Bahagia Memprioritaskan Allah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.029
Jumat, 11 Muharam 1448

Bahagia Memprioritaskan Allah
Saudaraku, ketika tuntutan hijrah diterima, banyak di antara sahabat Rasulullah yang dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Sebagian harus meninggalkan rumah yang dibangun bertahun-tahun, sebagian harus berpisah dengan keluarga yang dicintai, dan sebagian harus merelakan harta yang dikumpulkan dengan susah payah. Namun mereka tetap berangkat hijrah. Mengapa? Ya, karena bagi mereka, Allah dan Rasul-Nya lebih utama daripada segala yang harus ditinggalkan.

Di antara kisah yang mengharukan adalah kisah Shuhaib Ar-Rumi. Ketika hendak berhijrah, kaum Quraisy menghalanginya dan menuntut agar ia meninggalkan seluruh hartanya di Makkah. Shuhaib akhirnya menyerahkan seluruh kekayaannya demi dapat menyusul Rasulullah ke Madinah. Ketika mendengar kisah itu, Rasulullah bersabda, "Shuhaib telah beruntung dalam perniagaannya." Ia kehilangan harta, tetapi memperoleh ridha Allah.

Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak menyandarkan hati kepada Allah, maka hari ini kita diajak mengutamakan Allah. Sebab hati yang benar-benar bersandar kepada Allah akan mampu menempatkan Allah di atas segala kepentingan lainnya.

Secara filosofis, kehidupan pada hakikatnya adalah rangkaian pilihan. Setiap hari kita memilih antara yang penting dan yang lebih penting, antara yang baik dan yang lebih baik. Persoalannya bukan apakah kita memiliki prioritas, tetapi siapa yang berada pada prioritas tertinggi dalam hidup kita.

Ketika Allah menjadi prioritas utama, maka keputusan-keputusan hidup akan lebih terarah. Kita bekerja, tetapi tidak melupakan ibadah. Kita mencari rezeki, tetapi tidak menghalalkan segala cara. Kita mencintai keluarga, tetapi tidak sampai melupakan kewajiban kepada Allah. Dunia tetap diurus, tetapi akhirat tetap menjadi tujuan. Sebaliknya, ketika Allah tidak lagi menjadi yang utama, maka berbagai urusan dunia akan saling berebut tempat di hati. Harta, tahta, nama popularitas, dan berbagai kepentingan lain akan mendominasi pikiran sehingga hubungan dengan Allah perlahan melemah.

Semangat hijrah pada bulan Muharam sesungguhnya adalah semangat menata ulang prioritas hidup. Hijrah bukan hanya berpindah dari yang buruk kepada yang baik, tetapi juga memindahkan Allah ke posisi tertinggi dalam hati kita. Dari hidup yang berpusat pada keinginan diri menuju hidup yang berpusat pada ridha Ilahi. Sebab kebahagiaan sejati bukanlah ketika kita mendapatkan semua yang kita inginkan, melainkan ketika Allah menjadi yang paling utama dalam hidup kita.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama