Bahagia Menjadi Hamba yang Bersyukur

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.048
Rabu, 30 Muharam 1448

Bahagia Menjadi Hamba yang Bersyukur
Saudaraku, muhasabah selama bulan Muharam yang telah kita lalui sesungguhnya adalah perjalanan hijrah menuju Allah. Muhasabah ke-1 mengajak kita hijrah bertauhid dengan murni, kemudian berturut-turut pada ke-2 hingga ke-5 kita diajak lebih mengenal Allah, meyakini keagungan-Nya, menjadikan-Nya tujuan hidup, dan bergantung hanya kepada-Nya. 

Selanjutnya pada muhasabah ke-6 hingga ke-10, kita belajar merasa lebih diawasi Allah, merasakan kehadiran-Nya, mempercayai janji-Nya, beriman kepada takdir-Nya, dan menyandarkan hati hanya kepada-Nya. Semua itu adalah fondasi hijrah yang sesungguhnya. Sebab hijrah bukan pertama-tama berpindah tempat, melainkan berpindah orientasi hidup: dari bergantung kepada makhluk menuju bergantung sepenuhnya kepada Allah.

Di atas fondasi tauhid itu, muhasabah ke-11 hingga ke-15 mengajarkan kita memprioritaskan Allah, mengagungkan-Nya, menjaga kemurnian akidah, menolak kemusyrikan sekecil apapun, dan menjadikan Allah sebagai satu-satunya Penolong. Kemudian pada muhasabah  ke-16 hingga ke-20, kita diajak menjadikan Allah sebagai Pelindung, tempat mengadu, tempat berharap, memperkuat keyakinan, hingga menyadari bahwa keimanan akan selalu diuji. Di sinilah kita belajar bahwa iman bukan sekadar keyakinan yang diucapkan, tetapi keteguhan yang dibuktikan. Semakin tinggi pohon keimanan, semakin besar pula angin ujian yang akan menerpanya. Namun justru melalui ujian itulah akar iman semakin menghunjam ke dalam.

Setelah iman bertumbuhkembang, muhasabah ke-21 hingga ke-25 membawa kita kepada tahap pendewasaan ruhani: menikmati manisnya iman, menjaga cahaya iman, merefleksikan iman dalam amal saleh, istiqamah dalam kesalihan, dan menjalani hidup dengan ikhlas. Inilah fase ketika iman tidak lagi berhenti sebagai pengetahuan atau perasaan, tetapi menjelma menjadi akhlak dan karya. Sebab hakikat iman bukan hanya apa yang diyakini dalam hati, tetapi apa yang tercermin dalam perilaku. Amal saleh adalah bahasa yang dipahami oleh dunia, sedangkan keikhlasan adalah bahasa yang hanya dipahami oleh Allah.

Puncak perjalanan berikutnya tampak pada muhasabah ke-26 hingga ke-29. Kita diajak menjadikan iman sebagai kompas hidup, menjadi hamba yang ulul albab, menjadi hamba yang 'ibadurrahman, dan akhirnya menjadi hamba yang rabbani. Inilah tangga-tangga kematangan spiritual. Ulul albab memadukan dzikir dan pikir, 'ibadurrahman memancarkan kasih sayang dalam akhlak, sedangkan hamba rabbani menjadikan Allah sebagai pusat seluruh ilmu, amal, dan pengabdiannya. Semakin dekat seorang hamba kepada Allah, semakin rendah hatinya di hadapan manusia, semakin luas manfaatnya bagi sesama, dan semakin kecil keinginannya untuk dipuji.

Kini sampailah kita pada muhasabah ke-30, yaitu Bahagia Menjadi Hamba yang Bersyukur. Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah, tetapi kemampuan membaca seluruh perjalanan hidup sebagai rangkaian nikmat Allah. Kita bersyukur atas hidayah tauhid, atas kesempatan berhijrah, atas nikmat iman, atas ujian yang menguatkan, atas ilmu yang menerangi, atas amal yang Allah mudahkan, bahkan atas air mata taubat yang membersihkan jiwa. Orang yang bersyukur memahami bahwa tidak ada satu pun langkah hijrah yang berhasil ditempuh tanpa pertolongan Allah. Karena itu, semakin tinggi maqam seorang hamba, semakin besar pula rasa syukurnya.

Akhirnya, perjalanan tiga puluh hari selama Muharam ini sesungguhnya bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan sebelas bulan berikutnya. Hijrah yang telah dimulai harus terus dijaga, iman yang telah tumbuh harus terus dipelihara, dan syukur yang telah bersemi harus terus dihidupkan. Sebab hamba yang bersyukur adalah hamba yang tidak pernah berhenti belajar mengenal Allah, tidak pernah berhenti memperbaiki diri, dan tidak pernah berhenti menghadirkan manfaat bagi sesama. Semoga seluruh muhasabah ini menjadi tangga yang mengantarkan kita kepada satu cita-cita tertinggi: menjadi hamba yang hidup dalam syukur, wafat dalam iman, dan dibangkitkan dalam ridha Allah ta'ala. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama