Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3985
Rabu, 25 Dzulkaidah 1447
Bahagia Sadar Pertolongan Allah
Ssudaraku, sebagai orang beriman, kita yakin bahwa pertolongan Allah itu dekat dan nyata. Kesadaran akan pertolongan Allah menjadikan hati tetap tenang meski di tengah menghadapi kesulitan sekalipun. Begitulah ibrah yang kita petik dari peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw bersama Abu Bakr ash-Shiddiq ketika bersembunyi di Gua Tsur. Saat kaum Quraisy sudah sangat dekat hingga Abu Bakr merasa khawatir, Nabi berkata: “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” (QS. At-Taubah: 40)
Kalimat itu bukan sekadar penghiburan, tetapi keyakinan penuh bahwa pertolongan Allah selalu hadir bagi hamba yang beriman dan berikhtiar. Dari sana kita belajar bahwa dalam kondisi paling sempit sekalipun, seorang mukmin tidak boleh kehilangan harapan.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang kesadaran terhadap rintangan agar lebih berhati-hati, maka hari ini kita diajak menyadari bahwa di balik setiap rintangan selalu ada pertolongan Allah yang menyertai. Kehati-hatian memang penting, ikhtiar memang wajib, namun pada akhirnya manusia harus sadar bahwa tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan kekuatannya sendiri.
Pertolongan Allah seringkali datang dalam cara yang tidak disangka-sangka. Kadang hadir melalui jalan yang tidak terpikirkan, melalui orang yang tidak diduga, atau melalui waktu yang tidak direncanakan. Ketika manusia merasa semua pintu tertutup, Allah mampu membuka jalan dari arah yang tidak pernah dibayangkan.
Kesadaran akan pertolongan Allah melahirkan optimisme dalam menjalani hidup. Seorang muslim tidak mudah putus asa meskipun keadaan terasa berat. Ia boleh lelah, tetapi tidak kehilangan harapan. Ia boleh menangis, tetapi tidak menyerah pada keadaan. Karena ia yakin bahwa pertolongan Allah lebih besar daripada kesulitan yang sedang dihadapi.
Namun keyakinan terhadap pertolongan Allah bukan berarti pasif tanpa usaha. Nabi sendiri tetap berikhtiar, menyusun strategi, dan mempersiapkan perjalanan hijrah dengan matang. Dari sini kita belajar bahwa tawakkal sejati adalah menggabungkan usaha maksimal dengan keyakinan penuh kepada Allah.
Pertolongan Allah juga tidak selalu berbentuk kemenangan besar atau kemudahan instan. Kadang pertolongan itu berupa kekuatan hati untuk bertahan, kesabaran untuk terus berjalan, atau ketenangan untuk menerima keadaan. Bahkan kemampuan untuk tetap beriman di tengah ujian pun adalah bentuk pertolongan Allah yang sangat besar.
Kesadaran terhadap pertolongan Allah membuat manusia tidak mudah sombong ketika berhasil. Ia memahami bahwa ada campur tangan Allah di balik setiap pencapaian. Sebaliknya, ketika gagal, ia tidak terlalu hancur, karena yakin bahwa Allah masih sedang menyiapkan jalan terbaik baginya.
Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri dalam menjalani kehidupan. Ada Allah yang melihat, mendengar, menjaga, dan menolong hamba-Nya. Dan ketika keyakinan itu hidup dalam hati, maka rasa takut akan berkurang, harapan akan tumbuh, dan langkah hidup akan terasa lebih kuat meskipun jalan yang dilalui tidak selalu mudah.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3985