Bahagia Berilmu yang Melahirkan Bashirah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.065
Sabtu, 17 Safar 1448

Bahagia Berilmu yang Melahirkan Bashirah (Kejernihan Hati dan Pikiran)
Saudaraku, pada tahun 638 M, ketika Khalifah Umar bin Khattab hendak berangkat menuju Syam, beliau bersama para sahabat tiba di sebuah tempat bernama Sargh, di perbatasan Hijaz dan Syam. Di sana datang kabar bahwa negeri Syam sedang dilanda wabah tha'un yang sangat mematikan. Umar segera mengumpulkan para sahabat senior dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk bermusyawarah. Pendapat mereka beragam. Ada yang menyarankan tetap melanjutkan perjalanan, ada pula yang mengusulkan kembali ke Madinah.

Setelah mendengar seluruh pandangan, Umar memutuskan untuk kembali. Ketika itu Abu Ubaidah bin al-Jarrah bertanya, "Apakah engkau lari dari takdir Allah?" Umar menjawab dengan kalimat yang sangat terkenal, "Kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain."

Tidak lama kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf yang sebelumnya tidak hadir dalam musyawarah. Ia menyampaikan hadis Rasulullah «"Apabila kalian mendengar wabah terjadi di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan apabila wabah itu terjadi di negeri tempat kalian berada, maka janganlah kalian keluar darinya." (HR. al-Bukhari dan Muslim).»

Keputusan Umar ternyata sejalan dengan petunjuk Rasulullah. Inilah contoh bagaimana ilmu melahirkan bashirah, yaitu kemampuan melihat persoalan dengan jernih, tenang, dan bijaksana.

Muhasabah kemarin mengajarkan bahwa ilmu yang berkah akan memperbaiki diri dan memberi manfaat kepada orang lain. Hari ini kita belajar bahwa ilmu juga melahirkan bashirah. Dalam bahasa Al-Qur'an, bashirah bukan sekadar penglihatan mata, tetapi kejernihan hati dan ketajaman akal dalam memahami kebenaran. Dengan bashirah, seseorang tidak mudah terprovokasi oleh emosi, tidak tergesa-gesa mengambil keputusan, dan tidak mudah tertipu oleh penampilan lahiriah. Allah berfirman «"Katakanlah, inilah jalanku. Aku mengajak kepada Allah dengan bashirah (ilmu dan keyakinan yang nyata), aku dan orang-orang yang mengikutiku." (QS. Yusuf: 108).»

Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah Rasulullah dibangun di atas bashirah, bukan prasangka, bukan fanatisme, dan bukan sekadar perasaan. Bashirah adalah perpaduan antara ilmu, iman, pengalaman, dan petunjuk Allah yang menjadikan seseorang mampu melihat sesuatu secara utuh.

Secara filosofis, ilmu adalah mata, sedangkan bashirah adalah cara mata itu melihat. Mata yang sehat belum tentu melihat dengan benar jika tertutup kabut. Demikian pula orang yang memiliki banyak ilmu belum tentu mampu mengambil keputusan yang tepat apabila hatinya tertutup oleh hawa nafsu, kepentingan pribadi, atau kesombongan. Bashirah membersihkan kabut itu sehingga ilmu dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Ilmu yang benar tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan saja, tetapi melahirkan khasyyah, yaitu rasa takut, cinta, dan pengagungan kepada Allah. Dari khasyyah inilah Allah menganugerahkan bashirah, kejernihan hati yang mampu melihat kehidupan dengan cahaya petunjuk-Nya. Sebab hati yang tunduk kepada Allah akan lebih mudah menerima hidayah dibandingkan hati yang dipenuhi kesombongan.

Inilah yang dimaksud Allah dalam firman-Nya: "...Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (kemampuan membedakan yang benar dan yang salah)..." (QS. Al-Anfal: 29).»

