Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.061
Selasa, Ayyamul Bidh Ke-1, 13 Safar 1448
Bahagia Saat Berilmu Melahirkan Khasyyah kepada Allah
Saudaraku, pada suatu malam di Madinah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkeliling untuk melihat keadaan rakyatnya. Ketika kembali ke rumah, beliau menangis cukup lama hingga istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, bertanya, "Wahai Amirul Mukminin, apa yang membuatmu menangis?"
Umar menjawab dengan suara bergetar, "Aku mengingat bahwa Allah telah membebankan urusan umat ini kepadaku. Aku khawatir, kelak ada seorang fakir yang kelaparan, seorang anak yatim yang terlantar, atau seorang yang dizalimi, lalu Allah meminta pertanggungjawaban dariku pada Hari Kiamat."
Padahal Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai khalifah yang adil, zuhud, dan sangat berilmu. Tapi, justru semakin luas ilmunya, semakin besar rasa takutnya kepada Allah. Ilmu tidak membuatnya merasa aman, tetapi justru membuatnya semakin berhati-hati dalam setiap keputusan.
Saudaraku, muhasabah kemarin telah mengingatkan bahwa ilmu harus berbuah amal, maka hari ini kita melangkah lebih dalam. Amal yang benar lahir dari hati yang dipenuhi khasyyah "rasa takut" kepada Allah. Sebab seseorang bisa saja beramal karena kebiasaan, karena lingkungan, atau karena ingin dipujapuji. Hanya orang yang mengenal Allah dengan benar yang beramal karena merasa selalu berada di hadapan-Nya.
Allah berfirman: "Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama." (QS. Fathir: 28). Ayat ini sangat menarik, Allah tidak mengatakan bahwa orang yang paling banyak ilmunya adalah yang paling mulia, tapi orang yang ilmunya melahirkan rasa takut kepadaNya. Khasyyah bukan rasa takut yang membuat seseorang putus asa, melainkan rasa hormat, cinta, dan pengagungan yang membuatnya enggan melakukan sesuatu yang dimurkai Allah. Semakin seseorang mengenal kebesaran Allah, semakin kecil ia memandang dirinya sendiri.
Secara filosofis, pengetahuan berpotensi memiliki dua arah. Ia dapat memperbesar ego, tetapi juga dapat menaklukkannya sehingga memperbesar ketundukan. Jika ilmu berhenti di kepala, ia melahirkan kesombongan. Namun jika ilmu turun ke hati, ia melahirkan ketundukan. Kepala membuat kita mengetahui siapa Allah; hati membuat kita merasakan kehadiran-Nya. Karena itu, ukuran keberhasilan ilmu dalam Islam bukan hanya bertambahnya pengetahuan, tetapi bertambahnya ketakwaan.
Di zaman sekarang, tidak sulit menemukan orang yang mampu menjelaskan ayat, mengutip hadis, atau berbicara tentang agama dengan sangat mumpuni, akan tetapi yang jauh lebih hebat lagi ketika dapat menemukan orang yang semakin berilmu, semakin lembut lisannya; semakin tinggi kedudukannya, semakin rendah hatinya; semakin banyak ilmunya, semakin rajin ibadahnya. Inilah ciri ilmu yang diberkahi. Ilmu yang benar selalu membuat pemiliknya lebih banyak bermuhasabah untuk menemukan dirinya.
Kini kita bisa merubah sikap dari mengumpulkan ilmu menuju menghadirkan Allah dalam setiap ilmu. Kita belajar bukan sekadar agar dikenal sebagai orang pintar, tetapi agar setiap pengetahuan semakin memperkuat rasa malu untuk bermaksiat, semakin memperbesar rasa syukur atas nikmat Allah, dan semakin menguatkan tekad untuk berbuat baik. Itulah ilmu yang menghidupkan hati.
Maka setelah sekian banyak ilmu yang kita pelajari, kita layak muhasabah apakah shalat kita menjadi lebih khusyuk? Apakah lisan kita menjadi lebih terjaga? Apakah hati kita menjadi lebih lembut? Apakah kita lebih mudah menangis ketika membaca ayat-ayat Allah daripada ketika kehilangan urusan dunia? Jika ilmu belum mendekatkan kita kepada Allah, mungkin yang perlu diperbaiki bukan banyaknya ilmu, tetapi cara kita memaknai ilmu.
Kita berharap agar Allah menjadikan kita bukan sekadar orang yang mengetahui, tetapi orang yang mengenalNya. Karena mengenal Allah adalah puncak seluruh ilmu, dan khasyyah kepada-Nya adalah mahkota seluruh pengetahuan. Kita berikhtiar dan berdoa agar ilmu yang kita kuasai dapat menumbuhkan rasa takut, cinta, dan pengagungan akan Allah. Kita tidak membiarkan ilmu berhenti di kepala, tetapi turun ke dalam hati hingga menjadi cahaya yang membimbing setiap langkah dalam meniti hidup ini. Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang semakin berilmu, semakin bertakwa; semakin berpengetahuan, semakin rendah hati; dan semakin mengenalNya, semakin rindu untuk berjumpa denganNya. Aamiin