Bahagia Mempercayai Janji Allah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.026
Selasa, 8 Muharam 1448

Bahagia Mempercayai Janji Allah
Saudaraku, ketika Rasulullah berhijrah dari Makkah menuju Madinah, perjalanan itu penuh risiko. Kaum Quraisy memburu beliau dari segala arah. Dalam perjalanan tersebut, seorang pemburu ulung bernama Suraqah bin Malik mengejar Rasulullah dengan harapan memperoleh hadiah 100 ekor unta yang dijanjikan Quraisy. Namun setiap kali ia mendekat, kudanya terperosok ke dalam tanah sehingga niatnya tak kesampaian. Bagi Rasulullah dan kaum yang beriman meyakini ini janji Allah, yang melindungi hamba-hambaNya.

Pada saat yang tampaknya penuh ancaman itu, Rasulullah justru berkata kepada Suraqah, "Bagaimana keadaanmu kelak jika engkau memakai gelang Kisra (raja Persia)?" Sungguh luar biasa. Saat beliau sedang menjadi buronan, beliau berbicara tentang runtuhnya kekaisaran Persia yang ketika itu merupakan salah satu kekuatan terbesar dunia.

Bertahun-tahun kemudian, pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, Persia benar-benar ditaklukkan dan gelang Kisra dipakaikan kepada Suraqah. Janji Allah terbukti. Apa yang dahulu tampak mustahil akhirnya menjadi kenyataan.

Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak merasakan kehadiran Allah, maka hari ini kita diajak mempercayai janji Allah. Sebab orang yang merasakan kehadiran Allah akan lebih mudah mempercayai janji-Nya. Dan orang yang mempercayai janji Allah akan memiliki harapan yang tidak mudah padam.

Secara filosofis, kehidupan manusia sesungguhnya ditentukan oleh apa yang dipercayainya. Orang yang percaya bahwa masa depannya gelap akan hidup dalam ketakutan. Orang yang percaya bahwa hidup ini tidak bermakna akan kehilangan semangat. Sebaliknya, orang yang percaya kepada janji Allah akan memiliki energi spiritual yang luar biasa untuk terus melangkah.

Allah menjanjikan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Allah menjanjikan bahwa orang yang bertakwa akan diberi jalan keluar. Allah menjanjikan bahwa orang yang bersyukur akan ditambah nikmatnya. Allah menjanjikan bahwa amal sekecil apa pun tidak akan sia-sia. Allah menjanjikan bahwa kesabaran akan berbuah kebaikan. Dan Allah menjanjikan surga bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Masalahnya, manusia sering lebih percaya kepada apa yang dilihat matanya daripada kepada apa yang dijanjikan Allah. Ketika melihat kesulitan, ia lupa akan kemudahan yang dijanjikan. Ketika melihat keterbatasan dirinya, ia lupa akan kekuasaan Allah. Ketika melihat lambatnya hasil, ia lupa bahwa Allah bekerja dengan waktu dan cara-Nya sendiri yang tentu bijak dan adil.

Semangat hijrah mengajarkan bahwa perubahan besar selalu membutuhkan kepercayaan kepada janji Allah. Rasulullah dan para sahabat berani meninggalkan Makkah karena mereka percaya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan mereka. Mereka tidak mengetahui seluruh detail masa depan, tetapi mereka mempercayai Allah Dzat yang mengatur masa depan.

Muharam mengajak kita berhijrah dari keraguan menuju keyakinan, dari pesimisme menuju optimisme, dari rasa takut yang berlebihan menuju kepercayaan kepada janji Allah. Mungkin ada doa yang belum terkabul, harapan yang belum terwujud, atau cita-cita yang belum tercapai. Namun selama Allah menjanjikan kebaikan bagi orang-orang yang beriman, tidak ada alasan untuk berputus asa.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama