Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.035
Kamis, 17 Muharam 1448
Bahagia Mengadu pada Allah
Saudaraku, di antara peristiwa yang paling mengharukan setelah hijrah adalah wafatnya putra Rasulullah. Ibrahim masih kecil ketika dipanggil kembali oleh Allah. Rasulullah menggendong putranya, menciumnya dengan penuh kasih sayang, sementara air mata beliau mengalir membasahi pipinya. Tentu, secara manusiawi, beliau juga sedih.
Melihat Rasulullah menangis, sebagian sahabat merasa heran. Bukankah beliau adalah manusia yang paling sabar? Gumam mereka. Rasulullah kemudian bersabda bahwa mata boleh menangis dan hati boleh bersedih, tetapi lisan tidak boleh mengucapkan sesuatu yang membuat Allah murka. Beliau menerima takdir itu dengan penuh kerelaan, lalu mengembalikan seluruh pengaduannya hanya kepada Allah.
Peristiwa itu mengajarkan bahwa menjadi orang beriman bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi orang bertakwa bukan berarti tidak pernah merasa sedih. Islam tidak melarang air mata. Islam hanya mengajarkan agar kesedihan tidak menjauhkan kita dari Allah, tetapi justru mendekatkan kita kepada-Nya.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadikan Allah sebagai Pelindung, maka hari ini kita diajak menjadikan Allah sebagai Tempat Mengadu. Sebab orang yang merasa berada dalam perlindungan Allah akan selalu merasa memiliki tempat untuk kembali ketika hatinya lelah. Perlindungan Allah menjaga kehidupan kita, sedangkan tempat mengadu kepada Allah menenangkan jiwa kita.
Secara filosofis, setiap manusia memikul beban yang tidak selalu mampu dipahaminya, apalagi oleh orang lain. Ada luka yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Ada kegelisahan yang tidak sanggup dipikul oleh sahabat terdekat. Ada air mata yang hanya diketahui oleh pemiliknya. Karena itulah manusia membutuhkan tempat dan kepada siapa harus mengadu, zat yang tidak pernah bosan mendengar, tidak pernah salah memahami, dan tidak pernah membuka aib hamba-Nya, yakni hanya pada Allah.
Sering kali kita lebih mudah mengadu kepada manusia daripada kepada Allah. Kita mencari sahabat yang mau mendengar, padahal Allah telah mendengar sebelum kita berbicara. Kita mencari orang yang memahami, padahal Allah lebih memahami isi hati daripada diri kita sendiri. Kita berharap manusia menyelesaikan persoalan kita, padahal hanya Allah yang memiliki seluruh kunci penyelesaian.
Nabi pernah bersabda, "Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku." Kalimat itu bukan tanda kelemahan, melainkan puncak kekuatan iman. Ketika semua pintu terasa tertutup, pintu Allah tetap terbuka. Ketika semua manusia tidak mampu menolong, Allah tetap mampu mengubah keadaan dalam sekejap.
Semangat hijrah pada bulan Muharam ini mengajak kita berhijrah dari kebiasaan mengeluh kepada manusia menuju kebiasaan bermunajat kepada Allah. Bukan berarti kita tidak boleh meminta nasihat atau bantuan kepada sesama. Namun sebelum mencari solusi kepada manusia, hati terlebih dahulu mengetuk pintu langit. Sebab doa adalah bentuk pengakuan bahwa kita lemah, sedangkan Allah Mahakuasa.
Betapa banyak persoalan hidup yang menjadi ringan bukan karena masalahnya hilang, tetapi karena hati telah mengadukannya kepada Allah. Ketika hati selesai bermunajat, beban yang sama terasa lebih ringan. Jalan yang sama terasa lebih lapang. Air mata yang sama berubah menjadi sumber kekuatan. Itulah keajaiban seorang hamba yang memiliki Allah sebagai tempat mengadu.l
Sebab orang yang memiliki Allah sebagai tempat mengadu tidak pernah benar-benar kehabisan harapan. Dunia boleh menutup seribu pintu, tetapi Allah selalu membuka satu pintu yang tidak pernah tertutup: pintu doa, pintu rahmat, dan pintu kasih sayang-Nya.Semoga muhasabah ini menjadi jembatan yang indah dari tema "Allah sebagai Pelindung" menuju "Allah sebagai Tempat Mengadu", sekaligus memperkuat semangat hijrah batin: berpindah dari bergantung kepada makhluk menuju bersandar sepenuhnya kepada Allah.
Tags:
Muhasabah Harin Ke-4.035