Bahagia Menjadi "Hajar" yang Tidak Menyerah dalam Ikhtiar

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.002
Sabtu, Hari Makan Minum, 13 Dzulhijah 1447

Bahagia Menjadi “Hajar” yang Tidak Menyerah dalam Ikhtiar
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Hajar” yang percaya pada pertolongan Allah, maka hari ini kita diajak menyelami sisi lain dari keteladanan Hajar: keteguhannya untuk tidak menyerah dalam ikhtiar. Ketika ditinggalkan bersama bayi kecilnya, Ismail, di lembah tandus Makkah, Hajar tidak hanya duduk menunggu keajaiban turun dari langit. Saat persediaan air habis dan tangisan Ismail semakin melemah karena kehausan, Hajar bangkit dan berlari antara bukit Shafa dan Marwah. Sekali, dua kali, hingga tujuh kali beliau menempuh perjalanan itu di tengah panas dan kegelisahan. Ini kemudian dalam ritual haji dikenal dengan sa'i, yang bermakna berikhtiar. 

Secara logika manusia, ikhtiar Hajar itu tampak sangat kecil dan nyaris mustahil untuk menghasilkan apa-apa. Namun Hajar tetap bergerak karena beliau percaya bahwa manusia harus berikhtiar sebelum datangnya pertolongan Allah.

Ya, dalam Islam ikhtiar adalah bagian dari penghormatan manusia terhadap kehidupan yang Allah anugerahkan. Allah menciptakan manusia bukan untuk pasrah tanpa usaha, tetapi untuk berjuang dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Karena itu, Hajar tidak menyerah kepada keadaan meskipun dirinya seorang perempuan yang sendirian di tengah lembah sepi. Hajar mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berusaha. Dengan berikhtiar bisa menjadi di antara kita dalam menjemput bahagia.

Bahagia menjadi “Hajar” yang tidak menyerah dalam ikhtiar berarti kita berusaha memahami bahwa hidup memang menuntut perjuangan. Tidak ada kemuliaan tanpa kesungguhan, tidak ada keberhasilan tanpa kesabaran, dan tidak ada pertolongan yang benar-benar bermakna tanpa usaha yang tulus. Hajar menunjukkan bahwa ikhtiar adalah bahasa pengharapan seorang mukmin kepada Allah.

Kesungguhan Hajar berlari antara Shafa dan Marwah akhirnya diabadikan Allah menjadi bagian dari ibadah haji dan umrah sepanjang zaman. Ini menunjukkan bahwa usaha yang lahir dari iman tidak pernah sia-sia di sisi Allah. Bahkan langkah seorang ibu yang mencari air untuk anaknya pun dimuliakan dan dikenang oleh jutaan manusia hingga hari ini.

Ikhtiar juga mengajarkan manusia untuk tidak kalah oleh keadaan. Banyak orang berhenti melangkah bukan karena tidak memiliki kemampuan, tetapi karena terlalu cepat menyerah. Padahal seringkali keberhasilan berada beberapa langkah setelah titik kelelahan terbesar manusia. Hajar tidak tahu kapan air itu akan muncul, tetapi beliau memilih terus bergerak daripada tenggelam dalam putus asa.

Dalam kehidupan modern, manusia sering ingin hasil yang cepat dan instan. Ketika doa belum terkabul, usaha belum berhasil, atau jalan belum terbuka, banyak yang mulai kehilangan harapan. Padahal kehidupan memiliki sunnatullahnya sendiri: benih harus ditanam, dirawat, dan menunggu waktu sebelum menjadi pohon yang berbuah. Hajar mengajarkan bahwa proses adalah bagian dari pendidikan ruhani manusia.

Tidak menyerah dalam ikhtiar juga berarti tidak membiarkan kegagalan menghentikan perjalanan hidup. Ada kalanya manusia jatuh, kecewa, bahkan merasa seluruh pintu tertutup. Namun selama masih hidup, sesungguhnya Allah masih memberi kesempatan untuk mencoba kembali. Kegagalan bukan akhir perjalanan, melainkan bagian dari proses pendewasaan jiwa.

Hajar juga mengajarkan bahwa ikhtiar sejati lahir dari cinta dan tanggung jawab. Beliau berlari bukan demi dirinya sendiri, tetapi demi amanah yang Allah titipkan kepadanya. Dari sini kita belajar bahwa cinta yang tulus sering melahirkan kekuatan yang bahkan tidak disadari manusia sebelumnya.

Kesadaran untuk terus berikhtiar akan membuat manusia lebih kuat menghadapi kehidupan. Orang yang memiliki semangat ikhtiar tidak mudah menyalahkan keadaan, tidak sibuk mengutuk takdir, dan tidak tenggelam dalam keluhan berkepanjangan. Ia memahami bahwa tugas manusia adalah terus melangkah, sementara hasil akhirnya adalah wilayah Allah.

Dengan demikian bahagia menjadi “Hajar” yang tidak menyerah dalam ikhtiar adalah ketika hati tetap mampu berkata: “Aku akan terus berjalan selama Allah masih memberiku kekuatan.” Sebab pertolongan Allah sering datang kepada mereka yang tidak berhenti berusaha. Dan ketika manusia mampu menggabungkan ikhtiar yang sungguh-sungguh dengan tawakkal yang mendalam, maka bahkan lembah tandus pun dapat melahirkan mata air kehidupan yang tidak pernah kering sepanjang zaman.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama