Bahagia Sadar Nikmat, Sadar Syukurnya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3972
Kamis, 12 Dzulkaidah 1447

Bahagia Sadar Nikmat, Sadar Syukurnya
Saudaraku, Nabi Muhammad saw pada suatu malam saat beliau bangun untuk melaksanakan shalat hingga kedua kakinya bengkak, istrinda Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab dengan penuh makna: “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Riwayat ini menggambarkan syukur yang sesungguhnya, bukan sekadar kata, tetapi penghambaan yang hidup dalam keistikamahan amal. Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang sadar  posisi agar tahu diri, maka hari ini kita sebagai hamba ke atas Allah Rabbuna harus menyadari limpahan nikmat agar mampu menambahi syukur kita.

Bukankah kita hidup di kelimpahan nikmat?, namun seringkali tidak merasakannya. Mengapa? Ya, karena nikmat yang terus hadir, perlahan menjadi biasa, menjadi zona aman kita. Coba bayangkan, nikmat hidup, nikmat lahir dan dibesarkan di tengah keluarga dan masyarakat yang religius setidaknya sadar Islam, nikmat sehat lahir batin, nikmat berkeluarga membangunnya dengan sakinah mawaddah wa rahmah, nikmat dianugrahi anak-anak, nikmat ilmu, nikmat harta, nikmat berkendara,  nikmat tahta, nikmat bekerja, nikmat berteman berkongsi berorganisasi, nikmat makanan dan minuman... dan seterusnya. Begitulah, setiap detik adalah karunia, setiap nafas adalah karunia, setiap gerak adalah karunia.

Karunia demi karunia menjadi keseharian kita sehingga menjadi biasa. Namun justru di sinilah letak kelalaiannya. Biasa sehat, maka sering kali kita lupa bersyukur. Biasa dan biasa dan biasa berada dalam kenyamanan, sehingga lupa bersyukur. Nah orang-orang yang sadar nikmat, tidak menunggu kehilangan untuk bersyukur. Ia bersyukur sebelum nikmat itu pergi.

Syukur itu, tentu bukan hanya ucapan, tetapi mewujud dalam aksi, merefleksi dalam ibadah dan amal. Kita shalat itu refleksi syukur. Kita berpuasa, termasuk Senin-Kamis dan ayyāmul bīḍh itu refleksi syukur. Kita berbagi, bersedekah, berwakaf, berkurban itu refleksi syukur. Kita berhaji atau berumrah itu refleksi syukur. Kita berdzikir itu refleksi syukur. Kita membaca Al-Qur’an itu refleksi syukur. Kita bekerja mencari nafkah itu refleksi syukur. Kita membaca buku, melakukan riset dan menulis itu refleksi syukur.

Semua ibadah dan beraktivitas bermakna lainnya pada hakikatnya adalah cara kita berkata kepada Allah: “Ya Allah, saya menyadari limpahan nikmat-Mu, maka terimalah syukur dan pengabdianku”.

Seorang ulama salaf. Hasan al-Basri, beliau berkata: “Ikatlah nikmat dengan syukur.” Karena nikmat yang disyukuri akan terjaga, dan nikmat yang diabaikan akan perlahan menghilang.

Bila kita sadar nikmat lalu bertambah-tambah syukur kita, maka berefek pertama, dapat melahirkan qanaah, rasa cukup dalam hidup. Tidak selalu merasa kurang, karena hati melihat yang telah ada. Kedua, dapat menumbuhkan ketenangan batin. Karena syukur dapat meredam kegelisahan dan memperhalus jiwa. Ketiga, dapat menjaga nikmat agar tetap ada dan lestari, nahkan bertambah-tambah. Inilah mengapa syukur itu sebagai penjaga karunia. Keempat, menjadikan ibadah lebih hidup dan bermakna. Ibadah bukan kewajiban semata, tetapi bukti syukur ungkapan terima kasih. Kelima, menghindarkan dari iri dan keluh kesah. Karena fokus pada karunia, bukan kekurangan. Keenam, membuka pintu tambahan nikmat. Karena Allah menjanjikan penambahan bagi yang bersyukur.

Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa hidup ini penuh nikmat, meski tidak semuanya tampak besar. Dan ketika setiap nikmat dibalas dengan ibadah,
setiap karunia dibalas dengan kebaikan, maka hidup tidak lagi sekadar dijalani, tetapi disyukuri dengan sepenuh jiwa. Di situlah kebahagiaan sejati tumbuh: dari hati yang sadar, dan amal yang menjadi bukti syukur kepada-Nya.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama