubah diri kita menjadi hamba yang lebih taat.
Mari kita berdoa, Ya Allah, tanamkanlah dalam hati kami cinta yang tulus kepada ilmu yang bermanfaat. Jadikan setiap bacaan menambah keimanan kami, setiap pelajaran menambah ketakwaan kami, setiap penelitian memperkuat keyakinan kami, dan setiap ilmu yang Engkau anugerahkan menjadi jalan untuk semakin mengenal-Mu. Jangan Engkau jadikan ilmu sebagai sebab kesombongan kami, tetapi jadikanlah ia sebagai cahaya yang membimbing langkah kami hingga berjumpa dengan-Mu dalam keadaan Engkau ridha kepada kami. Aamiin