Bahagia Menjadikan Allah sebagai Pelindung

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.034
Rabu, 16 Muharam 1448

Bahagia Menjadikan Allah Sebagai Pelindung
Saudaraku, dikisahkan bahwa setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah dan kaum muslimin masih menghadapi ancaman, bahkan datang silih berganti. Kaum Quraisy dari Makkah, kelompok munafik di Madinah, dan berbagai kabilah Arab berusaha menghentikan dakwah Islam. Salah satu ujian terberat pun terjadi. Lebih dari sepuluh ribu pasukan sekutu mengepung Madinah, sementara kaum muslimin hanya berjumlah sekitar tiga ribu orang. Secara logika, peluang bertahan sangat kecil. 

Atas usul Salman al-Farisi, Rasulullah memerintahkan penggalian parit sebagai benteng pertahanan. Kaum muslimin bekerja keras menggali parit di tengah udara yang sangat dingin, persediaan makanan yang sedikit, dan ancaman yang semakin dekat. Mereka berikhtiar sekuat tenaga, tetapi mereka sadar bahwa parit bukanlah pelindung yang sesungguhnya. Pelindung sejati adalah Allah. Maka ketika semua sebab telah dilakukan, kaum muslimin bertawakal dan benar kiranya Allah mengirim angin kencang yang memorak-porandakan perkemahan musuh hingga mereka mundur tanpa mampu menaklukkan Madinah.

Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadikan Allah sebagai penolong, maka hari ini kita diajak melangkah lebih dalam, yaitu menjadikan Allah sebagai pelindung. Penolong adalah Allah yang memberi kekuatan ketika kita menghadapi kesulitan, sedangkan Pelindung adalah Allah yang menjaga kita bahkan dari bahaya yang sering kali tidak kita sadari.

Secara filosofis, manusia hidup dalam keterbatasan. Kita dapat mengunci pintu rumah, tetapi tidak dapat mengunci ketetapanNya. Kita dapat menjaga kesehatan, tetapi tidak dapat menjamin umur panjang. Kita dapat merencanakan masa depan, tetapi tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi esok hari. Kesadaran akan keterbatasan ini bukan untuk melemahkan manusia, melainkan untuk mengajarkannya bahwa hanya Allah yang memiliki perlindungan yang sempurna.

Karena itu, seorang mukmin tidak pernah hidup dalam rasa aman yang semu. Ia tetap membangun rumah yang kokoh, menjaga kesehatan, berhati-hati dalam bertindak, dan merencanakan kehidupannya dengan baik. Namun jauh di dalam hatinya, ia meyakini bahwa benteng terkuat bukanlah tembok, harta, jabatan, atau teknologi. Benteng terkuat adalah perlindungan Allah.

Hijrah mengajarkan pelajaran itu. Rasulullah tidak hanya berdoa agar dilindungi, tetapi juga menempuh seluruh ikhtiar yang diperintahkan Allah. Beliau menyusun strategi, memilih sahabat perjalanan, menggunakan penunjuk jalan, dan bersembunyi di Gua Tsur. Namun setelah semua usaha dilakukan, hati beliau tetap bergantung kepada Allah, Sang Pelindung Yang Maha Perkasa.

Semangat hijrah pada bulan Muharam mengajak kita berhijrah dari rasa aman yang bertumpu pada dunia menuju rasa aman yang bertumpu kepada Allah. Betapa banyak manusia yang merasa aman karena kekayaannya, padahal harta dapat hilang. Betapa banyak yang merasa aman karena kekuasaannya, padahal kekuasaan dapat berpindah. Betapa banyak yang merasa aman karena kesehatannya, padahal kesehatan dapat berubah dalam sekejap. Hanya perlindungan Allah yang tidak pernah berkurang dan tidak pernah salah.

Mungkin selama ini kita lebih rajin mengamankan kehidupan dunia daripada menjaga hubungan dengan Allah. Kita memasang berbagai sistem keamanan di rumah, tetapi lalai menjaga shalat. Kita mengasuransikan harta, tetapi lupa memperbanyak doa, dzikir dan berbagi. Padahal perlindungan lahir hanya bekerja pada batas tertentu, sedangkan perlindungan Allah meliputi seluruh kehidupan, lahir maupun batin.

Maka kita layak memohon. Ya Allah, Engkaulah Pelindung kami di dunia dan di akhirat. Lindungilah iman kami dari keraguan, lindungilah hati kami dari kesombongan, lindungilah keluarga kami dari fitnah zaman, dan lindungilah langkah hijrah kami agar tetap berada di jalan-Mu. Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami sendiri walau hanya sekejap mata. Aamiin


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama