Bahagia saat Berilmu Bisa Rendah Hati

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.062
Rabu, Ayyamul Bidh Ke-2, 14 Safar 1448

Bahagia,saat  Berilmu Bisa Rendah Hati
Saudaraku, rendah hati itu tanda keulamaan, kepemilikan ilmu. Diceritakan pada suatu hari, Imam Ahmad bin Hanbal menghadiri sebuah majelis ilmu di Baghdad. Saat itu beliau telah menjadi ulama besar yang dihormati dari berbagai penjuru negeri. Ribuan murid datang mengambil ilmu darinya. Namun di tengah majelis, seorang anak muda mengajukan sebuah pertanyaan yang belum pernah beliau dengar sebelumnya.

Semua hadirin menunggu jawaban sang imam. Dengan tenang Imam Ahmad berkata, "Lā adrī" (Aku tidak tahu). Memperhatikan kondisi yang ada, sebagian orang terkejut. "Wahai Imam, engkau adalah ulama besar. Bagaimana mungkin engkau menjawab tidak tahu?" Beliau tersenyum lalu berkata, "Apakah aku harus mengatakan sesuatu yang tidak aku ketahui hanya agar manusia tetap menganggapku berilmu?"

Kalimat itu kemudian menjadi pelajaran sepanjang zaman. Imam Ahmad tidak merasa kecil karena rendah hati, berkata "tidak tahu". Justru karena kerendahan hatinya itulah Allah mengangkat derajat ilmunya. Beliau memahami bahwa mengakui keterbatasan ilmu lebih mulia daripada merasa, apalagi berpura-pura mengetahui segala sesuatu.

Muhasabah kemarin telah mengingatkan kita bahwa ilmu sejati melahirkan khasyyah, rasa takut dan pengagungan kepada Allah, maka hari ini kita melihat buah ilmu berikutnya. Orang yang benar-benar memiliki ilmu akan semakin rendah hati. Mengapa? Karena semakin ia memahami kemahaluasan ilmu Allah, semakin ia menyadari betapa sedikit ilmu yang dimilikinya. Seperti air yang menempel di telunjuk jari ketika kita angkat setelah tercelup di permukaan samudra yang membentang luas.

Allah berfirman, «"... dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit." (QS. Al-Isra': 85).» Ayat ini bukan untuk melemahkan semangat belajar, tetapi untuk menjaga hati agar tidak terjebak dalam kesombongan intelektual. Seluas apa pun ilmu manusia, ia tetap hanya amat sedikit dibandingkan samudra ilmu Allah. Sehebat apa pun penelitiannya, masih banyak rahasia alam yang belum mampu dijangkaunya. Sepanjang apa pun gelar akademiknya, ia tetap seorang hamba yang bergantung sepenuhnya kepada Rabb Yang Maha Mengetahui.

Kini, perhatikanlah pohon yang paling banyak buahnya! bukankah ia semakin merunduk bahkan sujud. Demikian pula ilmu. Semakin banyak buah hikmah yang dimiliki seseorang, semakin rendah ia memandang dirinya. Sebaliknya, pohon yang tegak dengan sedikit buah sering kali hanya dipenuhi daun yang mudah diterpa angin. Atau, lihatlah padi, bagaimana yang berisi dan bagaimana yang kosong tak berisi. Begitu pula orang yang baru memiliki sedikit ilmu sering kali merasa dirinya paling benar dan paling layak didengar. Padahal, kedalaman ilmu justru melahirkan kelembutan, keluasan pandangan, dan kesediaan untuk terus belajar.

Para ulama salaf sangat menjaga diri dari penyakit ujub. Imam Malik pernah berkata, "Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah kecuali pendapatnya bisa diterima dan bisa ditolak." Kalimat ini menunjukkan bahwa sebesar apa pun seorang ulama, ia tetap membuka ruang untuk koreksi. Mereka tidak membangun pengikut yang fanatik kepada pribadi, tetapi mengajak manusia untuk tunduk kepada kebenaran.

Pada zaman sekarang, kesombongan tidak selalu tampak dalam bentuk ucapan yang keras. Ia bisa hadir dalam bentuk merasa paling benar, enggan menerima nasihat, meremehkan pendapat orang lain, atau menolak belajar dari orang yang lebih muda. Media sosial pun sering menjadi panggung bagi ego intelektual. Orang lebih sibuk memenangkan perdebatan daripada mencari kebenaran. Padahal tujuan ilmu bukanlah mengalahkan lawan bicara, melainkan mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan kemaslahatan.

Kini, tentu lebih mulia meninggalkan kesombongan bila masih ada, menuju tawaduk. Tawaduk bukan berarti merendahkan kemampuan diri, tetapi menempatkan diri secara proporsional di hadapan manusia, apalagi di haribaan Allah. Orang yang tawaduk tetap percaya diri dalam menyampaikan kebenaran, namun ia tidak merasa dirinya sumber kebenaran. Ia menyadari bahwa setiap ilmu adalah titipan Allah yang dapat diambil kembali kapan saja.

Semoga kita terus bisa bermuhasabah. Ketika memperoleh ilmu baru, apakah kita menjadi lebih santun atau justru lebih mudah meremehkan orang lain? Ketika memiliki jabatan akademik atau gelar yang tinggi, apakah kita semakin mudah menerima kritik? Ketika berdiskusi, apakah tujuan kita mencari kebenaran atau mencari kemenangan? Sesungguhnya ilmu yang diberkahi selalu melahirkan ketenangan, bukan keangkuhan; melahirkan kasih sayang, bukan permusuhan; melahirkan tawaduk, bukan kesombongan.

Sekali lagi! Semoga Allah menjadikan kita seperti padi yang semakin berisi semakin merunduk, seperti para ulama yang semakin tinggi ilmunya semakin banyak istighfarnya, senakin sering nangisnya dan seperti Rasulullah yang meskipun menjadi manusia paling mulia, tetap menjadi pribadi yang paling rendah hati di hadapan Allah dan paling lembut kepada sesama.

Kita bermohon pada Allah, semoga jauhkan dari kesombongan ilmu, dari ujub karena pengetahuan, dan dari keinginan untuk selalu merasa paling benar. Semoga Allah menganugerahi kita hati yang tawaduk, lisan yang santun, dan jiwa yang selalu siap menerima kebenaran dari mana pun datangnya; menjadikan setiap ilmu sebagai jalan untuk semakin mengenal kebesaran-Nya dan semakin merendahkan diri di hadapan-Nya. Aamiin

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama