Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3986
Sabtu, 26 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Keadilan Allah
Saudaraku, sebagai orang beriman kita meyakini bahwa keadilan Allah itu nyata. Kesadaran akan keadilan Allah menjadikan hati tetap tenang dalam menjalani kehidupan. Itulah yang tampak dalam kisah Nabi Musa as ketika menghadapi kekuasaan Fir’aun.
Secara lahiriah Fir’aun tampak sangat kuat: memiliki kerajaan, pasukan, kekuasaan, dan pengaruh besar. Namun di balik semua itu, ia dipenuhi kesombongan dan kezaliman. Sementara Nabi Musa datang dengan keterbatasan, tetapi membawa kebenaran dan pertolongan Allah. Pada akhirnya sejarah membuktikan, Fir’aun tenggelam bersama kesombongannya, sedangkan Nabi Musa as diselamatkan dan dimuliakan. Dari sini kita belajar bahwa keadilan Allah mungkin tidak selalu datang seketika, tetapi tidak pernah salah alamat.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya, maka hari ini kita diajak menyadari bahwa pertolongan Allah itu sangat terkait dengan keadilan-Nya. Allah tidak membiarkan kebaikan sia-sia, dan tidak membiarkan kezaliman berlangsung selamanya. Semua akan kembali kepada hukum keadilan yang telah Allah tetapkan, kebaikan sekecil apapun akan berbalas kebaikan.
Keadilan Allah adalah sumber ketenangan bagi orang-orang yang berbuat baik. Kadang dalam kehidupan di dunia ini ada orang merasa lelah karena kebaikannya tidak dihargai, kejujurannya dibalas luka, atau kesabarannya dibalas pengkhianatan. Namun orang yang sadar akan keadilan Allah tidak mudah kecewa, karena ia tahu bahwa tidak ada satu pun amal yang hilang dari penilaian Allah.
Kesadaran terhadap keadilan Allah juga membuat manusia berhati-hati dalam berbuat buruk. Tidak semua kejahatan langsung dibalas di dunia, tetapi bukan berarti Allah tidak melihat. Ada orang yang tampak bebas melakukan kezaliman, namun sesungguhnya ia hanya sedang diberi kesempatan. Di sinilah pentingnya taubat sebelum datang penyesalan yang terlambat.
Orang baik akan menemukan kebahagiaan karena hidupnya dipenuhi ketenangan batin. Kebaikan mungkin tidak selalu membuat seseorang kaya atau terkenal, tetapi ia menghadirkan kedamaian yang sulit dibeli dengan apa pun. Hati yang bersih, tidur yang tenang, dan doa yang tulus adalah bagian dari buah kebaikan yang sering tidak disadari manusia.
Sebaliknya, orang yang memilih jalan keburukan hendaknya segera bertaubat. Tidak ada manusia yang bebas dari salah, tetapi jangan sampai dosa menjadi kebiasaan yang mengeraskan hati. Selama pintu taubat masih terbuka, selalu ada kesempatan untuk kembali. Keadilan Allah bukan hanya dalam hukuman-Nya, tetapi juga dalam rahmat-Nya yang memberi peluang kepada manusia untuk memperbaiki diri.
Kesadaran akan keadilan Allah menjadikan manusia tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain dan tidak mudah sombong atas pencapaiannya sendiri. Ia memahami bahwa setiap orang sedang menjalani ujian dan balasan sesuai amalnya masing-masing. Dari sini lahir sikap yang lebih tenang, lebih bijak, dan lebih rendah hati.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa hidup ini berada dalam pengawasan Allah Yang Maha Adil. Tidak ada air mata yang sia-sia, tidak ada kebaikan yang hilang, dan tidak ada kezaliman yang benar-benar lolos dari perhitungan-Nya. Maka orang yang memilih jalan baik akan menemukan ketenangan, sedangkan yang masih berada di jalan salah hendaknya segera kembali sebelum waktu taubat berakhir.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3986