Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3973
Jumat Puasa Hari Putih, 13 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Generasi sehingga Mendidik dengan Hati
Saudaraku, dinukilkan dari Nabi Muhammad saw, bahwa suatu hari beliau mencium cucunya, Hasan atau Husain. Melihat itu, seorang sahabat berkata bahwa ia memiliki banyak anak tetapi tidak pernah mencium mereka. Maka Nabi Muhammad saw bersabda: “Barang siapa tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain diceritakan, ketika beliau sedang shalat, cucunya naik ke punggungnya. Beliau tidak tergesa menurunkannya, bahkan memperpanjang sujudnya hingga sang cucu turun sendiri. Inilah pendidikan yang hidup, penuh kasih, penuh kesabaran, dan penuh kesadaran bahwa anak adalah amanah, bukan beban. Hal ini seharusnya disadari oleh para orangtya, pendidik, guru, pengasuh daycare dan kita semua.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya, tentang nikmat yang harus disyukuri, maka hari ini kita diajak menyadari salah satu nikmat terbesar sekaligus amanah terberat yakni generasi kita, anak-anak kita, cucu dan cicit kita.
Anak-anak bukan sekadar penerus, tetapi sekaligus pengganti sehingga pada mereka lah cermin masa depan. Namun realitas hari ini seringkali menggugah nurani. Bagaimana tidak, fenomena salah asuh di tempat penitipan (daycare), kasus perundungan (bullying) di lembaga pendidikan, tindak kekerasan terhadap anak baik fisik maupun verbal semua itu terjadi bukan sekadar peristiwa, tetapi peringatan keras bagi kita semua. Bahwa ada yang keliru dalam cara kita memandang anak-anak dan mendidiknya.
Ketika anak hanya dianggap tanggung jawab sesaat, ketika pendidikan hanya diserahkan sepenuhnya pada lembaga, ketika kasih sayang digantikan dengan kemarahan maka yang lahir bukan generasi kuat, tetapi generasi yang terluka.
Orang-orang yang sadar akan generasi, akan hidup berbeda. Ia tidak hanya sekedar membesarkan anak, tetapi mendidik dengan hati. Ia tidak hanya memberi fasilitas, tetapi memberi teladan. Ia tidak hanya menuntut hasil, tetapi membangun proses. Ia memahami bahwa setiap kata adalah rekaman, setiap sikap adalah teladan, dan setiap perlakuan akan membekas sepanjang kehidupan anak.
Dikisahkan dari Umar bin Khattab, bahwa beliau pernah menegur seseorang yang kasar terhadap anaknya. Umar mengingatkan bahwa anak memiliki hak untuk diperlakukan dengan baik, diajarkan adab, dan dibimbing dengan kasih sayang. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu dan ketrampilan, tetapi nilai dan pembinaan jiwa.
Nah ketika kita sadar akan generasi sehingga serius mendidik, maka pertama, dapat melahirkan kesadaran bahwa anak adalah amanah besar. Bukan sekadar tanggung jawab biologis, tetapi tanggung jawab moral dan spiritual. Kedua, dapat mendorong pendidikan berbasis kasih sayang. Karena kasih sayang adalah fondasi pembentukan karakter. Ketiga, dapat menghindarkan dari kekerasan dalam pendidikan. Baik fisik, verbal, maupun emosional. Keempat, menumbuhkan keteladanan dalam diri pendidik. Anak lebih banyak meniru daripada mendengar. Kelima, memperkuat peran keluarga sebagai madrasah pertama. Tidak sepenuhnya menyerahkan pendidikan kepada pihak lain. Keenam, menjaga masa depan umat dan bangsa. Karena kualitas generasi hari ini menentukan arah masa depan.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa generasi bukan sekadar untuk dibesarkan, tetapi untuk dibina; bahwa anak bukan hanya untuk diasuh, tetapi untuk dididik dengan cinta. Dan ketika kita serius dalam mendidik dengan ilmu, dengan kesabaran, dengan kasih sayang maka kita sedang menanam kebaikan yang akan tumbuh jauh melampaui usia kita. Di situlah kebahagiaan itu lahir: ketika kita tidak hanya hidup untuk hari ini,tetapi juga untuk masa depan generasi yang kita titipkan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3973