Bahagia Sadar Ada Akhirat

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3981
Sabtu, 21 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Ada Akhirat 
Saudaraku, judul muhasabah kali ini untuk menyadari bahwa setelah di dunia ini, ada kehidupan yang justru abadi, yakni di akhirat. Ini menjadi bagian pilar iman kita sebagai orang Islam.

Kesadaran akan akhirat menjadikan hidup lebih terarah, sarat kehati-hatian dan penuh persiapan. itulah yang tampak dalam kehidupan Utsman bin Affan. Dikisahkan bahwa ketika beliau berdiri di dekat kuburan, beliau sering menangis hingga janggutnya basah oleh air mata. Ketika ditanya mengapa begitu menangis saat mengingat kubur, beliau menjawab bahwa kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat; jika seseorang selamat darinya, maka perjalanan berikutnya akan lebih ringan, namun jika tidak, maka sesudahnya lebih berat. Kesadaran itulah yang membuat beliau tidak terlena oleh dunia, meskipun memiliki kekayaan dan kemuliaan yang besar.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang tujuan hidup agar tidak salah arah, maka hari ini kita diajak menyadari tujuan akhir dari seluruh perjalanan itu yakni akhirat. Jika tujuan hidup hanya berhenti pada dunia, maka manusia akan mudah tertipu oleh gemerlap kesementaraan. Namun ketika akhirat disadari sebagai tempat kembali, maka hidup di dunia akan dijalani dengan lebih hati-hati dan penuh makna.

Akhirat adalah kepastian yang sering tak disadari meskipun semua manusia sedang menuju ke sana. Setiap hari umur berkurang, langkah mendekat, dan kesempatan hidup di dunia semakin sedikit. Namun anehnya, manusia sering lebih sibuk mempersiapkan perjalanan dunia yang singkat daripada perjalanan akhirat yang abadi.

Kesadaran akan akhirat melahirkan cara pandang yang berbeda terhadap kehidupan. Harta tidak lagi membuat sombong, karena semuanya akan ditinggalkan. Tahta tidak lagi membuat lupa diri, karena semua akan dipertanggungjawabkan. Keluarga dan kolega tidak membuat gelap mata. Bahkan ujian berupa kesedihan dunia pun terasa lebih ringan, karena dunia hanyalah tempat singgah sementara. Semua kita tak selamanya di sini, maka berbekal untuk kehidupan yang abadi menjadi prioritas masing-masing diri, bila tak ingin merugi.

Bekal terbaik menuju akhirat adalah takwa. Takwa bukan sekadar takut kepada Allah, tetapi kesadaran untuk menjaga diri tetap berada di jalan-Nya. Takwa hadir dalam ibadah, dalam kejujuran, dalam menjaga lisan, dalam mencari yang halal, dan dalam memperlakukan sesama dengan baik. Orang yang bertakwa sedang menyiapkan bekal yang tidak akan habis meski dunia berakhir.

Mempersiapkan akhirat bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia sebagai ladang amal. Shalat menjadi bekal, sedekah menjadi bekal, ilmu yang bermanfaat menjadi bekal, bahkan senyum dan kebaikan kecil pun dapat menjadi bekal. Orang yang sadar akhirat akan melihat setiap kesempatan hidup sebagai peluang untuk menanam pahala.

Kesadaran terhadap akhirat juga menjadikan hati lebih tenang menghadapi kehidupan. Ia tidak terlalu larut dalam pujian, dan tidak terlalu hancur oleh hinaan. Ia tahu bahwa penilaian manusia tidak abadi, sedangkan penilaian Allah adalah yang paling menentukan. Dari sini lahir keteguhan dan kedewasaan dalam menjalani hidup.

Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa hidup dunia hanyalah perjalanan menuju kampung akhirat. Maka yang paling penting bukan seberapa lama kita hidup, tetapi seberapa siap kita kembali kepada Allah. Dan ketika bekal takwa terus dipersiapkan, maka kematian tidak lagi hanya menakutkan, tetapi menjadi gerbang menuju perjumpaan dengan Rabb yang selama ini disembah dan dicintai.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama