Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.042
Kamis, 24 Muharam 1448
Bahagia Istiqamah dalam Kesalihan
Saudaraku, diriwayatkan bahwa Sufyan ats-Tsauri, seorang ulama besar yang sangat zuhud, pernah menangis bukan karena ia tidak tahu jalan kebaikan, tetapi karena ia takut tidak mampu istiqamah di atas jalan itu hingga akhir hayat. Sufyan adalah orang alim, ahli ibadah, dan dihormati banyak orang, tetapi yang paling ia khawatirkan bukanlah sedikitnya amal, melainkan lemahnya keteguhan hati. Kisah ini mengajarkan bahwa masalah terbesar seorang mukmin bukan sekadar bagaimana memulai kebaikan, melainkan bagaimana bisa bertahan di dalamnya. Sebab banyak orang mampu berlari di awal, tetapi tidak semua mampu terus menjaganya hingga akhir. Apalagi ketika semangat melemah bersambut dengan godaan datang.
Di situlah muhasabah hari ini beralasan. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak merefleksikan iman dalam amal salih, maka hari ini kita diingatkan bahwa amal salih itu harus dijaga dengan istiqamah. Amal yang baik ibarat benih, sedangkan istiqamah adalah air yang menyiraminya setiap hari. Tanpa istiqamah, benih kebaikan akan layu oleh waktu. Seorang muknin(ah) mungkin bisa shalat khusyuk, bisa dermawan, mampu tilawah, mampu tahajud, tetapi bila semua itu hanya hadir musiman, maka kesalihan belum benar-benar menjadi kepribadiannya.
Secara filosofis, istiqamah adalah bentuk kedewasaan spiritual. Ia mengajarkan bahwa nilai manusia tidak ditentukan oleh ledakan semangat sesaat, tetapi oleh kesetiaan yang panjang pada kebenaran. Dalam hidup, yang sering mematikan kebaikan bukan selalu dosa besar, melainkan kelelahan, rutinitas, rasa bosan, dan godaan untuk merasa “sudah cukup baik”. Karena itu istiqamah bukan sekadar mengulang amal yang sama, tetapi terus memperbarui niat, menjaga hati, dan melawan kelalaian agar kesalihan tetap hidup. Ia adalah seni bertahan dalam taat, walau tanpa sorotan, walau tanpa pujian, walau tanpa hasil yang segera tampak.
Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari kesalihan yang sesaat menuju kesalihan yang menetap. Bukan hanya baik pada momen tertentu, tetapi baik sebagai watak hidup. Bukan hanya rajin ketika sedang semangat, tetapi tetap menjaga shalat, tilawah, amanah, dan akhlak ketika hati sedang lelah. Sebab hijrah yang sejati tidak berhenti pada perubahan awal; ia terus meminta pembuktian dalam bentuk ketekunan. Orang yang istiqamah adalah orang yang paham bahwa jalan menuju Allah bukan sprint pendek, melainkan perjalanan panjang yang membutuhkan napas iman yang stabil.
Karena itu, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apakah kesalihan kita sudah menjadi kebiasaan yang mengakar, atau masih bergantung pada suasana hati? Apakah kita tetap taat saat tidak dilihat orang? Apakah kita tetap jujur saat tidak ada yang memeriksa? Apakah kita tetap menjaga ibadah saat hidup terasa biasa-biasa saja? Di sanalah istiqamah diuji. Sebab ukuran cinta kepada Allah bukan hanya seberapa tinggi semangat kita sesekali, tetapi seberapa setia kita menjaga amal meski dalam diam dan sunyi.
Terimakasih pak, sangat bermanfaat bagi mami
BalasHapusTerimakasih pak, sangat bermanfaat bagi kami
Hapus