Bahagia Menjadi "Hajar" yang Tetap Tenang dalam Kesendirian

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.000
Kamis, Hari Jemur Daging 11 Dzulhijah 1447

Bahagia Menjadi “Hajar” yang Tetap Tenang dalam Kesendirian
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ibrahim” yang siap berkorban demi ridha Allah, maka hari ini kita diajak meneladani keteguhan hati Hajar, istri Nabi Ibrahim as, seorang perempuan mulia, seorang ibu yang tetap tenang dalam kesendirian karena bersama Allah. 

Bayangkan bagaimana perasaan Hajar ketika ditinggalkan oleh suaminya, Ibrahim. Ia ditinggalkan bersama bayi kecilnya, Ismail, di Makkah, sebuah lembah tandus yang tidak berpenghuni. Tidak ada sumber air, tidak ada pepohonan, dan tidak ada manusia lain di sana. Secara manusiawi, bukankah keadaan itu sangat menakutkan? Ya, tentu. Namun ketika Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” dan Ibrahim menjawab “Ya,” maka Hajar berkata dengan penuh keyakinan: “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Kalimat ini lahir dari hati yang mengenal Allah lebih dalam daripada rasa takutnya sendiri.

Kesendirian sering menjadi salah satu ujian paling berat dalam kehidupan manusia. Tidak semua orang kuat menghadapi sunyi. Banyak manusia merasa gelisah ketika tidak ditemani, merasa kosong ketika tidak diperhatikan, atau merasa lemah ketika harus menghadapi hidup sendirian. Padahal seringkali Allah membawa manusia masuk ke ruang kesendirian agar ia belajar menemukan kedekatan yang lebih dalam dengan-Nya.

Bahagia menjadi “Hajar” yang tetap tenang dalam kesendirian berarti belajar bahwa ketenangan sejati tidak bergantung pada banyaknya teman di sekitar kita, tetapi pada hadirnya Allah di dalam hati. Ada orang hidup di tengah keramaian tetapi jiwanya kesepian, dan ada orang yang tampak sendiri tetapi hatinya penuh ketenteraman karena merasa bersama Allah.

Kesendirian juga sering menjadi tempat lahirnya kekuatan batin. Dalam kesunyian, banyak oranb justru mulai mendengar suara hatinya sendiri. Ia mulai memahami bahwa tidak semua luka harus diceritakan kepada orang lain dan tidak semua kegelisahan harus dicari jawabannya dari sesamanya. Kadang Allah ingin kita belajar bersandar hanya kepada-Nya, asyik mansyuk hanya dengan-Nya.

Hajar mengajarkan bahwa ketenangan bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Hajar tetap lah seorang ibu yang merasakan cemas ketika melihat air habis dan Ismail bayinya kehausan. Namun kecemasan itu tidak membuatnya putus asa. Ia tetap bergerak, berlari antara Shafa dan Marwah, sambil menggantungkan harapan sepenuhnya kepada Allah. Dari sini kita belajar bahwa tawakkal bukan berarti diam, tetapi tetap berikhtiar sekuat tenaga dengan hati yang senantiasa berserah.

Lalu, lihatlah sekarang, di zaman yang katanya modern, banyak manusia mengalami kesepian meskipun hidup serba terhubung, serba IT. Teknologi membuat manusia mudah berkomunikasi, tetapi tidak selalu membuat hati lebih tenang. Banyak yang justru kehilangan tempat bercerita, kehilangan makna hidup, bahkan kehilangan dirinya sendiri. Keteladanan Hajar mengingatkan bahwa kekuatan jiwa lahir dari hubungan yang dekat dengan Allah, bukan sekadar dari keramaian dunia.

Kesendirian juga dapat menjadi jalan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. Ingatlah kenangan saa-saat ketika kita di Arafah saat haji seperti yang baru saja dialami oleh jutaan saudara kita yang kini berhaji. 

Ketika kita merenung bertafakur, tidak sibuk mencari pengakuan manusia, seseorang mulai bertanya: siapa diri ini sebenarnya di hadapan Allah? Apa tujuan hidup kita? Dan ke mana arah perjalanan hidup kita? Setelah di dunia ini, lalu kd mana? Bagaimana nantinya?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sering justru menyelamatkan manusia dari hidup yang kosong makna. Maka bahagia menjadi “Hajar” yang tetap tenang dalam kesendirian adalah ketika hati mampu berkata: “Aku mungkin sendiri di mata manusia, tetapi tidak pernah benar-benar sendiri, karena Allah selalu membersamai.” Apalagi kadang manusia boleh meninggalkan kita sendirian, keadaan boleh berubah, dan dunia boleh terasa sunyi, tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hambaNya yang menggantungkan harapannya kepada-Nya. Allah ma'ana, Allah bersama kita.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama