Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.044
Sabtu, 26 Muharam 1448
Bahagia Menjadikan Iman sebagai Kompas Kehidupan
Saudaraku, dikisahkan bahwa ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, ia tidak memandang jabatan itu sebagai kemuliaan, tetapi sebagai amanah yang sangat berat. Pada malam pertama setelah baiat, Umar justru menangis. Ia sadar bahwa sejak saat itu hidupnya tidak lagi boleh dipimpin oleh selera pribadi, kepentingan keluarga, atau godaan kekuasaan, melainkan harus dipandu oleh iman dan rasa takut kepada Allah. Karena itu, banyak keputusan besarnya lahir bukan dari hitung-hitungan politik semata, tetapi dari kompas batin yang baik: apa yang benar menurut Allah, apa yang adil bagi manusia, dan apa yang paling selamat untuk akhiratnya. Kisah ini mengajarkan bahwa manusia akan tersesat bukan hanya karena tidak tahu jalan, tetapi juga karena kehilangan kompas yang menuntunnya saat jalan hidup bercabang-cabang.
Di situlah muhasabah hari ini beralasan. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjalani hidup dengan ikhlas, maka hari ini kita diingatkan bahwa keikhlasan itu harus dibimbing oleh iman sebagai kompas hidup. Sebab hidup tidak hanya membutuhkan niat yang baik, tetapi juga arah yang benar. Ada orang yang tulus, tetapi salah jalan. Ada orang yang rajin beramal, tetapi tidak tahu untuk apa ia hidup. Ada orang yang tampak baik, tetapi keputusan-keputusan pentingnya justru dipandu oleh ketakutan kehilangan dunia, bukan oleh keyakinan kepada Allah. Maka iman harus menjadi kompas—penunjuk arah yang menjaga hati agar tidak salah memilih, tidak mudah terseret arus, dan tidak kehilangan orientasi.
Secara filosofis, kompas dibutuhkan bukan ketika jalan lurus dan cuaca cerah, melainkan ketika manusia berada di persimpangan, dalam kabut, atau di tengah hutan yang membingungkan. Demikian pula iman. Nilai iman justru tampak ketika hidup tidak sederhana: saat kita harus memilih antara yang menguntungkan dan yang benar, antara yang menyenangkan dan yang diridhai, antara yang cepat mendatangkan hasil dan yang menuntut kesabaran.
Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari hidup yang digerakkan oleh hawa nafsu, tekanan sosial, dan kepentingan sesaat menuju hidup yang diarahkan oleh iman. Bukan berarti hidup menjadi tanpa pertimbangan duniawi, tetapi dunia tidak lagi menjadi penentu utama. Jabatan, harta, popularitas, relasi, bahkan rasa takut dan rasa suka, semuanya harus tunduk pada kompas iman. Sebab orang yang tidak punya kompas ruhani akan mudah berubah-ubah arah: hari ini semangat karena dipuji, besok malas karena dicela; hari ini jujur karena diawasi, besok curang karena ada kesempatan; hari ini taat karena suasana mendukung, besok longgar karena godaan lebih kuat. Adapun orang yang imannya menjadi kompas, ia mungkin tetap diuji dan bimbang sebagai manusia, tetapi ia tahu ke mana harus kembali: kepada Allah, kepada Al-Qur’an, dan kepada hati nurani yang diterangi wahyu.