Muhasabah Harian Ke-3999
Rabu, Eid Mubarak 10 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Ikhlas Berkorban
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya kita diingatkan tentang menjadi “Ibrahim” yang mewariskan tauhid kepada generasi, maka hari ini kita sampai pada puncak keteladanan Ibrahim: kesiapan berkorban demi ridha Allah. Seluruh hidup Nabi Ibrahim as sejatinya adalah perjalanan pengorbanan. Ibrahim mengorbankan kenyamanan demi kebenaran, mengorbankan rasa aman demi dakwah tauhid, mengorbankan keterikatan dunia demi ketaatan, hingga rela mengorbankan putra tercintanya, Ismail, ketika perintah Allah datang. Dan justru karena pengorbanan itulah, nama Nabi Ibrahim as dimuliakan sepanjang zaman.
Dalam kehidupan ini, pengorbanan adalah bahasa cinta yang paling nyata. Seseorang baru benar-benar terlihat kadar cintanya ketika ia bersedia melepaskan sesuatu demi yang dicintainya. Maka ketika Nabi Ibrahim as rela menyerahkan apa yang paling dicintainya demi Allah, sesungguhnya beliau sedang menunjukkan bahwa cintanya kepada Allah berada di atas segala-galanya.
Maka bahagia menjadi “Ibrahim” yang siap berkorban berarti kita belajar menyadari bahwa hidup ini tidak akan pernah bernilai tanpa kesediaan memberi. Manusia sering ingin mendapatkan banyak hal tanpa mau berkorban apa pun. Padahal semua kemuliaan selalu menuntut pengorbanan: ilmu membutuhkan kesungguhan yang seringkali berliku, keberhasilan membutuhkan perjuangan yang bisa jadi panjang, dan kedekatan kepada Allah membutuhkan keikhlasan melepaskan sebagian kenikmatan dunia.
Pengorbanan dalam kehidupan tidak selalu berbentuk sesuatu yang besar dan dramatis. Kadang pengorbanan itu berupa menahan ego demi menjaga keluarga, mengalah demi persaudaraan, bangun malam demi ibadah, menyisihkan harta untuk sedekah, atau meluangkan waktu membantu sesama. Semua itu adalah latihan ruhani agar manusia tidak menjadi hamba bagi dirinya sendiri.
Kesediaan berkorban juga menunjukkan kualitas iman seseorang. Orang yang terlalu terikat kepada dunia akan sangat sulit berkorban. Ia takut kehilangan, takut berkurang, dan takut tidak mendapatkan balasan. Namun Ibrahim mengajarkan bahwa siapa yang memberi karena Allah tidak pernah benar-benar rugi. Apa yang dilepas di jalan Allah justru akan kembali dalam bentuk keberkahan yang lebih besar.
Di zaman sekarang, semangat berkorban sering melemah karena budaya hidup serba instan dan individualistis. Banyak orang ingin menikmati hasil tanpa proses, ingin dihargai tanpa pengabdian, dan ingin sukses tanpa perjuangan. Padahal kehidupan yang bermakna lahir dari jiwa yang rela berkorban demi sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Kesadaran untuk berkorban demi ridha Allah juga membuat manusia lebih ikhlas dalam menjalani amanah kehidupan. Seorang ayah berkorban demi keluarganya, seorang ibu berkorban demi anak-anaknya, seorang guru berkorban demi muridnya, dan seorang pemimpin berkorban demi masyarakatnya. Ketika semua dilakukan karena Allah, maka pengorbanan tidak terasa sebagai beban, melainkan sebagai jalan menuju kemuliaan.
Ibadah kurban di bulan Dzulhijah sejatinya bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, keserakahan, dan keterikatan hati kepada dunia. Hewan kurban hanyalah simbol lahiriah, sementara makna terdalamnya adalah kesiapan hati untuk lebih mendahulukan Allah daripada hawa nafsu dan kepentingan diri sendiri.
Pada akhirnya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang siap berkorban demi ridha Allah adalah ketika hati mampu berkata: “Ya Allah, tidak ada yang terlalu berat jika itu demi-Mu.” Sebab pengorbanan yang dilakukan karena Allah tidak akan pernah hilang sia-sia. Ia akan menjadi cahaya dalam kehidupan, keberkahan dalam perjalanan, dan kemuliaan yang terus hidup bahkan setelah manusia meninggalkan dunia.
Eid Mubarak
Kepada para pembaca yang budiman, dengan ini Sri Suyanta dan keluarga di Blang Bintang menghaturkan Selamat Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriyah ini, Memohon Lahir Tumusing Batin
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3999