Furqan adalah buah dari ilmu yang melahirkan ketakwaan. Ia menjadi kompas batin yang mengarahkan seseorang dalam setiap langkah kehidupannya. Karena itu, orang yang berilmu dan bertakwa tidak hanya pandai menjelaskan hukum, tetapi juga mampu memilih jalan yang paling diridhai Allah.

Ilmu mengajarkan apa yang benar, sedangkan bashirah membimbing kapan, bagaimana, dan dalam keadaan apa kebenaran itu harus diwujudkan. Dengan bashirah, Allah membimbing seorang hamba untuk mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam; kapan harus tegas dan kapan harus memaafkan; kapan harus menunggu dan kapan harus bertindak.

Bahkan petunjuk Allah itu hadir dalam perkara-perkara yang tampak sederhana. Ia mengetahui makanan yang baik untuk menjaga amanah tubuhnya, memilih minuman yang menyehatkan, memilih pekerjaan yang halal, memilih sahabat yang saleh, memilih jalan yang paling aman, memilih lingkungan yang membawa kebaikan, serta menentukan keputusan yang paling besar maslahatnya bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bahkan umat manusia. Semua pilihan itu bukan sekadar hasil kecerdasan intelektual, melainkan buah dari ilmu yang telah menyatu dengan iman dan ketakwaan.

Karena itu, semakin dekat seseorang kepada Allah melalui ilmu yang benar, semakin nyata pula pertolongan Allah dalam membimbing setiap keputusan hidupnya. Ia mungkin tidak selalu memilih jalan yang paling mudah, tetapi Allah akan menunjukkan jalan yang paling benar. Ia mungkin tidak selalu memperoleh apa yang paling cepat, tetapi Allah mengarahkannya kepada apa yang paling berkah. Inilah kebahagiaan seorang mukmin: hidup di bawah bimbingan Allah dalam setiap langkahnya.

Maka hakikat bashirah bukan sekadar kecerdasan berpikir, melainkan karunia Allah kepada hati yang dipenuhi ilmu, iman, dan khasyyah. Orang seperti ini akan menjalani hidup dengan penuh ketenangan, karena ia yakin bahwa selama mengikuti petunjuk Allah, setiap keputusan yang diambil akan mengantarkannya kepada kemaslahatan dunia dan keselamatan akhirat.

Di zaman sekarang, manusia dibanjiri informasi, tetapi sering kekurangan bashirah. Berita datang setiap detik, pendapat berseliweran tanpa henti, dan media sosial sering mendorong orang bereaksi sebelum berpikir. Akibatnya, banyak keputusan lahir dari emosi sesaat, bukan dari pertimbangan yang matang. Padahal seorang mukmin yang berilmu tidak mudah hanyut oleh arus. Ia memeriksa informasi, mempertimbangkan akibat, bermusyawarah bila perlu, lalu bertawakal kepada Allah.

Orang yang memiliki bashirah tidak hanya bertanya, "Apa yang terjadi?" tetapi juga, "Mengapa ini terjadi? Apa hikmahnya? Apa keputusan yang paling diridhai Allah?" Dengan demikian, setiap keputusan menjadi bagian dari ibadah.

Kini kita seyogyanya bermuhasabah. Ketika menghadapi persoalan keluarga, pekerjaan, atau masyarakat, apakah kita lebih sering bereaksi atau merenung? Apakah kita mudah menghakimi sebelum mengetahui seluruh fakta? Apakah ilmu yang kita miliki telah membuat kita lebih bijaksana dalam mengambil keputusan? Ya, satu keputusan yang lahir dari bashirah sering kali lebih bernilai daripada seribu keputusan yang lahir dari emosi.

Semoga Allah menganugerahkan kepada kita ilmu yang melahirkan bashirah, sehingga kita mampu melihat kebenaran sebagai kebenaran dan mengikutinya, serta melihat kebatilan sebagai kebatilan dan menjauhinya. Itulah salah satu tanda bahwa ilmu telah benar-benar hidup di dalam hati.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama