Bahagia Sadar Ujian agar Bijak Meresponinya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3974
Sabtu, Puasa Hari Putih, 14 Dzulkaidah 1447

Bahagia Sadar Ujian agar Bijak Meresponinya
Saudaraku, dikisahkan bahwa Nabi Ayyub as, seorang hamba yang diberi kelapangan hidup, harta melimpah, keluarga yang banyak, dan tubuh yang sehat. Namun dalam perjalanan waktu, satu per satu nikmat itu diambil. Hartanya habis, anak-anaknya meninggal, bahkan istrinya juga meninggalkannya, tubuhnya ditimpa penyakit yang relatif panjang.

Hari-hari yang dulu penuh kemudahan, berubah menjadi ujian yang berat. Namun yang paling menakjubkan bukanlah beratnya ujian itu, tetapi cara beliau menjalaninya. Tidak ada keluhan yang berlebihan, tidak ada protes terhadap takdir. Yang ada hanyalah kesabaran yang tenang, dan keyakinan yang utuh. Hingga pada suatu saat, beliau berdoa dengan penuh kerendahan: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua yang penyayang.” Dan qadarullah, Allah pun mengangkat ujiannya, mengembalikan kesehatannya, bahkan melipatgandakan nikmatnya.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang generasi yang harus dididik dengan serius, maka hari ini kita diajak menyadari satu sunnatullah dalam kehidupan yakni ujian. Karena tidak ada hidup tanpa ujian.  Ujian tidak selalu berupa kesulitan., tapi juga kemudahan. Maka ujian itu lazim dalam dua wajah: kelapangan dan kesempitan. Nabi Ayub as teladan yang amat bijak dalam meresponi ujian, baik saat lapang maupun sempit, saat sehat maupun sakit, saat kaya maupun papa. Satu hal yang pasti bahwa ujian tidak mengubah arah hati, tetapi justru menguatkan imannya.

Pertama, ujian kelapangan. Ketika diberi harta, jabatan, dikelilingi keluarga, kesehatan, kemudahan. Di sinilah banyak orang lupa, mereka merasa semua karena dirinya, lalu mulai tinggi hati. Mereka lupa bahwa itu semua bisa diambil kapan saja, dan kelapangan adalah ujian yang lebih halus karena sering tidak dirasakan sebagai ujian.

Nah, orang-orang yang sadar diuji, maka ketika lapang akan tetap rendah hati. Ia tidak takabur, tidak berlebihan dan justru semakin bersyukur, semakin dekat kepada Allah

Kedua ujian kesempitan atau musibah. Dalam hal ini yang sering membuat manusia lelah sejatinya bukanlah ujiannya, melainkan ketidaksiapan dalam menghadapinya. Ketika ujian datang kesempitan, manusia sering bertanya: “Mengapa aku yang srperti ini?”. Padahal pertanyaan yang lebih menenangkan adalah: "pesan apa yang Allah ajarkan melalui ujian ini?” Apalagi, ujian bukan selalu hukuman. Ia bisa jadi cara Allah mendidik, membersihkan, dan atau mengangkat derajat.

Orang yang tidak sadar akan ujian, akan mudah gelisah. Namun orang-orang yang sadar, akan melihat ujian dengan cara yang bijak. Ia bersabar bukan karena tidak merasakan sakit, tetapi karena memahami maknanya mengambil hikmahnya. Ia tetap berusaha, tetapi hatinya tidak putus asa. Ia menangis, tetapi tidak kehilangan harapan.

Dikisahkan dari Nabi Muhammad saw, bahwa beliau adalah manusia yang paling banyak diuji. Kehilangan orang-orang tercinta, sudah yatim piatu sejak balita, "hidupnya masa remajanya keras", saat menjadi Nabi menghadapi penolakan, bahkan boikot tekanan yang berat dalam dakwah. Namun beliau bersabda: “Sungguh menakjubkan perkara orang beriman. Semua urusannya baik. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan ia bersabar, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa bagi orang beriman, ujian bukan akhir dari kebaikan, tetapi bagian darinya.

Kita bisa memetik hikmah ketika sadar ujian sehingga belajar bersyukur dan bersabar,  pertama, melahirkan keteguhan hati. Tidak mudah pongah ketika dalam kelimpahan, tapi juga tidak mudah goyah ketika menghadapi kesulitan. Kedua, menumbuhkan kesabaran yang aktif. Bukan diam tanpa usaha, tetapi tetap berikhtiar dengan hati yang tenang. Ketiga, membersihkan jiwa dari kesombongan. Karena ujian mengingatkan bahwa manusia lemah tanpa Allah. Keempat, mendekatkan diri kepada Allah. Ujian sering menjadi jalan kembali yang paling tulus. Kelima, mengangkat derajat dan menghapus dosa. Kesulitan yang dihadapi dengan sabar tidak pernah sia-sia. Keenam, menghadirkan kedewasaan dalam hidup. Melihat segala sesuatu dengan lebih dalam dan bijak.

Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa hidup ini adalah rangkaian ujian,
dalam bentuk yang berbeda-beda. Saat lapang, kita diuji untuk bersyukur. Saat sempit, kita diuji untuk bersabar. Yang pasti bahwa ujian bukan untuk menjatuhkan, tetapi untuk menguatkan. bahwa kesulitan bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk mendewasakan. Dan ketika hati mampu bersabar dengan penuh yakin dan penuh harap maka di situlah ujian berubah menjadi jalan, dan kesedihan berubah menjadi kekuatan. Karena sejatinya, bukan ujian yang menentukan kita, tetapi bagaimana kita menjalaninya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama