Bahagia Menjadikan Allah sebaik-baik Penolong

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.033
Selasa, Ayamul Bidh Hari Putih Ke-3,  15 Muharam 1448

Bahagia Menjadikan Allah Sebaik-baik Penolong
Saudaraku, setelah di Madinah, perang pertama yang dihadapi kaum muslimin setelah hijrah, yaitu Perang Badar. Jumlah pasukan kaum muslimin hanya sekitar 313 orang. Mereka tidak berangkat untuk berperang besar, perlengkapan mereka sangat terbatas, kuda dan unta pun sangat sedikit. Sementara itu, pasukan Quraisy berjumlah hampir seribu orang dengan persenjataan yang jauh lebih lengkap.

Secara perhitungan manusia, peluang kemenangan kaum muslimin hampir tidak mungkin. Namun pada malam sebelum perang, Rasulullah tidak sibuk menghitung kekuatan musuh. Beliau mengangkat kedua tangan, bermunajat kepada Allah dengan penuh kerendahan hati. Beliau berdoa hingga selendangnya terjatuh dari pundaknya. Beliau memohon, "Ya Allah, jika pasukan kecil ini binasa, maka tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu di bumi." Melihat kesungguhan itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq menenangkan beliau seraya berkata bahwa Allah pasti akan memenuhi janji-Nya.

Keesokan harinya, Allah benar-benar menurunkan pertolongan-Nya. Al-Qur'an menjelaskan bahwa Allah mengirim para malaikat untuk menguatkan hati orang-orang beriman. Kemenangan itu bukan semata-mata karena jumlah atau senjata, tetapi karena pertolongan Allah. Sebab itu Allah mengingatkan, "Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Ali 'Imran: 126).

Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak membersihkan hati dari segala bentuk kemusyrikan, maka hari ini kita diajak mengisi hati itu dengan keyakinan bahwa Allah adalah sebaik-baik Penolong. Tauhid tidak cukup hanya dengan menolak sesembahan selain Allah, tetapi juga harus diwujudkan dengan menjadikan Allah sebagai tempat pertama meminta pertolongan.

Secara filosofis, setiap manusia membutuhkan penolong. Tidak ada seorang pun yang mampu menjalani hidup sendirian. Anak membutuhkan orang tua, murid membutuhkan guru, rakyat membutuhkan pemimpin, orang sakit membutuhkan dokter dan seterusnya. Semua itu adalah bagian dari sunatullah yang lazim sijalani manusia.

Namun seorang mukmin memahami bahwa semua penolong di dunia hanyalah perantara. Di balik semua sebab itu, ada Allah yang menggerakkan, mengizinkan, dan menentukan hasil akhirnya. Dokter mengobati, tetapi Allah yang menyembuhkan. Guru mengajar, tetapi Allah yang memberi pemahaman. Petani menanam, tetapi Allah yang menumbuhkan. Kita bekerja, tetapi Allah yang melapangkan rezeki.

Kesalahan manusia modern sering kali bukan karena tidak mau berusaha, tetapi karena terlalu percaya kepada usaha dan melupakan Allah, Sang Pemberi hasil. Kita merasa aman karena saldo rekening, bukan karena Allah. Kita merasa kuat karena jabatan, bukan karena Allah. Kita merasa berhasil karena kecerdasan diri, bukan karena pertolongan Allah. Ketika semua itu hilang, hati pun ikut runtuh karena selama ini sandaran kita ternyata bukan Allah.

Di sinilah semangat hijrah menjadi sangat relevan. Hijrah bukan hanya berpindah dari maksiat menuju taat, tetapi juga memindahkan pusat pertolongan hati. Dahulu kita merasa ditolong oleh harta, kini kita yakin Allah-lah Penolong. Dahulu kita terlalu mengandalkan manusia, kini kita tetap menghormati manusia tetapi hati hanya bergantung kepada Allah. Dahulu kita panik ketika sebab-sebab dunia tertutup, kini kita yakin pintu pertolongan Allah tidak pernah tertutup.

Menjadikan Allah sebagai Penolong juga melahirkan keberanian. Orang yang yakin Allah menolongnya tidak mudah putus asa ketika menghadapi tantangan. Ia tetap berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak kehilangan harapan ketika keadaan tampak sulit. Ia memahami bahwa pertolongan Allah sering datang pada saat semua pertolongan manusia terasa tidak lagi mampu menjangkau.

Karena itu, setiap kesulitan hendaknya menjadi jalan untuk semakin mendekat kepada Allah, bukan semakin jauh dari-Nya. Setiap kegagalan hendaknya menjadi alasan untuk memperbanyak doa, bukan memperbanyak keluhan. Setiap ujian hendaknya menjadi kesempatan untuk membuktikan bahwa kita benar-benar percaya kepada pertolongan Allah.

Mska sudah srpantasnya kita bertanya kepada diri sendiri. Ketika menghadapi persoalan besar, kepada siapa hati ini pertama kali berharap? Kepada Allah atau kepada makhluk? Ketika pintu-pintu dunia mulai tertutup, apakah kita masih yakin bahwa pintu langit selalu terbuka?

Muharam, bulan hijrah, mengajarkan bahwa perjalanan menuju Allah tidak akan pernah dibiarkan tanpa pertolongan-Nya. Yang diminta dari kita hanyalah iman, ikhtiar, kesabaran, dan doa. Adapun hasil akhirnya, Allah sendiri yang akan mengaturnya dengan cara yang paling baik.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama