Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3978
Rabu, 18 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Sunatullah agar Mengindahkannya
Saudaraku, kesadaran akan sunatullah itu sangat penting. Karena ia menjadikan hidup terarah dan indah. Itulah yang tampak dalam kisah Nabi Yusuf. Sejak kecil Yusuf memiliki mimpi besar, namun jalannya tidak mudah: ia dilempar ke sumur, dijual sebagai budak, difitnah, bahkan dipenjarakan. Namun ia tidak berhenti berikhtiar; ia belajar, bersabar, berdoa, menjaga integritas, dan terus memperbaiki diri. Hingga akhirnya, melalui proses panjang itu, Allah mengangkatnya menjadi pemimpin yang mulia.
Berdasarkan ilustrasi naratif di atas kita belajar bahwa keberhasilan bukan kebetulan, tetapi mengikuti sunnatulah, hukum Allah yang berjalan dalam kehidupan. Sunatullah yang dimaksudkan di sini adalah hukum Allah yang berlaku dalam kehidupan, tidak berubah dan tidak pilih kasih. Siapa yang menanam, ia yang menuai. Siapa yang bersungguh-sungguh, ia yang mendapatkan hasil. Tidak cukup hanya berharap dan berdoa tanpa usaha karena harapan tanpa ikhtiar bertentangan dengan sunatullah itu sendiri.
Kesadaran akan sunatullah melahirkan sikap realistis sekaligus optimis. Seseorang tidak lagi berangan-angan tanpa dasar, tetapi juga tidak putus asa dalam usaha. Ia memahami bahwa setiap hasil memiliki asbab, dan setiap keberhasilan memiliki proses. Dari sini lahir keseimbangan antara doa dan kerja nyata.
Ingin cerdas, maka belajar adalah jalannya. Tidak ada kecerdasan yang tumbuh tanpa proses berpikir, membaca, dan berlatih. Orang yang memahami sunatullah tidak akan berharap pintar tanpa usaha, karena ia tahu ilmu datang kepada yang mencarinya.
Ingin kaya, maka bekerja dan bersedekah adalah jalannya. Kekayaan bukan sekadar hasil keberuntungan, tetapi buah dari kerja keras, kejujuran, dan keberkahan yang lahir dari sedekah. Orang yang sadar sunatullah tidak hanya mengumpulkan, tetapi juga mengalirkan hartanya agar menjadi berkah.
Ingin sukses, maka rajin dan tekun adalah jalannya. Kesuksesan tidak datang kepada yang malas atau mudah menyerah. Ia datang kepada mereka yang konsisten, sabar, dan tidak berhenti di tengah jalan. Orang yang memahami ini tidak tergesa, tetapi terus melangkah.
Kesadaran terhadap sunatullah akan menghindarkan manusia dari sikap instan, sikit-sikit mengeluh dan kesah. Ia tidak mencari jalan pintas yang melanggar nilai, karena ia tahu bahwa hasil yang baik harus melalui proses yang benar. Dari sini hidup menjadi lebih jujur, lebih sabar, dan lebih terarah.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa hidup memiliki aturan yang indah. Kita tidak lagi melawan sunatullah, tetapi justru menyelaraskan diri dengannya. Dan ketika usaha dilakukan sesuai dengan hukum Allah, maka hasilnya bukan hanya tercapai, tetapi juga penuh keberkahan dan keindahan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3978