Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3995
Sabtu, 6 Dzulhijah 1447
Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Berani
Tidak Takut Kehilangan Dunia
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya tentang menjadi “Ibrahim” yang yakin pada janji Allah, maka hari ini kita diajak meneladani sisi agung lain dari Nabi Ibrahim as, yakni keberaniannya untuk tidak takut kehilangan dunia demi mempertahankan iman dan ketaatan. Dalam hal ini Nabi Ibrahim as pernah meninggalkan kampung halamannya, meninggalkan keluarganya di Makkah negeri yang tandus, bahkan berhadapan dengan ancaman dibakar hidup-hidup hanya karena menaati Allah dan mempertahankan tauhid. Namun beliau tidak mundur sedikit pun, karena baginya ridha Allah jauh lebih berharga daripada dunia.
Ketakutan kehilangan dunia sering kali menjadi penyebab manusia jauh dari kebenaran, jauh dari Allah. Ada orang yang mengejar tahta dan takut kehilangan jabatan lalu memilih berpolitik machiavelis yang relatif brutal. Ada orang yang mengejar harta dan takut kehilangan harta lalu menghalalkan segala cara. Ada orang yang mengejar dan takut kehilangan popularitas lalu mengikuti arus meskipun salah. Padahal dunia yang begitu dikejar lalu dipertahankan pada akhirnya tetap akan ditinggalkan juga atau justru meninggalkannya terlebih dulu.
Bahagia menjadi “Ibrahim” yang tidak takut kehilangan dunia berarti kita berikhtiar untuk menyadari bahwa dunia hanyalah titipan sementara dan ridha Allah yang utama. Harta, jabatan, kedudukan, bahkan seseorang yang paling dicintai sekalipun suatu saat akan berpisah dengan kita. Oleh karena itu, tidak elok bila hati terlalu bergantung kepada sesuatu yang sifatnya fana; harta, tahta dan keluarga juga kolega.
Kesadaran ini bukan berarti kita harus meninggalkan dunia sepenuhnya. Tidak!, karena Islam tidak melarang memiliki kekayaan, rumah, kendaraan, atau kedudukan. Satu hal yang harus dihindari adalah ketika dunia menguasai hati dan membuat manusia lupa kepada Allah. Ibrahim mengajarkan bahwa dunia boleh berada di tangan, tetapi jangan sampai mengikat hati.
Keberanian Ibrahim dalam melepaskan keterikatan dunia lahir dari keyakinannya bahwa apa yang ada di sisi Allah jauh lebih baik dan lebih kekal. Ketika beliau rela meninggalkan banyak hal demi Allah, justru Allah memuliakannya di dunia dan akhirat. Ini menunjukkan bahwa siapa yang berani mengutamakan Allah di atas dunia, maka Allah akan mencukupkan hidupnya dengan keberkahan.
Tidak takut kehilangan dunia juga membuat kita lebih tenang menghadapi perubahan hidup. Ketika kehilangan harta, kita tidak sedih berkepanjangan. Ketika kehilangan jabatan, kita tidak lost power syndrom. Ketika kehilangan pujian manusia, kita tetap istiqamah dalam kebaikan. Karena pusat dan sumber ketenangan hatinya bukan dunia, melainkan Allah.
Di zaman sekarang, keteladanan Ibrahim sangat relevan ketika manusia sering diukur dari materi dan pencapaian duniawi. Banyak orang sibuk mengejar citra sukses, tetapi kehilangan ketenangan batin. Banyak yang kaya secara materi, tetapi miskin makna hidup. Ibrahim mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada kebebasan hati dari perbudakan dunia.
Kesadaran untuk tidak takut kehilangan dunia juga melahirkan keberanian berbuat baik. Orang yang tidak diperbudak dunia akan lebih mudah bersedekah, lebih mudah memaafkan, lebih mudah menolong, dan lebih mudah hidup sederhana. Karena ia tahu bahwa nilai manusia di sisi Allah bukan ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh ketakwaannya.
Maka, bahagia menjadi “Ibrahim” yang tidak takut kehilangan dunia adalah ketika hati mampu berbisik: “Jika kita bersama Allah, maka kita tidak kehilangan apa pun.” Sebab dunia memang tempat singgah, bukan tempat tinggal selamanya. Dan ketika kita berhasil membebaskan hati dari ketergantungan dunia, maka kita akan menemukan ketenangan yang tidak mudah diguncang oleh kehilangan apa pun.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3995