Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3983
Senin, 23 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Godaan agar Kuat Menghadapinya
Saudaraku, dalam beribadah dan dalam mwniti kehidupan ini kesadaran terhadap godaan menjadi sangat penting. Ia menjadikan hati lebih hati-hati lan waspada dalam menjalani kehidupan ini. Setidaknya itulah pelajaran yang tampak dalam pragmen kisah Nabi Yusuf ketika menghadapi godaan dari Zulaikha, istri pembesar Mesir. Dalam keadaan muda, tampan, jauh dari keluarga, dan berada di ruang tertutup, Nabi Yusuf as memiliki peluang besar untuk tergelincir. Namun beliau sanggup berkata: “Aku berlindung kepada Allah…” (QS. Yusuf: 23)
Nabi Yusuf as lebih memilih dipenjara daripada mengkhianati iman dan kehormatan dirinya. Nah, bagaimana kalau diri menghadapi "godaan kenikmatan" seperti itu. Tapi setidaknya dari kisah Nabi Yusuf dan Zulaikha itu kita belajar bahwa kekuatan sejati bukan pada kemampuan menaklukkan orang lain, tetapi pada kemampuan menaklukkan diri sendiri ketika godaan datang.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang shalat agar benar-benar didirikan dengan ruhnya, maka hari ini kita diajak menyadari bahwa shalat yang hidup seharusnya melahirkan kekuatan untuk menghadapi godaan. Termasuk godaan saat shalat. Sebab shalat yang benar bukan hanya tampak di sajadah yang khusyuk, tetapi juga tampak ketika seseorang mampu berkata “tidak” terhadap hal yang menjauhkan dirinya dari Allah.
Godaan adalah bagian dari kehidupan yang tidak mungkin dihindari oleh manusia. Mungkin hanya skala dan rupa-rupa godaannya yang membedakannya. Tapi yang jelas, selama manusia hidup, selama itu pula ujian akan datang dalam berbagai bentuk dan kualitasnya. Kadang godaan tahta, harta dan wabita atau lainnya datang secara terang-terangan, kadang hadir perlahan melalui kenikmatan yang tampak indah. Orang yang tidak sadar akan mudah terjebak, sementara orang yang sadar akan bersiap menjaga dirinya.
Godaan tahta ketika datang, misalnya seringkali membuat sebagian orang lupa diri dan melupakan amanah. Saat akan mendapatkannya ada kalanya diperoleh dengan tipu daya, suap dan politik machiavelis yang cenderung menghalalkan segala cara. Saat sudah meraih dan duduk di tahta yang diinginkannya, dijabatnya tapi jauh dari amanah. Jabatan yang seharusnya menjadi sarana pengabdian berubah menjadi alat kesombongan dan kekuasaan. Ketika tahta tidak lagi dipandang sebagai amanah, maka lahirlah kezaliman, kerakusan, dan ketidakadilan. Orang yang sadar akan godaan tahta akan tetap rendah hati meskipun memiliki kekuasaan itu.
Godaan harta juga ketika datang seringkali berpotensi membutakan mata hati sebagian orang. Demi mengejar kekayaan, ada yang rela mengorbankan kejujuran, persaudaraan, bahkan kehormatan dirinya sendiri. Padahal harta hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil kembali, dan pasti tidak ajan dibawa mati. Makanya orang yang sadar akan godaan harta, akan menjadikan kekayaan sebagai sarana ibadah, untuk berbagi, bukan sebagai sumber kerakusan dan alat kesombongan.
Godaan wanita atau syahwat juga menjadi ujian amat dahsyat di sepanjang sejarah manusia. Ada sih orang yang relatif kuat ilmunya, tinggi jabatannya, bahkan secara lahiriyah mungkin juga baik ibadahnya, namun bisa jatuh karena tidak mampu menjaga pandangan dan hatinya dari godaan jenis ini. Di sinilah pentingnya menjaga diri, menjaga batas, dan menjaga kesucian hati agar tidak mudah dikuasai hawa nafsu. Lihatlah Yusuf as, yang muda tampan perkasa saat hanya berdua di kamar dengan Zulaikha yang amat cantik jelita, namun masih memenangkan iman, sehingga tak jatuh dalam "pelukan" Zulaikha. Nabi Yuduf as benar-benar sadar godaan, tapi juga sadar iman.
Di sinilah makanya kesadaran terhadap godaan melahirkan kehati-hatian dan kewaspadaan sehingga muncul pengendalian diri yang kuat. Seseorang tidak merasa aman dari fitnah dunia, karena ia tahu bahwa hati manusia bisa berubah kapan saja. Ia terus mendekat kepada Allah, memperbaiki ibadah, menjaga lingkungan, dan memilih pergaulan yang baik agar tetap kuat menghadapi ujian kehidupan.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa godaan tidak selalu harus diikuti. Semakin besar godaan, semakin besar pula peluang untuk menunjukkan kualitas iman dan keteguhan hati. Dan ketika seseorang mampu menjaga dirinya di tengah godaan dunia, maka ia tidak hanya menjaga kehormatan hidupnya, tetapi juga menjaga keselamatan akhiratnya.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3983