Bahagia Menjadi "Ibrahim" yang Lembut dalam Berdakwah

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3997
Senin, 8 Dzulhijah 1447

Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Lembut dalam Berdakwah
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ibrahim” yang menenangkan keluarga dengan iman, maka hari ini kita diajak meneladani kelembutan Ibrahim dalam berdakwah. Padahal beliau menghadapi masyarakat yang keras, paganisme, menyembah berhala, bahkan juga memusuhinya. Namun Al-Qur’an menggambarkan bagaimana Nabi Ibrahim as tetap berbicara dengan penuh adab, termasuk kepada ayahnya sendiri yang menolak dakwahnya. Berkali-kali beliau memanggil dengan ungkapan lembut: “Wahai ayahku…” (QS. Maryam: 42–45). Padahal ayahnya mengancam akan merajam dan mengusirnya. Tetapi Ibrahim tidak membalas dengan kasar. Beliau memilih tetap santun meskipun hatinya terluka.

Kelembutan dalam berdakwah adalah tanda kedewasaan akhlak. Orang yang hatinya dekat dengan Allah biasanya tidak sibuk merendahkan orang lain. Ia memahami bahwa tugas manusia adalah menyampaikan kebenaran dengan hikmah, sedangkan hidayah adalah hak Allah. Karena itu, Ibrahim tidak berdakwah dengan kemarahan yang melukai, tetapi dengan kasih sayang yang mengajak.

Bahagia menjadi “Ibrahim” yang tetap lembut dalam berdakwah berarti kita sedang belajar bahwa kebenaran tidak harus disampaikan dengan kekerasan. Banyak orang benar dalam isi ucapannya, tetapi salah dalam cara menyampaikannya akan berakibat, dakwah yang seharusnya menjadi cahaya justru terasa menakutkan dan menjauhkan manusia.

Kelembutan bukan tanda kelemahan, tetapi kekuatan dalam mengendalikan diri. Lebih mudah marah daripada bersabar. Lebih mudah mencela daripada memahami. Namun Ibrahim mengajarkan bahwa hati manusia lebih mudah disentuh oleh kelembutan daripada kekerasan. Sebab jiwa manusia tidak hanya membutuhkan nasihat, tetapi juga kasih sayang.

Kesadaran ini sangat penting di zaman sekarang ketika manusia begitu mudah saling menghakimi. Media sosial dipenuhi ujaran kebencian, caci maki, perdebatan kasar, dan kata-kata yang melukai. Banyak orang ingin menang dalam perdebatan, tetapi lupa menjaga akhlak. Padahal dakwah bukan sekadar membuat orang kalah bicara, melainkan mengajak hati mendekat kepada Allah.

Menjadi “Ibrahim” yang lembut dalam berdakwah juga berarti mampu memahami bahwa setiap manusia sedang berproses. Tidak semua orang langsung berubah ketika dinasihati. Ada hati yang membutuhkan waktu untuk tersentuh. Ada jiwa yang sedang terluka sehingga sulit menerima kebenaran. Karena itu, dakwah membutuhkan kesabaran, empati, dan doa yang panjang.

Kelembutan Ibrahim juga menunjukkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan permusuhan. Beliau tetap menghormati ayahnya meskipun berbeda keyakinan. Ini mengajarkan bahwa akhlak mulia harus tetap dijaga bahkan kepada orang yang belum menerima kebenaran yang kita yakini.

Pada akhirnya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang tetap lembut dalam berdakwah adalah ketika kehadiran kita membuat orang merasa lebih dekat kepada Allah, bukan semakin jauh. Sebab hati manusia ibarat tanah: ia lebih mudah ditumbuhi kebaikan ketika disirami kelembutan daripada dihantam kekerasan. Dan ketika dakwah dilakukan dengan cinta, maka ia tidak hanya masuk ke telinga, tetapi juga menembus ke dalam hati manusia.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama