Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.031
Ahad, Ayamul Bidh Hari Putih Ke-1, 13 Muharam 1448
Bahagia Menjaga Kemurnian Akidah
Saudaraku, ketika kaum muslimin berhijrah dari Makkah ke Madinah, sesungguhnya yang mereka selamatkan bukan pertama-tama harta, rumah, atau kedudukan atau duniawiyahnya, tetapi yang paling kaum muslimin selamatkan adalah akidah. Mereka rela meninggalkan semua yang dicintai agar tetap dapat melafalkan Lā ilāha illallāh tanpa tekanan dan tanpa kompromi. Hijrah menjadi bukti bahwa bagi umat Islam, kemurnian iman jauh lebih berharga daripada seluruh kenikmatan dunia.
Perjalanan hijrah itu mengajarkan bahwa akidah adalah "harta" yang paling mahal. Rumah yang ditinggalkan dapat dibangun kembali. Harta yang tak dibawa dapat dicari lagi. Jabatan yang lepas dapat digantikan. Namun jika akidah rusak atau tercemar, maka arah kehidupan akan kehilangan kompas yang memandunya.
Jika pada muhasabah sebelumnya kita diajak mengagungkan Allah, maka hari ini kita diajak menjaga kemurnian akidah. Sebab hati yang mengagungkan Allah tidak akan rela mencampurkan tauhid dengan segala bentuk ketergantungan, keyakinan, atau pengagungan kepada selain-Nya. Mengagungkan Allah adalah fondasinya, sedangkan menjaga kemurnian akidah adalah konsekuensinya.
Secara filosofis, akidah yang murni ibarat mata air yang jernih. Dari mata air itulah mengalir seluruh kebajikan, amal saleh, akhlak mulia, kejernihan pikiran dan ketenangan jiwa. Namun jika mata air itu tercemar, maka seluruh aliran kehidupan ikut tercemar. Oleh karena itu, Islam selalu memulai perbaikan manusia dari pembenahan keyakinan sebelum pembenahan perilaku lahiriahnya.
Menjaga kemurnian akidah juga berarti menjaga hati agar tidak menuhankan selain Allah. Hari ini, "berhala" tidak selalu berupa patung. Ia bisa berupa harta yang terlalu dicintai, jabatan yang terlalu dibanggakan, kekuasaan yang dipertuhankan, atau bahkan ego yang selalu ingin dituruti. Ketika sesuatu lebih ditaati daripada Allah, lebih ditakuti daripada Allah, atau lebih dicintai daripada Allah, saat itulah kemurnian tauhid mulai terkikis.
Semangat hijrah pada bulan Muharam mengajak kita melakukan hijrah yang paling mendasar, yaitu hijrah aqidah. Bukan karena kita berpindah agama, tetapi karena kita terus membersihkan iman dari segala noda yang mengotorinya: riya, syirik kecil, ketergantungan berlebihan kepada makhluk, serta keyakinan-keyakinan yang tidak sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya.