Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.050
Jumat, 2 Safar 1448
Bahagia Lillah dalam Menuntut Ilmu
Saudaraku, pada awal periode Madinah, di samping membangun pasar, Rasulullah membangun tiga fondasi utama masyarakat Islam: masjid sebagai pusat ibadah, ukhuwah sebagai perekat sosial, dan majelis ilmu sebagai pusat pembinaan umat.
Dalam hal pentingnya umat Islam menguasai ilmu, di serambi Masjid Nabawi tinggal sekelompok sahabat yang dikenal sebagai Ahlus Suffah. Mereka berasal dari berbagai kabilah, hidup dalam kesederhanaan, bahkan sering kali "puasa", menahan lapar. Namun mereka memilih tetap berada di sisi Rasulullah untuk belajar Al-Qur'an, nasihat beliau, dan hikmah kehidupan. Mereka tidak datang untuk mencari kedudukan, kekayaan, apalagi berharap pujian. Mereka datang karena satu niat yakni mencari ilmu yang dapat mendekatkan diri kepada Allah. Dari kelompok kecil inilah lahir para ulama, guru, dan dai yang kemudian menyebarkan cahaya Islam ke berbagai penjuru dunia.
Muhasabah kemarin mengajak kita mencintai ilmu karena Allah. Namun cinta saja belum cukup. Hari ini kita diajak merenungkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu niat dalam menuntut ilmu. Sebab arah perjalanan ditentukan bukan hanya oleh langkah pertama saja, tetapi juga oleh tujuan yang hendak dicapai. Dua orang dapat mempelajari kitab yang sama, berguru kepada ulama yang sama, bahkan memperoleh gelar yang sama, tetapi nilainya di sisi Allah bisa sangat berbeda karena niat yang bersemayam di dalam hati mereka.
Secara filosofis, niat adalah kompas ilmu. Ilmu ibarat kapal yang mampu mengarungi lautan kehidupan, tetapi niat adalah kompas yang menentukan ke mana kapal itu akan berlayar. Kapal tanpa kompas dapat bergerak cepat, tetapi kehilangan arah. Demikian pula ilmu tanpa niat yang benar dapat menghasilkan kecerdasan, tetapi tidak melahirkan kebijaksanaan. Semakin luas ilmu seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk menjaga kemurnian niatnya. Sebab ilmu yang tidak diarahkan kepada Allah dapat berubah menjadi alat kesombongan, persaingan, bahkan penindasan.
Islam mengingatkan dengan sangat tegas bahwa ada orang yang mempelajari ilmu agar dipandang sebagai orang alim, agar dipuji kefasihannya, atau agar memperoleh keuntungan dunia. Ilmu seperti itu mungkin meninggikan nama seseorang di hadapan manusia, tetapi tidak di sisi Allah, sehingga ada keberkahan melalui ilnunya. Sebaliknya, orang yang belajar dengan ikhlas, meskipun tidak dikenal banyak orang, justru memperoleh keberkahan yang jauh lebih besar. Allah tidak menghitung seberapa banyak ilmu yang kita kuasai saja, tetapi seberapa lurus hati ketika mencarinya.
Hijrah ilmu pada bulan Safar adalah berhijrah dari ambisi menuju ketudukan. Kita belajar bukan untuk mengalahkan orang lain dalam perdebatan, melainkan untuk mengalahkan kebodohan dalam diri sendiri. Kita membaca bukan agar disebut cerdas, tetapi agar semakin memahami kehendak Allah. Kita menulis bukan demi popularitas, tetapi agar ilmu menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Ketika niat telah lurus, ruang kelas berubah menjadi tempat ibadah, perpustakaan menjadi taman dzikir, dan setiap lembar buku menjadi jalan menuju ridha Allah.
Maka sudah sepantasnya kita bermuhasabah. Untuk apa selama ini kita belajar? Untuk apa kita mengejar gelar, membaca buku, menghadiri seminar, atau menulis karya ilmiah? Apakah semuanya benar-benar diniatkan untuk mencari keridaan Allah dan memberi manfaat kepada sesama? Ataukah tanpa disadari kita lebih sibuk membangun reputasi daripada membangun keikhlasan? Hati yang jujur akan menemukan jawabannya sendiri.
Kita memohpn ya Allah, luruskanlah niat kami dalam menuntut ilmu. Jauhkan kami dari keinginan mencari kemasyhuran, pujian, dan kebanggaan diri. Jadikan setiap ilmu yang kami pelajari sebagai jalan untuk semakin mengenal-Mu, semakin mencintai-Mu, dan semakin bermanfaat bagi sesama. Anugerahkan kepada kami hati yang ikhlas, akal yang jernih, dan amal yang Engkau terima. Aamiin