Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3998
Selasa, 9 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Mewariskan Tauhid kepada Generasi
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ibrahim” yang tetap lembut dalam berdakwah, maka hari ini kita diajak meneladani warisan terbesar Ibrahim berikutnya, yakni keteladanannya dalam mewariskan ketauhidan kepada Ismail dan generasi penerusnya.
Sebagai kepala keluarga, Nabi Ibrahim as tidak hanya memikirkan keselamatan dirinya sendiri, tetapi juga keselamatan anak cucunya, bahkan juga generasi hingga akhir zaman. Karena itu beliau berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat…”(QS. Ibrahim: 40). Doa ini menunjukkan bahwa hati seorang ayah yang mukmin sejati tidak berhenti pada keberhasilan pribadinya saja, tetapi memikirkan keberlangsungan iman pada generasi setelahnya.
Mewariskan ketauhidan berarti mewariskan orientasi hidup yang benar kepada anak-anak dan generasi penerus. Sebab kita selaku hamba-habaNya tidak hanya membutuhkan kecerdasan untuk hidup, tetapi juga membutuhkan petunjuk agar hidup kita tidak kehilangan makna. Banyak generasi tumbuh dengan ilmu dan teknologi, tetapi miskin ketenangan karena jauh dari tauhid. Mungkin juga ada yang tumbuh kembang dengan limpahan harta, namun hatinya gersang, hudup seolah tanpa makna. Maka betapa bahagianya hidup dengan waris mewarisi ketauhidan sebagaimana ketauhidan Nabi Ibrahim as.
Ya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang mewariskan tauhid berarti kita menyadari bahwa pendidikan terbesar bukan sekadar menjadikan anak sukses dunia, tetapi menjadikan mereka mengenal dan mengesakan Allah. Rumah yang dipenuhi tauhid akan melahirkan generasi yang tidak mudah kehilangan arah meskipun hidup di tengah perubahan zaman yang massif.
Ketauhidan adalah pondasi dari seluruh bangunan akhlak dan keteguhan hidup. Anak yang mengenal Allah akan lebih mudah jujur meskipun tidak diawasi, lebih mudah menjaga diri meskipun banyak godaan, dan lebih mudah bangkit ketika menghadapi kegagalan. Sebab ia memiliki sandaran ruhani yang kuat di dalam hatinya.
Ibrahim mengajarkan bahwa pendidikan ketauhidan dimulai dari keteladanan, bukan sekadar ucapan. Anak-anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Mereka melihat bagaimana orang tua shalat, bersabar, bersyukur, bekerja dan menghadapi ujian kehidupan. Dari situlah nilai-nilai tauhid masuk perlahan ke dalam jiwa mereka.
Di zaman sekarang, tantangan generasi semakin kompleks. Anak-anak tidak hanya dipengaruhi lingkungan nyata, tetapi juga dunia maya, era digital yang tanpa batas. Informasi begitu mudah masuk, tetapi tidak semuanya membawa kebaikan. Karena itu, mewariskan tauhid menjadi semakin penting agar generasi memiliki kompas moral dan spiritual dalam menjalani kehidupan.
Mewariskan tauhid juga berarti menghadirkan suasana iman dalam rumah. Rumah tidak hanya dipenuhi suara televisi dan gawai, tetapi juga suara doa, tilawah Al-Qur’an, dan diskusi, percakapan yang menumbuhkan hikmah. Sebab rumah yang hidup dengan iman akan menjadi tempat tumbuhnya jiwa-jiwa yang kuat.
Kesadaran ini membuat manusia memahami bahwa warisan terbaik bukan hanya harta benda. Meski ini penting, tapi harta bisa habis, jabatan bisa hilang, tetapi iman yang tertanam dalam hati generasi akan terus hidup bahkan setelah orang tuanya tiada. Itulah sebabnya para nabi lebih sibuk menanamkan tauhid daripada menumpuk dunia.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang mewariskan tauhid kepada generasi adalah ketika hidup kita menjadi jalan hadirnya keimanan bagi anak-anak dan orang-orang setelah kita. Sebab manusia sejatinya tidak hanya meninggalkan nama, tetapi juga meninggalkan jasa yang amat bernilai. Dan ketika nilai tauhid berhasil diwariskan, maka kebaikan itu akan terus mengalir menjadi cahaya yang menerangi generasi demi generasi.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3998