Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.043
Jumat, 25 Muharam 1448
Bahagia Ikhlas Beramal Salih
Saudaraku, diriwayatkan bahwa pada suatu malam Ali bin Husain Zainal Abidin memikul sendiri karung-karung makanan untuk dibagikan kepada fakir miskin di Madinah. Ia melakukannya diam-diam, tanpa pengumuman, tanpa meminta penghargaan, bahkan tanpa ingin diketahui orang. Setelah beliau wafat, barulah masyarakat menyadari bahwa selama ini banyak rumah miskin yang diam-diam mendapat bantuan darinya. Bekas hitam di pundaknya menjadi saksi bahwa amal-amal itu bukan kisah yang dibesar-besarkan, melainkan pengorbanan yang sungguh dijalani. Kisah ini mengajarkan bahwa amal yang paling dalam pengaruhnya sering kali bukan amal yang paling ramai dibicarakan, melainkan amal yang paling sepi dalam pandangan manusia tetapi paling ikhlas di hadapan Allah.
Di situlah muhasabah hari ini beralasan. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak istiqamah dalam kesalihan, maka hari ini kita diingatkan bahwa kesalihan itu harus ditopang oleh keikhlasan. Sebab istiqamah tanpa ikhlas dapat berubah menjadi rutinitas kosong, atau bahkan dapat berubah menjadi pentas ananiyah, panggungnya ego. Ikhlas adalah ruh yang menghidupkan amal. Ia membuat kebaikan tidak bergantung pada pujian, tidak berhenti oleh sepi, dan tidak kurang hanya karena tidak dihargai.
Inilah mengapa, ikhlas merupakan pembebasan jiwa dari perbudakan terhadap penilaian manusia. Orang yang tidak ikhlas akan mudah lelah, karena ia bekerja sambil memikul harapan akan pujian, pengakuan, dan balasan. Ia kecewa bila jasanya tak disebut, tersinggung bila perannya tak dihargai, dan goyah bila usahanya tak dipuji. Sebaliknya, orang yang ikhlas memiliki kemerdekaan batiniah. Ia tetap berbuat baik meski tak dikenal, tetap jujur meski tak dipuji, tetap menolong meski tak dibalas. Sebab orientasi hidupnya bukan manusia, melainkan Allah yang melihat segala sesuatu, bahkan yang paling tersembunyi.
Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari hidup yang sibuk mencari penilaian manusia menuju hidup yang tenang karena mencari ridha Allah. Bukan berarti kita menolak apresiasi, tetapi kita tidak menggantungkan nilai diri padanya. Bukan berarti kita berhenti bekerja di ruang publik, tetapi kita menjaga agar hati tidak menjadi budak popularitas. Hijrah yang sejati adalah ketika seseorang tetap bersungguh-sungguh dalam amal, namun hatinya tidak lagi haus dipuji. Maka kita bekerja, mengabdi, mengajar, mendidik, menolong, dan memimpin dengan satu kesadaran: bahwa yang terpenting bukan “aku terlihat baik”, melainkan “Allah ridha atas apa yang kulakukan”.
Karena itu, sudah sepatutnya kita bertanya kepada diri sendiri: untuk siapa sebenarnya kita menjalani hidup ini? Untuk siapa kita bekerja, berbicara, mengabdi, dan berbuat baik? Apakah kita akan tetap beramal bila tidak ada yang tahu? Apakah kita tetap sabar bila tak ada yang memuji? Apakah kita tetap menolong bila tak ada yang berterima kasih? Di sanalah ikhlas diuji. Sebab ikhlas bukan sekadar kata yang mudah diucapkan, melainkan perjuangan sunyi untuk terus meluruskan hati di hadapan Allah. Mari kita muhasabah.