Bahagia saat Berilmu Bisa Berkah Memberkahi

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.064
Uroe Raya Jumat, 16 Safar 1448

Bahagia saat Berilmu Bisa Berkah Memberkahi
Saudaraku, pada awal abad ke-9 M, di kota Baghdad Irak sekarang, pernah berdiri sebuah pusat peradaban ilmu yang dikenang sepanjang sejarah Islam, yaitu Baitul Hikmah. Pada masa Khalifah Al-Ma'mun, tempat ini bukan sekadar perpustakaan, tempat menyimpan buku atau manuskrip, melainkan pusat penerjemahan, penelitian, diskusi, dan pengembangan ilmu pengetahuan. Para ulama, ahli fikih, dokter, astronom, matematikawan, dan filsuf sering berkumpul untuk saling belajar dan saling menguatkan.

Di antara tokoh yang menonjol adalah Hunayn ibn Ishaq, seorang ilmuwan dan penerjemah ulung. Ia tidak menyimpan ilmunya hanya untuk dirinya sendiri. Ratusan karya diterjemahkannya, diajarkannya kepada murid-muridnya, dan diwariskannya kepada generasi setelahnya. Berabad-abad kemudian, ia telah lama meninggal, tetapi manfaat ilmunya masih mengalir. Inilah hakikat ilmu yang diberkahi: usianya lebih panjang daripada usia pemiliknya. Keberkahannya melintasi batas-batas teritorial dan masa.

Muhasabah-muhasabah sebelumnya mengajarkan bahwa ilmu harus melahirkan amal, rasa takut kepada Allah (khasyyah), kerendahan hati, dan hikmah. Hari ini kita diajak menyadari bahwa puncak dari semuanya adalah keberkahan ilmu. Ilmu yang berkah memiliki dua arah sekaligus. Pertama, ia menjadi berkah bagi pemiliknya ketika diamalkan. Kedua, ia menjadi berkah bagi sesama ketika diajarkan. Kedua-duanya tidak dapat dipisahkan. Berkah internal itu, ilnunya nemvasilitasi ilmu lainnya sehingga ras bahagianya semakin terasa.

Di samping itu, ilmu itu ibarat cahaya. Ketika cahaya itu menerangi diri sendiri, ia menjadi petunjuk yang menyelamatkan langkah pemiliknya dari kesesatan. Inilah keberkahan pertama. Orang yang mengamalkan ilmunya akan merasakan ketenangan hati, kejernihan berpikir, kemudahan dalam mengambil keputusan, dan pertolongan Allah dalam kehidupannya. Ilmu tidak lagi sekadar memenuhi akal, tetapi membentuk akhlak dan menyucikan jiwa. Semakin diamalkan, semakin Allah tambahkan keberkahannya. Sebagaimana pohon yang dirawat akan semakin kokoh dan berbuah, demikian pula ilmu yang diwujudkan dalam amal akan terus bertumbuh menjadi cahaya bagi kehidupan.

Dan realitasnya cahaya tidak diciptakan hanya untuk menerangi dirinya sendiri. Ia juga menerangi sekitarnya. Inilah keberkahan kedua, yaitu ketika ilmu diajarkan. Ilmu yang dibagikan tidak akan berkurang, justru akan semakin bertambah nilainya. Guru yang mengajar dengan ikhlas tidak kehilangan ilmunya; sebaliknya, ia memperoleh pahala dari setiap ilmu yang diamalkan oleh murid-muridnya. Orang tua yang mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anaknya akan terus memperoleh aliran pahala selama bacaan itu hidup dalam lisan mereka. Seorang dosen yang menanamkan kejujuran kepada mahasiswanya akan ikut menikmati buahnya ketika mereka menjadi pemimpin yang amanah.

Rasulullah bersabda: "Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya." (HR. Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa ilmu yang bermanfaat merupakan jembatan antara dunia dan akhirat. Ketika diamalkan, ia memperbaiki diri kita. Ketika diajarkan, ia memperbaiki orang lain. Ketika orang lain mengamalkannya, pahalanya terus mengalir kepada kita meskipun jasad telah berada di dalam kubur, ruh kita di alam barzah. Betapa luas rahmat Allah kepada para pencinta ilmu.

Sayangnya, di zaman sekarang ada dua kecenderungan yang sama-sama keliru. Ada orang yang rajin belajar tetapi enggan mengamalkan ilmunya. Ada pula yang ingin mengajar sebelum sungguh-sungguh mengamalkan apa yang diajarkannya. Islam mengajarkan keseimbangan. Maka sebiknya kita mengamalkan ilmu yang dikuasai agar hidup kita diberkahi, lalu mengajarkan ilmu agar kehidupan orang lain ikut diberkahi. Inilah siklus keberkahan yang tidak pernah terputus.

Jadi bulan Safar ini masa rihlah dan berhijrah dari sekadar memiliki ilmu menjadi menjadi sumber keberkahan ilmu. Menjadikan ilmu sebagai ibadah pribadi melalui amal saleh, sekaligus sebagai ibadah sosial melalui pendidikan, dakwah, tulisan, dan keteladanan. Kita tidak saja bertanya, "Berapa banyak ilmu yang telah aku peroleh?" Tetapi bertanya, "Berapa banyak kehidupanku berubah karena ilmu itu?" dan "Berapa banyak kehidupan orang lain menjadi lebih baik karena ilmu yang Allah titipkan kepadaku?"

Maka kini kita layak bermuhasabah. Apakah ilmu kita telah menjadi berkah bagi diri sendiri sehingga shalat kita lebih khusyuk, akhlak kita lebih mulia, dan hati kita lebih dekat kepada Allah? Dan apakah ilmu itu juga telah menjadi berkah bagi orang lain sehingga keluarga, murid, mahasiswa, sahabat, dan masyarakat merasakan manfaatnya? Jangan sampai ilmu hanya memenuhi rak buku dan lemari sertifikat, tetapi tidak menghidupkan hati dan tidak mengubah kehidupan.

Semoga Allah menjadikan kita hamba yang setiap kali belajar semakin baik amalnya, dan setiap kali mengajar semakin luas manfaatnya. Sebab ilmu yang paling mulia bukanlah ilmu yang paling banyak diketahui, melainkan ilmu yang paling banyak menghadirkan keberkahan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama