Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.032
Senin, Ayamul Bidh Hari Putih Ke-2, 14 Muharam 1448
Bahagia Membersihkan Syirik
Saudaraku, ketika Rasulullah berhasil menaklukkan Makkah (fathu makkah) beberapa tahun setelah hijrah, beliau dan para sahabat memasuki Masjidil Haram dengan penuh syukur. Di sekitar Ka'bah saat itu masih berdiri ratusan berhala yang selama ini disembah oleh kaum Quraisy, Rasulullah dan kaum muslimin menghancurkan berhala-berhala itu satu demi satu sambil membaca firman Allah, "Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap." Peristiwa itu bukan sekadar penghancuran patung, tetapi simbol pembersihan hati manusia dari segala bentuk kemusyrikan.
Hijrah yang dimulai dari Makkah menuju Madinah pada tahun 622 M akhirnya dengan ijin Allah, Makkah pun direngkuh kembali sehingga penduduknya kembali kepada tauhid. Seolah-olah Allah mengajarkan bahwa tujuan akhir hijrah adalah membersihkan kehidupan dari segala sesuatu yang yang dapat memalingkan manusia dari Allah, Rabb-Nya.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjaga kemurnian akidah, maka hari ini kita diajak bersyukur menjaga kemurnian hati dengan menolak kemusyrikan hati. Sebab syirik yang paling berbahaya sering kali bukan yang tampak dalam bentuk patung, melainkan yang tersembunyi di dalam hati.
Secara filosofis, hati manusia memiliki kecenderungan untuk "mendewakan" sesuatu. Ada yang mendewakan harta hingga menghalalkan segala cara. Ada yang mendewakan jabatan hingga melupakan kejujuran. Ada yang mendewakan popularitas hingga kehilangan keikhlasan. Bahkan ada yang mendewakan dirinya sendiri sehingga merasa paling benar dan paling hebat. Semua itu adalah bentuk-bentuk "berhala modern" yang perlahan menggeser Allah dari singgasana hati.
Padahal tauhid mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak menjadi pusat cinta, pusat harapan, pusat ketakutan (pada siksaNya), dan pusat penghambaan. Semua selain Allah hanyalah sarana, bukan tujuan. Ketika hati mulai bergantung secara mutlak kepada selain Allah, saat itulah kemurnian tauhid mulai ternoda.
Semangat hijrah di bulan Muharam ini mengajak kita melakukan hijrah yang paling mendasar, yaitu hijrah membersihkan hati. Berhijrah dari riya menuju ikhlas. Berhijrah dari ujub menuju tawaduk. Berhijrah dari ketergantungan kepada makhluk menuju ketergantungan kepada Allah. Inilah hijrah yang tidak terlihat oleh manusia, tetapi sangat bernilai di sisi Allah.
Kita juga layak bertanya kepada diri sendiri: adakah "berhala" yang masih bersemayam di dalam hati kita? Apakah kita lebih takut kehilangan dunia daripada kehilangan ridha Allah? Apakah kita lebih sibuk mencari penilaian manusia daripada penilaian Allah? Maka kita berdoa Ya Allah, bersihkan hati kami dari segala bentuk kemusyrikan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi. Jangan biarkan ada sesuatu yang mengambil tempat-Mu di dalam hati kami. Jadikan tahun hijriah ini sebagai momentum hijrah untuk memurnikan cinta, harapan, dan penghambaan kami hanya kepada-Mu. Sebab kebahagiaan sejati bukan hanya ketika berhala hancur di sekitar kita, tetapi ketika seluruh "berhala hati" bersih dihilangkan, sehingga yang tersisa hanyalah Allah sebagai satu-satunya tujuan, sandaran, dan kecintaan dalam hidup kita. Aamiin