Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.047
Selasa, 29 Muharam 1448
Bahagia Menjadi Hamba yang Rabbani
Saudaraku, ketika Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriah, Madinah diliputi kesedihan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Sebagian sahabat begitu terpukul hingga tidak mampu menerima kenyataan. Bahkan Umar bin Khattab berdiri sambil berkata bahwa siapa pun yang mengatakan Muhammad telah wafat akan dihukumnya, karena beliau meyakini Rasulullah hanya pergi menghadap Rabbnya sebagaimana Nabi Musa.
Di tengah suasana yang penuh gejolak itu, Abu Bakar al-Shiddiq datang dengan ketenangan seorang mukmin. Setelah memastikan Rasulullah benar-benar telah wafat, beliau keluar menemui kaum muslimin dan membacakan firman Allah, "Muhammad hanyalah seorang rasul. Sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa rasul..." (QS. Ali 'Imran: 144). Lalu beliau berkata, "Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah Mahahidup dan tidak akan pernah mati."
Seketika suasana berubah. Air mata tetap mengalir, tetapi akidah kembali tegak. Cinta kepada Rasulullah tidak boleh mengalahkan tauhid kepada Allah. Inilah salah satu gambaran seorang rabbani, orang yang seluruh orientasi hidupnya kembali kepada Rabb-nya.
Di situlah muhasabah hari ini bersambung. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadi 'Ibadurrahman, hamba-hamba Allah yang memancarkan kasih sayang dalam akhlaknya, maka hari ini kita diajak naik kepada derajat yang lebih dalam, yaitu menjadi hamba yang rabbani.
Al-Qur'an menggunakan istilah rabbaniyyin untuk menggambarkan orang-orang yang hidupnya dibimbing oleh Rabb, mengajarkan kitab-Nya, mengamalkan ilmunya, dan mendidik manusia dengan hikmah. Seorang rabbani bukan sekadar orang yang banyak ilmunya, tetapi orang yang seluruh ilmu, amal, pikiran, cita-cita, dan pengabdiannya selalu terhubung kepada Allah.
Secara filosofis, menjadi rabbani berarti menjadikan Allah sebagai pusat gravitasi dan orientasi kehidupan. Sebagaimana seluruh planet beredar mengelilingi matahari karena kekuatan gravitasinya, demikian pula seluruh aktivitas seorang rabbani berputar mengelilingi ridha Allah.
Ilmunya tidak menjadikannya sombong, tetapi semakin tawaduk. Jabatannya tidak membuatnya lupa diri, tetapi semakin merasa bertanggung jawab. Kekayaannya tidak melahirkan keserakahan, tetapi memperluas kemanfaatan. Bahkan ujian dan penderitaan pun tidak memutus hubungannya dengan Allah, karena ia yakin bahwa Rabb yang mendidiknya tidak pernah salah dalam menetapkan takdir.
Menjadi rabbani juga berarti menjadikan ilmu sebagai jalan menuju ketakwaan, bukan sekadar menuju ketenaran. Di zaman ketika informasi begitu mudah diperoleh, tidak sulit menjadi orang yang berpengetahuan. Namun menjadi rabbani jauh lebih sulit, karena ia menuntut keselarasan antara apa yang diketahui, yang diyakini, yang diucapkan, dan yang dilakukan. Seorang rabbani tidak hanya pandai berbicara tentang kejujuran, tetapi hidup dengan jujur. Ia tidak hanya mengajarkan kesabaran, tetapi bersabar ketika diuji. Ia tidak hanya mengajak kepada Allah, tetapi dirinya sendiri adalah orang yang paling dahulu berjalan menuju Allah.
Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menuju hidup yang berpusat pada Allah. Hijrah dari mengejar citra menuju mengejar ridha. Hijrah dari sibuk membangun nama menuju sibuk membangun makna. Dunia modern sering mengajarkan manusia untuk bertanya, "Apa yang aku inginkan?" Seorang rabbani justru memulai dengan pertanyaan yang berbeda, "Apa yang Allah kehendaki dariku?" Ketika pertanyaan itu menjadi dasar setiap keputusan, maka hidup akan lebih jernih, lebih tenang, dan lebih bernilai.
Maka sudah sepantasnya kita bermuhasabah. Apakah Allah sudah menjadi pusat seluruh aktivitas hidup kita, ataukah masih berada di pinggiran kesibukan kita? Apakah ilmu yang kita miliki semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menumbuhkan rasa bangga terhadap diri sendiri? Apakah jabatan yang kita emban semakin memperbesar pengabdian kita, atau justru memperbesar ego kita? Seorang rabbani tidak diukur dari banyaknya gelar yang disandang, tetapi dari seberapa besar Allah hadir dalam setiap keputusan hidupnya.