Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3969
Senin, 9 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Memimpin dan Bisa Dipimpin
Saudaraku dalam sebuah atsar dikisahkan dari Umar bin Khattab, seorang pemimpin besar yang disegani. Suatu hari, dalam sebuah majelis, beliau menyampaikan kebijakan terkait mahar. Di tengah khutbahnya, seorang perempuan berdiri dan mengoreksi dengan menyebutkan ayat Al-Qur’an bahwa mahar tidak boleh dibatasi. Semua terdiam. Namun yang terjadi justru menggetarkan hati Umar tidak marah, tidak membungkam, tidak mempertahankan gengsi. Ia justru berkata dengan jujur: :Perempuan itu benar, dan Umar yang salah.”
Inilah potret kepemimpinan yang agung, kuat saat memimpin, namun rendah hati saat dipimpin oleh kebenaran. Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang kerja dan jeda, tentang tahu dan batasnya, maka hari ini kita diajak masuk pada kesadaran yang lebih luas: bahwa setiap kita adalah pemimpin, namun juga tetap membutuhkan bimbingan.
Setiap manusia memimpin, setidaknya untuk memimpin dirinya sendiri. Sebagian memimpin keluarga, sebagian memimpin kelas, organisasi, institusi, bahkan memimpin masyarakat dan negara. Hal yang perlu disadari di samping memimpin sejatinya juga dipimpin. Karena bisa saja ketika seseorang berada di posisi memimpin, ia lupa bahwa dirinya juga dipimpin. Setidaknya dipimpim oleh nilai, oleh kebenaran, oleh petunjuk Allah. Nah di sinilah letak keseimbangan itu.
Pemimpin yang hanya ingin memimpin saja tak mau dipimpim, mudah tergelincir pada kesombongan. Tetapi pemimpin yang sadar bahwa ia juga dipimpin, akan tetap rendah hati. Ia mau mendengar, siap dikoreksi, terbuka pada kebenaran, meski datang dari yang lebih kecil atau lebih rendah kedudukan darinya. Tahu mengapa? Ya, karena ia tahu, kepemimpinan bukan tentang posisi, tetapi tentang amanah.
Kita bisa belajar dari Nabi Muhammad saw, bahwa beliau adalah pemimpin tertinggi umat, namun juga manusia yang paling terbuka menerima masukan. Dalam banyak peristiwa, beliau bermusyawarah dengan para sahabat, bahkan menerima usulan yang berbeda dari pendapat awal beliau demi kebaikan bersama. Gaya seperti jni menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati adalah perpaduan antara ketegasan dan kerendahan hati.
Idealitas kepemimpinan bila merujuk pada tipikal kepemimpinan profetik yang akseleratif alias FAST, maka diyakini bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar kemampuan mengatur atau mengelola organisasi tetapi meneladani sifat-sifat kenabian:
F – Fathanah (Cerdas dan Visioner). Pemimpin mampu melihat jauh ke depan, memahami masalah dengan jernih, dan mengambil keputusan dengan bijak.
A – Amanah (Dapat Dipercaya). Kepemimpinan adalah amanah dan amanahbitu titipan, maka harus dijaga dengan penuh tanggung jawab, bukan dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi.
S – Shiddiq (Jujur dan Transparan). Pemimpin berkata benar, bersikap lurus, dan tidak menyembunyikan kebenaran demi kepentingan tertentu.
T – Tabligh (Menyampaikan dan Menginspirasi). Pemimpin tidak hanya mengatur, tetapi juga mengajak, mengedukasi, menginspirasi dan menguatkan dengan keteladanan.
Keempat sifat ini (FAST) bukan hanya untuk pemimpin besar, tetapi untuk setiap diri kita dalam lingkup sekecil apa pun, termasuk memimpin keluarga bahkan diri sendiri.
Andai bisa dipraktikkan, maka di antara hiikmah bahagia menyadari sebagai pemimpin, tapi juga bisa dipimpin adalah pertama, melahirkan kerendahan hati dalam kepemimpinan. Tidak merasa paling benar, tetapi siap menerima kebenaran. Kedua, menjaga amanah dengan penuh tanggung jawab. Kepemimpinan bukan hak, tetapi beban yang akan dipertanggungjawabkan. Ketiga, menumbuhkan budaya musyawarah dan keterbukaan. Karena kebaikan sering lahir dari kebersamaan, bukan dari satu pikiran saja. Keempat, menghindarkan dari kesewenang-wenangan karena sadar bahwa kekuasaan bukan milik mutlak manusia. Kelima, memperkuatp keteladanan dalam setiap tindakan. Pemimpin bukan hanya didengar, tetapi dilihat dan ditiru. Keenam, menghadirkan keseimbangan antara memimpin dan belajar semakin tinggi posisi, semakin besar kebutuhan untuk terus belajar dan dibimbing.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa kita memimpin, tetapi tidak boleh merasa paling tinggi; bahwa kita diikuti, tetapi tetap harus siap diarahkan. Karena kepemimpinan sejati bukan tentang berdiri di depan, tetapi tentang berjalan bersama dipimpin oleh nilai, dituntun oleh kebenaran, dan diarahkan menuju ridha Allah.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3969