Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3975
Ahad, Puasa Hari Putih, 15 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Tempat Salah dan Lupa
agar Hati-hati
Saudaraku, diriwayatkan oleh Ka'ab bin Malik dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa ia dan dua sahabat lainnya (Murarah bin Rabi' dan Hilal bin Umayyah) tidak ikut PerangTabuk tanpa uzur: Ketiganya dikenal sebagai sahabat yang jujur, bukan munafik.
Perang Tabuk terjadi dalam kondisi sangat berat: cuaca panas, jarak jauh, dan musim paceklik. Ka’ab sebenarnya mampu berangkat, bahkan mengatakan ia tidak pernah sekuat itu sebelumnya. Namun ia menunda-nunda persiapan, hingga akhirnya pasukan berangkat dan iapun tertinggal. Ia berkata (maknanya): "Aku terus menunda, hingga mereka telah pergi, dan aku tidak sempat menyusul".
Ketika Nabi Muhammad saw kembali, orang-orang yang tidak ikut datang dengan berbagai alasan dan sebagian diterima secara lahiriah. Namun Ka’ab memilih jujur di hadapan Nabi Muhammad: "Demi Allah, aku tidak punya alasan.” Nabi tidak langsung menghukumnya, tetapi berkata: “Adapun orang ini, ia berkata jujur. Bangkitlah hingga Allah memutuskan tentangmu.”
Sebagai hukumannya, Ka’ab dan dua sahabat lainnya kemudian diperintahkan untuk tidak diajak bicara oleh kaum Muslimin. Maka hari-hari itu sangat berat: tidak ada yang menyapa, tidak ada yang menjawab salam, bahkan orang terdekat pun menjauh. Ka’ab berkata: “Bumi terasa sempit bagiku, padahal ia luas.” Bahkan etelah 40 hari, datang perintah tambahan mereka harus menjauhi istri mereka. Ujian semakin berat fisik, sosial, dan batin.
Di tengah ujian, Ka’ab menerima surat dari Raja Ghassan (non-Muslim) yang mengajaknya bergabung dan menjanjikan kedudukan. Namun Ka’ab tidak tergoda. Ia justru membakar surat itu. Ini menunjukkan: ujian tidak hanya datang dari kesulitan, tetapi juga dari tawaran yang menyesatkan.
Pada hari ke-50, setelah shalat Subuh, Ka’ab mendengar kabar bahwa taubat mereka telah diterima oleh Allah. Allah menurunkan firman-Nya: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubatnya)… hingga bumi terasa sempit bagi mereka… kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubat…” (QS. At-Taubah 118)
Ka’ab pun sujud syukur. Ia datang kepada Nabi dan wajah Nabi berseri-seri, tanda kebahagiaan. Ka’ab berkata bahwa sebagai bentuk taubat, ia ingin menyedekahkan seluruh hartanya. Namun Nabi menyarankan untuk menyisakan sebagian. Dan Ka’ab berkata: "Demi Allah, aku tidak pernah berkata jujur seperti kejujuranku hari itu.”
Ketika melakukan kesalahan dan dosa, Ka'ab segera menyadarinya dan segera bertaubat. Ia tidak lari dari kesalahan, tak membela diri dengan kebohongan dan tidak putus asa dari rahmat Allah. Inilah potret agung kesadaran akan dosa yang melahirkan kejujuran, dan kejujuran yang membuka pintu taubat. Sebagaimana muhasabah sebelumnya, tentang ujian yang harus direspon dengan bijak, maka hari ini kita diajak masuk ke ruang yang paling sunyi dalam diri yakni mengakui tempat salah dan dosa..
Sebagai manusia, kita harus sepenuhnya sadar tidak luput dari salah dan lupa, tidak bebas dari dosa. Namun yang membedakan bukan siapa yang tidak salah atau lupa, tetapi siapa yang sadar dan segera kembali kepadaNya. Karena seringkali manusia jatuh bukan karena dosanya, tetapi karena tidak menyadarinya. Ia terbiasa, hingga tidak merasa bersalah. Ia mengulang, hingga hati menjadi keras. Ia menunda taubat, hingga lupa jalan pulang. Di sinilah pentingnya kesadaran bahwa setiap dosa adalah panggilan untuk kembali, bukan alasan untuk tetap menjauh. Orang yang sadar akan kesalahan, tidak akan tenggelam di dalamnya. Ia segera berhenti, menyesali, dan segera kembali kepada Allah. Ia tahu, pintu taubat selalu terbuka, selama nyawa belum sampai di tenggorokan.
Dikisahkan pula dalam hadis, Nabi Muhammad bersabda: “Setiap anak Adam pasti berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi). Ini menunjukkan bahwa kesalahan bukan akhir,
tetapi awal dari perjalanan menuju perbaikan.
Ketika menyadari tempat salah dan dosa kita akan semakin hati-hati dan ketika terlanjur berbuat salah mak kita segera bertaubat. Hal ini dapat pertama, melahirkan kejujuran dalam diri. Berani mengakui kesalahan tanpa mencari pembenaran. Kedua, mendorong untuk segera kembali kepada Allah. Tidak menunda taubat, karena waktu tidak pasti. Ketiga, membersihkan hati dari dosa yang menumpuk dengan taubat. Keempat, menghindarkan dari keputusasaan. Karena rahmat Allah selalu lebih luas daripada dosa manusia. Kelima, menumbuhkan kerendahan hati. Tidak merasa suci, tetapi terus memperbaiki diri. Keenam, membuka lembaran hidup yang baru. Taubat adalah awal, bukan akhir.
Akhirnya bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa kita pernah salah, dan kita kembali, bahwa kita pernah jatuh, dan kita bangkit untuk memperbaiki. Karena sejatinya, bukan kesalahan yang menghancurkan, tetapi keengganan untuk bertaubat. Dan ketika hati mampu berkata dengan tulus: Ya Allah, aku kembali…” maka di situlah pintu rahmat terbuka, dan kehidupan kembali menemukan cahayanya. Semoga
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3975