Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.045
Ahad, 27 Muharam 1448
Bahagia Berikhtiar Menjadi Ulul Albab
Saudaraku, diceritakan bahwa pada waktu Subuh di Madinah, Bilal bin Rabah datang ke kediaman Rasulullah untuk memberitahukan bahwa waktu salat telah tiba. Biasanya beliau segera menuju masjid, tetapi Subuh itu Bilal mendapati Rasulullah masih tenggelam dalam tangis. Air mata beliau membasahi kedua pipinya. Bilal pun bertanya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau menangis, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?"
Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa pada malam itu Allah menurunkan ayat-ayat terakhir Surah Ali 'Imran (ayat 190-191) yang mengajak manusia merenungkan penciptaan langit dan bumi. Setelah membacanya, beliau bersabda, "Celakalah orang yang membaca ayat-ayat ini tetapi tidak mau merenungkannya." Sejak saat itu, ayat-ayat tentang ulul albab bukan hanya menjadi bacaan, tetapi menjadi pedoman agar seorang mukmin memadukan dzikir, tafakur, dan amal dalam seluruh perjalanan hidupnya.
Rasulullah merenungkan langit yang bertabur bintang, bumi yang terbentang luas, serta pergantian malam dan siang, lalu membaca firman Allah bahwa pada semua itu terdapat tanda-tanda bagi ulul albab, yaitu orang-orang yang senantiasa mengingat Allah sambil berdiri, duduk, maupun berbaring, serta berpikir mendalam tentang penciptaan langit dan bumi. Dari perenungan itu lahirlah doa yang sangat menyentuh, "Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini dengan sia-sia." Kisah ini mengajarkan bahwa hati yang dekat kepada Allah selalu memadukan dzikir, pikir, dan amal.
Di sinilah muhasabah hari ini beralasan Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjadikan iman sebagai kompas hidup, maka hari ini kita diajak menjadi hamba yang ulul albab, yaitu hamba yang mampu membaca arah kehidupan dengan cahaya iman dan kebeningan akal. Iman memberikan tujuan, sedangkan akal yang tercerahkan membantu memilih jalan menuju tujuan itu. Karena itu, Islam tidak hanya melahirkan orang yang rajin beribadah, tetapi juga pribadi yang bijaksana dalam berpikir, arif dalam bersikap, dan matang dalam mengambil keputusan.
Secara filosofis, ulul albab bukanlah orang yang sekadar cerdas, melainkan orang yang mampu menghubungkan pengetahuan dengan kebijaksanaan, ilmu dengan ketakwaan, dan keberhasilan dengan kerendahan hati. Ia tidak berhenti pada apa yang tampak oleh mata, tetapi selalu mencari makna di balik setiap peristiwa. Musibah baginya menjadi pelajaran, nikmat menjadi alasan untuk bersyukur, keberhasilan menjadi amanah, dan kegagalan menjadi sarana belajar untuk memperbaiki diri. Ia memandang hidup bukan sebagai rangkaian kejadian yang acak, melainkan sebagai ayat-ayat Allah yang harus dibaca dan direnungkan.
Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari cara berpikir yang dangkal menuju cara berpikir yang mendalam. Bukan hanya melihat dunia dari sisi manfaat sesaat, tetapi juga dari nilai-nilai akhirat. Bukan hanya bertanya, "Apa yang saya peroleh?", tetapi juga, "Apa hikmah yang Allah ajarkan?" dan "Apa manfaat yang dapat saya berikan?" Inilah ciri ulul albab: semakin luas ilmunya, semakin dalam tawaduknya; semakin tinggi kedudukannya, semakin kuat rasa tanggung jawabnya kepada Allah.