Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.027
Rabu, 9 Muharam 1448
Bahagia Beriman kepada Takdir
Ssudaraku, ketika umat Islam berhijrah dari Makkah ke Madinah, ada seorang sahabat yang juga berangkat meninggalkan kampung halamannya dengan harapan dapat membangun kehidupan baru bersama kaum muslimin. Namun tidak semua yang berhijrah memperoleh perjalanan yang mudah. Ada yang kehilangan harta, ada yang terpisah dari keluarga, ada yang jatuh sakit, bahkan ada yang meninggal sebelum sempat menikmati hasil perjuangannya.
Di antara mereka adalah Utsman bin Mazh'un, salah seorang sahabat mulia yang meninggal di Madinah pada masa awal hijriah. Secara lahiriah, mungkin ada yang bertanya, mengapa seorang sahabat yang begitu saleh harus meninggal lebih dahulu? Mengapa tidak diberi kesempatan menikmati kemenangan-kemenangan Islam yang datang kemudian? Namun para sahabat memahami bahwa hidup tidak berjalan semata-mata menurut keinginan manusia, tapi ada takdir Allah yang bekerja dengan ilmu dan hikmah-Nya yang sempurna.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak mempercayai janji Allah, maka hari ini kita diajak menerima dan mengimani takdir Allah. Sebab janji Allah berbicara tentang keyakinan terhadap kebaikan yang akan datang, sedangkan iman kepada takdir berbicara tentang kerelaan menerima ketetapan Allah yang sedang atau telah terjadi.
Terdapat banyak kegelisahan manusia yang muncul justru bukan karena beratnya ujian, tetapi karena penolakannya terhadap kenyataan. Ia terus bertanya mengapa hidupnya tidak seperti yang diinginkan. Lalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Ia menyesali masa lalu yang tidak mungkin diubah. Akibatnya, ia kehilangan energi untuk menjalani hari ini.
Padahal iman kepada takdir mengajarkan bahwa tidak ada satu peristiwa pun yang terjadi di luar pengetahuan dan izin Allah. Apa yang menjadi milik kita tidak akan tertukar. Apa yang luput dari kita tidak akan pernah menjadi bagian kita. Dan apa yang Allah tetapkan selalu mengandung hikmah, meskipun tidak selalu langsung kita pahami.
Beriman kepada takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha. Rasulullah tetap berikhtiar ketika berhijrah. Beliau menyusun strategi, memilih waktu yang tepat, menyiapkan penunjuk jalan, menempuh jalan yang tidak lazim, dan melakukan berbagai langkah yang diperlukan. Namun setelah semua usaha dilakukan, beliau menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Inilah keseimbangan antara ikhtiar dan takdir.
Semangat hijrah pada bulan Muharam juga mengajarkan hal yang sama. Ada masa lalu yang tidak dapat kita ubah. Ada kegagalan yang pernah terjadi. Ada kehilangan yang pernah kita alami. Ada harapan yang belum terwujud. Semua itu adalah bagian dari takdir yang telah berlalu. Namun hijrah mengajarkan bahwa kita tidak hidup di masa lalu. Kita belajar darinya, lalu melangkah ke depan dengan iman dan harapan.
Orang yang beriman kepada takdir tidak mudah sombong ketika berhasil, karena ia tahu ada karunia Allah di balik keberhasilannya. Ia juga tidak mudah putus asa ketika gagal, karena ia tahu Allah masih membuka banyak pintu kebaikan yang belum terlihat.
Mungkin hari ini ada sesuatu dalam hidup kita yang belum sesuai harapan. Mungkin ada doa yang belum terkabul, rencana yang belum berhasil, atau cita-cita yang belum tercapai. Muharam mengajak kita berhijrah dari keluhan menuju kerelaan, dari penyesalan menuju penerimaan, dan dari kegelisahan menuju ketenangan.