Bahahia Merefleksikan Iman dalam Amal Shalih

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.041
Rabu, 23 Muharam 1448

Bahagia Merefleksikan Iman dalam Amal Salih
Saudaraku, pada suatu hari, setelah fase kemenangan Islam di Makkah dan meluasnya dakwah ke berbagai penjuru Jazirah Arab, datang seorang sahabat kepada Rasulullah dengan semangat besar untuk beribadah. Ia ingin menumpahkan cintanya kepada Allah melalui ibadah yang banyak. 

Rasulullah lalu mengarahkan para sahabatnya bukan hanya kepada banyaknya ibadah ritual, tetapi juga ibadah sosial, amal yang paling bermanfaat, paling ikhlas, dan paling membawa maslahat bagi orang lain. Dari sini tampak satu pelajaran penting: iman tidak cukup disimpan sebagai keyakinan batin, tetapi harus menjelma menjadi tindakan nyata yang menghadirkan rahmat, kejujuran, amanah, pengorbanan, dan kemanfaatan bagi diri sendiri dan sesamanya,. 

Di situlah muhasabah hari ini berakar. Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menjaga cahaya iman, maka hari ini kita diingatkan bahwa cahaya itu harus memancar keluar dalam bentuk amal salih. Iman ibarat api di dalam pelita, sedangkan amal salih adalah cahaya yang tampak menerangi sekitar. Bila iman hanya berhenti sebagai rasa haru, pengetahuan, atau pengakuan lisan dan keyakinan di hati, ia belum selesai menjalankan tugasnya. Iman yang sejati selalu ingin mewujud menjadi tindakan: menjadi shalat yang khusyuk, lisan yang jujur, tangan yang menolong, hati yang penyayang, dan hidup yang bermanfaat.

Secara filosofis, amal salih adalah bentuk paling konkret dari apa yang kita yakini. Manusia mungkin dapat menyembunyikan isi hatinya dari orang lain, tetapi amal akan memperlihatkan arah jiwanya. Orang yang benar-benar yakin bahwa Allah melihatnya,maka akan berusaha jujur meski tak ada yang memuji. Orang yang yakin bahwa rezeki datang dari Allah, maka akan lebih mudah bersedekah. Orang yang yakin bahwa hidup akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, maka akan berhati-hati dalam bicara, bekerja, memimpin, dan memperlakukan orang lain. Dengan kata lain, amal salih adalah iman yang mengambil bentuk nyata.

Semangat hijrah pada muhasabah ini adalah hijrah dari iman yang berhenti di hati menuju iman yang bergerak dalam perbuatan. Bukan hanya merasa dekat kepada Allah, tetapi juga menghadirkan kedekatan itu dalam cara kita memperlakukan keluarga, mahasiswa, tetangga, teman kerja, dan masyarakat. Bukan hanya rajin berdoa, tetapi juga rajin berbuat baik. Bukan hanya khusyuk dalam sajadah, tetapi juga amanah dalam jabatan, lembut dalam ucapan, adil dalam keputusan, dan ringan tangan menolong sesama. Sebab hijrah yang sejati bukan sekadar berpindah dari dosa ke ibadah, tetapi juga berpindah dari kesalehan pribadi menuju kesalehan yang memancarkan manfaat.

Karena itu, seyogyanya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah iman kita sudah terlihat dalam amal salih kita? Apakah shalat membuat kita lebih jujur? Apakah dzikir membuat kita lebih sabar? Apakah tilawah membuat kita lebih lembut? Apakah ilmu membuat kita lebih tawaduk? Jangan sampai iman hanya menjadi identitas, tetapi belum menjadi karakter. Jangan sampai hati merasa dekat dengan Allah, tetapi tangan masih ringan menyakiti, lisan masih mudah melukai, dan amanah masih sering diabaikan.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama