Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3979
Kamis, 19 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Syariat
Saudaraku, sebagai umat beragama, kita tentu menaati syariatnya. Dalam Islam, kesadaran terhadap syariat melahirkan ketaatan yang tulus. Itulah yang tampak dalam sikap Umar bin Khattab ketika mencium Hajar Aswad di Ka’bah. Beliau berkata dengan jujur, “Sesungguhnya aku tahu engkau hanyalah batu, tidak dapat memberi manfaat dan tidak dapat memberi mudarat. Seandainya aku tidak melihat Nabi Muhammad menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” Ini bukan sekadar tindakan biasa, tetapi ketaatan yang sadar melakukannya karena mengikuti perintah Allah dan teladan Nabi, bukan semata karena logika manusia.
Syariat adalah jalan yang ditetapkan Allah untuk menuntun kehidupan manusia menuju kebaikan. Ia bukan beban, tetapi petunjuk yang menjaga manusia dari kesesatan. Namun seringkali manusia melihat syariat sebagai batasan, bukan sebagai perlindungan. Di sinilah pentingnya kesadaran: bahwa setiap aturan memiliki hikmah, meski tidak selalu langsung terlihat.
Kesadaran akan syariat melahirkan kepatuhan yang penuh makna. Seseorang tidak lagi bertanya “mengapa harus melakukan ini itu, menghindari ini dan itu?” dengan nada penolakan, tetapi bertanya dengan hati yang ingin memahami. Ia tidak memilih-milih perintah sesuai selera, tetapi berusaha menjalankan secara utuh sesuai kemampuannya.
Ketaatan kepada syariat bukan hanya dalam perkara besar, tetapi juga dalam hal-hal kecil yang sering diabaikan. Dari cara ke kamar kecil, cara duduk, cara berbicara, cara makan, cara berinteraksi dengan sesama hingga cara bernegara semua memiliki tuntunan. Orang yang sadar syariat akan menjadikan hidupnya selaras dengan nilai-nilai yang diajarkan.
Namun menaati syariat bukan berarti tanpa tantangan. Ada kalanya hawa nafsu menolak, lingkungan tidak mendukung, atau kebiasaan lama sulit ditinggalkan. Di sinilah kesungguhan diuji: apakah kita tetap teguh, atau mengikuti arus yang menjauhkan dari ketaatan.
Kesadaran terhadap syariat juga menghadirkan ketenangan dalam hidup. Seseorang tidak lagi bingung dalam menentukan arah, karena ia memiliki pedoman yang jelas. Ia tidak mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman, karena prinsipnya bersumber dari wahyu yang tetap.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa syariat bukan untuk membatasi, tetapi untuk menjaga. Ketika kita menaati dengan hati yang ikhlas, setiap aturan terasa ringan dan setiap langkah terasa terarah. Di situlah hidup menjadi lebih bermakna karena dijalani sesuai dengan jalan yang telah Allah tetapkan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3979