Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3977
Selasa, 17 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Cita agar Berikhtiar Meraihnya
Saudaraku, saya rasa semua kita punya cita-cita, baik itu dinyatakan atau tidak. Tentu punya cita itu penting, tapi lebih penting lagi ada ikhtiar yang diiringi doa yang cukup untuk meraihnya. Maka, cita yang tulus akan melahirkan ikhtiar yang serius, doa yang tetus melangit.
Itulah yang tampak dalam kisah Musa ketika diperintahkan menuntut ilmu kepada Khidir. Padahal Musa adalah nabi yang telah menerima wahyu, namun ketika diberi tahu bahwa ada ilmu yang belum ia miliki, ia tidak menyangkal, ia tidak merasa cukup. Musa justru berkata dengan tekad: “Aku akan terus berjalan sampai aku mencapai pertemuan dua lautan, atau aku akan berjalan bertahun-tahun.” (QS. Al-Kahfi: 60). Ini bukan sekadar keinginan, tetapi cita yang diiringi kesungguhan untuk mencapainya. Dari sini kita belajar bahwa cita sejati melahirkan kesediaan untuk berikhtiar yang bisa jadi dengan berlelah-lelah dalam mencapainya.
Cita adalah dambaan atau arah hidup yang memberi makna pada setiap langkah. Tanpa cita, perjalanan terasa datar dan tanpa tujuan. Namun memiliki cita saja tidak cukup, karena banyak orang hanya berhenti pada keinginan. Cita yang tidak diiringi usaha hanya akan menjadi angan yang tidak pernah sampai.
Kesadaran akan cita akan membangkitkan energi untuk bergerak. Seseorang yang memahami tujuan hidupnya tidak akan mudah larut dalam kemalasan. Ia tahu bahwa setiap detik memiliki nilai, setiap langkah memiliki arah. Ia tidak menunggu waktu luang, tetapi menciptakan waktu untuk berikhtiar.
Ikhtiar adalah bentuk nyata dari kesungguhan dalam meraih cita. Ia bukan hanya bekerja, tetapi bekerja dengan arah dan perencanaan. Ia menata langkah, memperbaiki cara, dan terus belajar dari setiap pengalaman. Dalam ikhtiar, ada ketekunan yang tidak mudah goyah oleh rintangan.
Namun dalam perjalanan meraih cita, manusia tetap harus sadar akan batasnya dan di sinilah peran doa. Ia berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak memaksakan hasil. Ia memahami bahwa hasil akhir tetap berada dalam ketentuan Allah. Inilah yang menjaga hati tetap tenang, meski usaha belum berbuah sesuai harapan.
Cita yang diiringi ikhtiar akan membentuk pribadi yang kuat dan dewasa. Ia tidak mudah menyerah ketika gagal, karena ia melihat kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Ia tidak cepat puas ketika berhasil, karena ia sadar perjalanan masih panjang.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa cita bukan sekadar mimpi, tetapi amanah yang harus diperjuangkan. Setiap usaha yang dilakukan dengan niat yang benar akan bernilai di hadapan Allah. Dan ketika ikhtiar dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka setiap langkah menjadi ibadah, dan setiap proses menjadi bagian dari perjalanan menuju kebaikan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3977