Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3968
Ahad, 8 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Kerja Meski juga Perlu Jeda
Saudaraku, terdapat riwayat dari Abu Juhaifah, ia berkata bahwa Nabi Muhammad mempersaudarakan Salman dengan Abu Darda. Suatu hari, Salman mengunjungi Abu Darda. Ia melihat istri Abu Darda dalam keadaan kurang terurus. Salman bertanya, “Mengapa engkau seperti ini?” Istri Abu Darda menjawab, “Saudaramu Abu Darda tidak membutuhkan dunia.” (maksudnya terlalu fokus ibadah hingga mengabaikan aspek lain).
Ketika Abu Darda datang, ia menjamu Salman dan mengajaknya makan. Salman berkata, “Makanlah.” Abu Darda menjawab, “Aku sedang berpuasa.” Salman berkata, “Aku tidak akan makan sampai engkau makan.” Maka Abu Darda pun makan.
Pada malam hari, Abu Darda bangun untuk shalat malam. Salman berkata, “Tidurlah.” Ia pun tidur kembali. Hal ini terjadi beberapa kali hingga di akhir malam Salman berkata, “Sekarang bangunlah,” lalu mereka shalat bersama. Setelah itu Salman berkata:
“Sesungguhnya Tuhanmu punya hak atasmu, dirimu punya hak atasmu, dan keluargamu punya hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak itu haknya.”
Kemudian Abu Darda mendatangi Nabi ï·º dan menceritakan hal itu. Maka Nabi Muhammad bersabda: “Salman benar.”
(HR. Bukhari)
Riwayat di atas mengandung pelajaran yang amat dalam, bahkan dalam ibadah sekalipun, keseimbangan tetap diperlukan, apalagi dalam urusan dunia dan pekerjaan. Sebagaimana muhasabah sebelumnya Bahagia Sadar Tahu, Namun Ada Batasnya kita telah menyadari keterbatasan dalam ilmu. Maka hari ini kita diajak menyadari keterbatasan dalam tenaga dan waktu bahwa manusia bekerja, tetapi tidak tanpa batas.
Seringkali kita mengukur nilai diri dari seberapa sibuk. Semakin padat jadwal, semakin merasa berarti. Semakin lelah, semakin merasa produktif. Padahal tidak semua kesibukan adalah keberkahan. Ada kerja yang membangun, namun ada pula kerja yang justru menguras tanpa arah. Ada kesungguhan yang mendekatkan, namun ada pula kelelahan yang menjauhkan dari keseimbangan hidup. Nah di sinilah pentingnya kesadaran bahwa bekerja adalah ibadah, tetapi jeda adalah kebutuhan. Jeda bukan kemalasan. Ia adalah ruang untuk menguatkan kembali, waktu untuk menata niat, menyegarkan pikiran, dan menenangkan jiwa.
Tanpa jeda, kerja bisa kehilangan makna. Tanpa jeda, hati bisa mengeras. Tanpa jeda, tubuh bisa melemah tanpa kita sadari.. Orang yang sadar akan hal ini, akan hidup lebih seimbang. Ia bekerja dengan sungguh-sungguh, namun tahu kapan harus berhenti sejenak. Ia berusaha dengan maksimal, namun tidak memaksakan diri melampaui batas. Ia memahami bahwa tubuh butuh istirahat, hati butuh ketenangan, jiwa butuh kedekatan dengan Allah
Dikisahkan pula dari Umar bin Khattab, bahwa beliau membagi waktunya dengan teratur untuk urusan umat, untuk keluarganya, dan untuk dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa manajemen waktu bukan hanya tentang bekerja, tetapi juga tentang memberi ruang jeda yang bermakna.
Hal ini penting, karena pertama, melahirkan keseimbangan hidup. Tidak terjebak dalam ekstrem sibuk atau ekstrem lalai. Kedua, menjaga kesehatan fisik dan mental. Karena tubuh dan pikiran memiliki batas yang harus dihormati. Ketiga, meningkatkan kualitas kerja. Jeda yang tepat membuat kerja lebih fokus dan bernilai. Keempat, menata kembali niat dan arah hidup. Dalam jeda, kita bisa mengevaluasi dan meluruskan tujuan. Kelima, menghadirkan ketenangan batin. Hidup tidak terasa dikejar-kejar, tetapi dijalani dengan sadar. Keenam, mendekatkan diri kepada Allah. Jeda menjadi ruang untuk dzikir, doa, dan refleksi atau muhasabah.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa kita perlu bekerja, tetapi juga perlu berhenti sejenak. Bahwa kita perlu bergerak, tetapi juga perlu menenangkan diri. Karena dalam jeda itulah, kita menemukan kembali arah, menguatkan kembali langkah, dan melanjutkan perjalanan dengan lebih jernih dan bermakna.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3968