Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3982
Ahad, 22 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Shalat agar Dapat Mendirikannya
Ssudaraku, kesadaran akan shalat menjadikan hidup memiliki ruh dan arah yang jelas. Itulah yang tampak dalam kehidupan Nabi Muhammad saw. Ketika menghadapi persoalan berat, tekanan dakwah, atau kesedihan yang mendalam, beliau selalu kembali kepada Allah melalui shalat. Bahkan beliau pernah berkata kepada Bilal bin Rabah: “Wahai Bilal, istirahatkan kami dengan shalat.” (HR. Abu Dawud). Bagi Nabi, shalat bukan beban yang melelahkan, tetapi tempat beristirahatnya jiwa. Di sanalah hati menemukan ketenangan, arah, dan kekuatan untuk kembali menjalani kehidupan.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang kesadaran akan akhirat agar mempersiapkannya, maka hari ini kita diajak menyadari bahwa salah satu bekal terbesar menuju akhirat adalah shalat. Tentu, shalat ini bukan sekadar kewajiban harian saja, tetapi tiang kehidupan ruhani seorang muslim. Jika akhirat adalah tujuan perjalanan, maka shalat adalah cahaya yang menerangi jalan menuju ke sana. Jika surga adalah muara kebahagiaan, maka shalat adalah kunci untuk memasukinya.
Tapi sekali lagi, shalat yang sejati bukan hanya gerakan tubuh, tetapi gerakan hati menuju Allah. Ada orang yang shalat, tetapi tidak semua benar-benar “mendirikan” shalat. Ada shalat yang hanya menjadi rutinitas mekanik: ia berdiri, rukuk, sujud, lalu selesai tanpa bekas dalam jiwa. Ada pula shalat yang hanya memiliki kerangka, tetapi kehilangan ruhnya.
Kesadaran terhadap shalat melahirkan kekhusyukan dalam menjalankannya. Seseorang tidak lagi sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi menghadirkan hati dalam setiap bacaan dan gerakan. Ia sadar bahwa setiap takbir adalah panggilan untuk melepaskan kesibukan dunia sejenak dan kembali menghadap sowan kepada Allah dan menyadari kebesaranNya.
Sadar shalat, menjadikan shalatnya hidup, memberi efek pada seluruh kehidupan. Ia menjaga lisan dari dusta, menjaga tangan dari kezaliman, menjaga mata dari pandangan haram, dan menjaga hati dari kesombongan. Orang yang benar shalatnya akan tampak dalam akhlaknya, karena ruh shalat mengalir ke dalam perilaku sehari-hari.
Shalat juga melatih kita orang-orang Islam untuk disiplin dan rendah hati. Setidaknya lima kali sehari semalam kita dipanggil untuk mengingat bahwa diri kita hanyalah hamba. Tidak peduli seberapa tinggi jabatan dan kedudukan yang diemban, tidak peduli seberapa banyak kunci perbendaharaan harta dimiliki, semua harus bersujud di hadapan Allah dengan posisi yang sama: menyadari kedhaifan dan membutuhkan-Nya.
Kesadaran terhadap shalat menjadikan hidup lebih tenang di tengah keglamoran atau bahkan kegelisahan dunia. Ketika hati gelisah, shalat menjadi tempat kembali. Ketika hidup terasa berat, shalat menjadi sumber kekuatan. Dari sajadah, seseorang belajar bahwa tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan logika; sebagian harus diserahkan melalui doa dan penghambaan.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa shalat bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan bahkan kelazatan jiwa. Shalat bukan hanya untuk akhirat, tetapi juga untuk memperbaiki kehidupan dunia. Dan ketika shalat didirikan dengan ruh dan kesadaran, maka ia akan menjadi cahaya yang menerangi hati, menenangkan hidup, dan mengantarkan manusia menuju kedekatan dengan Allah.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3982