Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.028
Kamis, 10 Muharam 1448
Bahagia Menyandarkan Hati kepada Allah
Saudaraku, saat hijrah, ketika Rasulullah dan para sahabat tiba di Madinah, tantangan kaum muslimin belum berakhir. Mereka meninggalkan rumah kediaman, harta, kebun, lapangan pekerjaan dan sebagian keluarga di Makkah menuju Madinah, tempat yang pada umumnya relatif baru bagi kaum muhajirin. Dan tentu, banyak di antara mereka memulai kehidupan baru dari hampir nol. Namun yang menakjubkan, mereka tidak larut dalam kecemasan, tetapi mereka tetap optimis, tetap bekerja, tetap berjuang, dan tetap menatap masa depan dengan penuh harapan. Mengapa?
Ya, karena meskipun banyak yang mereka tinggalkan, mereka tidak kehilangan satu hal yang paling penting, yakni imannya pada Allah. Hati mereka tetap terhubung kepada Allah. Mereka memahami bahwa kehilangan dunia tidak berarti kehilangan segalanya selama Allah masih menjadi sandaran hati.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak beriman kepada takdir Allah, maka hari ini kita diajak melangkah lebih jauh, yaitu menyandarkan hati kepada Allah. Sebab menerima takdir Allah akan melahirkan ketenangan, sedangkan menyandarkan hati kepada Allah akan melahirkan kekuatan, optimisme untuk terus berikhtiar.
Di samping itu, secara filosofis, hati manusia bukankah selalu membutuhkan tempat bersandar, tempat berharap, tempat bergantung. Maka ketika hati bersandar kepada harta, ia akan gelisah saat harta berkurang ada diambil oleh bencana. Ketika hati bersandar kepada tahta dan jabatan, ia akan takut saat turun tahta, saat jabatan sudah menjauh dari jangkauan. Ketika hati bersandar kepada sesama manusia, ia akan kecewa ketika manusia berubah atau mengacuhkannya. Mengapa seperti ini? Ya, sebab semua selain Allah adalah makhluk, bersifat terbatas, tidak sempurna dan tidak abadi.
Oleh karena itu, kebahagiaan sejati lahir ketika hati menemukan sandaran abadi yang tidak pernah goyah, yaitu Allah. Allah tidak berubah oleh waktu, tidak berkurang oleh pemberian, dan tidak lalai dari urusan hamba-Nya. Siapa yang menjadikan Allah sebagai sandaran hati akan memiliki ketenangan yang tidak mudah diguncang oleh perubahan keadaan atau oleh masalah.
Semangat hijrah pada bulan Muharam juga mengajarkan bahwa hidup adalah perjalanan yang sarat perubahan. Akan ada yang datang dan pergi, ada yang bertambah dan berkurang, ada yang berhasil dan gagal. Namun di tengah semua perubahan itu, hati harus tetap memiliki satu sandaran yang tetap, yaitu Allah.
Maka pada hari ini hari kesepuluh Muharam ini, sudah sepantasnya kita berhijrah dari ketergantungan hati kepada makhluk menuju ketergantungan hati kepada Sang Khalik, yaitu Allah. Kita tetap bekerja, tetap berikhtiar, tetap berdoa bermunajat, tetap menjalin hubungan baik dengan sesama, tetapi hati tidak bergantung kepada semuanya itu. Hati hanya bersandar kepada Allah.
Andai suatu saat kita kehilangan sesuatu yang dicintai, sesuatu yang terus dicari selama ini, yang diduduki selama ini, maka kita memohon agar tidak kehilangan sandaran kepada Allah.. Jika suatu saat kita menghadapi kesulitan hidup, semoga hati kita tidak berpaling dari Allah. Semoga hati kita istikamah bersandar hanya kepada Allah, dalam keadaan apapun jua. Sebab ketika hati telah bersandar kepada Allah, badai kehidupan mungkin tetap datang, tetapi hati tidak akan mudah bimbang, apalagi tumbang. Semoga