Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-4.001
Jumat, Hari Jemur Daging 12 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Hajar” yang Percaya pada Pertolongan Allah
Ssudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Hajar” yang tetap tenang dalam kesendirian, maka hari ini kita diajak meneladani keyakinan kuat Hajar terhadap pertolongan Allah.
Ketika air yang dibawanya telah habis dan tangisan Ismail semakin melemah karena kehausan, Hajar tidak duduk diam dalam putus asa. Hajar berikhtiar sekuat tenaga, berlari antara bukit Shafa dan Marwah berkali-kali mencari kemungkinan adanya air atau pertolongan. Secara manusiawi, apa yang dilakukan tampak hampir mustahil membuahkan hasil di tengah lembah tandus yang sepi. Namun di tengah keletihan dan kegelisahan itu, Allah menghadirkan mukjizat air Zamzam, sumber kehidupan yang terus mengalir, menghilangkan dahaga, menyegarkan, dan diberkati hingga hari ini.
Kepercayaan terhadap pertolongan Allah bukan berarti hidup tanpa rasa takut atau cemas. Hajar tetap seorang ibu yang memiliki kegelisahan dan air mata. Namun yang membedakannya adalah beliau tidak membiarkan rasa takut berubah menjadi keputusasaan. Hajar tetap bergerak, tetap berikhtiar, dan tetap percaya bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya.
Bahagia menjadi “Hajar” yang percaya pada pertolongan Allah berarti menyadari bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada jalan yang sedang Allah persiapkan. Kadang kita, saya, tuan puan merasa berada di titik paling sempit dalam hidup ini, doa belum terkabul, jalan terasa tertutup, dan pertolongan belum tampak. Namun seringkali justru di titik itulah Allah sedang mendidik kita hambaNya agar belajar percaya hanya kepada-Nya.
Kepercayaan kepada pertolongan Allah melahirkan ketenangan dalam menghadapi ketidakpastian hidup. Sebagai manusia, kita tidak selalu mampu mengendalikan keadaan, tetapi bisa selalu dapat memilih untuk tetap berharap kepada Allah. Sebab harapan kepada Allah adalah cahaya yang membuat jiwa tetap hidup di tengah gelapnya ujian.
Hajar mengajarkan bahwa pertolongan Allah sering datang setelah manusia mengerahkan ikhtiarnya dengan sungguh-sungguh. Zamzam tidak datang ketika beliau hanya menangis dalam diam, tetapi hadir setelah beliau berlari antara Shafa dan Marwah dengan penuh kesungguhan. Dari sini kita belajar bahwa tawakkal bukan alasan untuk pasif, melainkan kekuatan untuk terus bergerak sambil berserah kepada Allah.
Di zaman sekarang, bisa saja banyak manusia kehilangan harapan karena terlalu bergantung pada hitungan logika dan kekuatan dirinya sendiri. Ketika segala sesuatu tampak buntu, mereka merasa hidup telah berakhir. Padahal Allah mampu menghadirkan jalan dari arah yang tidak pernah dibayangkan manusia, sebagaimana air Zamzam muncul dari tanah tandus yang tidak disangka-sangka oleh Hajar.
Kesadaran akan pertolongan Allah membuat manusia tidak mudah putus asa terhadap hidup. Orang yang yakin kepada Allah akan tetap menjawab doa, tetap menjaga usaha, dan tetap menjaga husnuzan meskipun keadaan belum berubah. Ia memahami bahwa keterlambatan pertolongan bukan berarti Allah meninggalkannya.
Percaya pada pertolongan Allah juga membuat manusia lebih kuat menghadapi kesendirian dan keterbatasan. Sebab ia sadar bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari banyaknya manusia yang mendukungnya, tetapi dari kedekatannya dengan Allah. Dan ketika Allah sudah menolong, maka tidak ada kekuatan apa pun yang mampu menghalangi-Nya.
Dengan demikian, bahagia menjadi “Hajar” yang percaya pada pertolongan Allah adalah ketika hati tetap berkata: “Aku belum melihat jalannya, tetapi aku yakin Allah sedang menyiapkannya.” Sebab pertolongan Allah tidak pernah terlambat. Ia datang pada waktu terbaik, dengan cara terbaik, untuk hamba yang tetap percaya dan tidak berhenti berharap kepada-Nya.