Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3971
Rabu, 11 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Posisi agar Tahu Diri
Saudaraku, dikisahkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq, ketika beliau diangkat menjadi khalifah setelah wafatnya Nabi Muhammad saw. Dalam pidato pertamanya, beliau tidak menonjolkan diri dan kekuasaannya, tetapi justru berkata dengan penuh kerendahan hati: "Aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku benar, bantulah aku. Jika aku salah, luruskanlah aku…”
Tentu, ini bukan sekadar pidato, tetapi kesadaran posisi yang sangat dalam.
Ia tahu dirinya pemimpin, tetapi juga tahu batas dirinya sebagai manusia. Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Sadar Amanah agar Tahu Menjaganya, kita telah menyadari amanah kekhalifahan dan penghambaan diri kita. Maka hari ini, kesadaran itu ditarik ke dalam kehidupan sosial: di mana posisi kita, dan bagaimana kita bersikap sesuai dengannya.
Manusia hidup dalam banyak posisi sebagai hamba di hadapan Allah, sebagai anak di hadapan orang tua, sebagai orang tua di hadapan anak, sebagai pemimpin atau yang dipimpin, sebagai dosen di hadapan mahasiswanya, guru, murid, penjual, pembeli dst. Namun seringkali masalah muncul bukan karena posisi itu, tetapi karena ketidaksadaran terhadap posisi tersebut.
Ada yang diberi amanah kecil, tetapi bersikap seolah besar. Ada yang berada di posisi belajar, tetapi enggan menerima. Ada yang memimpin, tetapi lupa tanggung jawabnya. Pokoknya ada saja masslah. Nah di sinilah pentingnya kita “tahu diri”. Tentu, bukan dalam arti merendahkan diri, tetapi menempatkan diri secara tepat.
Karena orang yang sadar posisi, tahu kapan harus berbicara, tahu kapan harus mendengar, tahu kapan harus memimpin, tahu kapan harus mengikuti. Ia tidak memaksakan diri di luar kapasitasnya,
dan tidak meremehkan peran yang ada padanya.
Dikisahkan dari Imam Syafi'i, bahwa beliau pernah berkata: “Aku tidak pernah berdebat dengan seseorang kecuali aku berharap kebenaran muncul dari lisannya.” ini menunjukkan bahwa meskipun beliau seorang ulama besar, ia tetap menempatkan diri sebagai pencari kebenaran, bukan pemilik mutlaknya.
Mengapa sadar posisi agar tahu diri ini penting? Ya karena pertama, dapat melahirkan kerendahan hati. Tidak merasa lebih dari yang semestinya. Kedua, dapat menjaga adab dalam setiap peran. Karena setiap posisi memiliki etika dan tanggung jawab. Ketiga, mampu menghindarkan dari konflik dan kesalahpahaman. Banyak masalah muncul karena salah menempatkan diri. Keempat, dapat meningkatkan kualitas hubungan sosial. Karena setiap orang diperlakukan sesuai porsinya. Kelima, mampu menumbuhkan kedewasaan dalam bersikap tidak reaktif, tetapi proporsional. Keenam, dapat mendekatkan diri kepada Allah. Karena menempatkan diri dengan benar adalah bagian dari hikmah.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar di mana kita berdiri, apa peran kita,
dan bagaimana seharusnya kita bersikap. Karena hidup bukan tentang menjadi segala sesuatu, tetapi tentang menjadi tepat pada tempatnya. Dan ketika seseorang tahu posisinya, ia tidak akan gelisah ingin menjadi orang lain, ia akan tenang menjadi dirinya, dan bijak dalam menjalani perannya.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3971