Bahagia Menjadi "Ibrahim" yang Menenangkan dengan Iman

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3996 
Ahad, 7 Dzulhijah 1447

Bahagia Menjadi “Ibrahim” yang Menenangkan dengan Iman 
Saudaraku, setelah muhasabah sebelumnya tentang menjadi “Ibrahim” yang tidak takut kehilangan dunia, maka hari ini kita diajak meneladani sisi lain dari kemuliaan Ibrahim yakni kemampuannya mendidik dengan bijak, mampu menenangkan keluarganya dengan iman. Ketika beliau meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah tandus Makkah, itu bukan keputusan yang mudah bagi seorang suami dan ayah manapun. 

Secara manusiawi, Makkah tempat saat itu begitu sunyi, panas, dan tampak tidak menjanjikan kehidupan. Namun ketika Hajar bertanya, “Apakah ini perintah Allah?” Ibrahim menjawab dengan keyakinan. Maka Hajar pun berkata, “Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Ketenteraman hati ini lahir bukan karena fasilitas dunia yang serba ada semata, tetapi dari kekuatan iman dalam keluarga.

Keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah sejatinya bukan keluarga yang bebas masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi masalah bersama Allah. Memiliki banyak rumah juga kos-kosan tampaknya megah tetapi bila penuh kegelisahan, lalu untuk apa? sementara ada rumah sederhana yang dipenuhi ketenangan karena penghuninya saling menguatkan dengan iman, masya Allah.  Begitulah ibrahnya, Ibrahim mengajarkan bahwa fondasi utama keluarga bukan hanya materi, tetapi iman atau keyakinan kepada Allah; ya akan perlindunganNya, pertolonganNya dan karuniaNya yang senantiasa melimpah kepada hamba-hambaNya.

Bahagia menjadi “Ibrahim” yang menenangkan keluarga dengan iman berarti menghadirkan Allah dalam setiap denyut kehidupan rumah tangga. Ketika ada kesulitan, keluarga diajak bersabar bersama. Ketika ada nikmat, keluarga diajak bersyukur bersama. Ketika ada kesalahan, keluarga diajak kembali kepada Allah bersama-sama. Dari sinilah lahir rumah yang bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat bertumbuhnya kedamsian ruhani.

Iman dalam keluarga bukan hanya diajarkan lewat nasihat, tetapi terutama melalui keteladanan. Anak-anak lebih mudah meniru daripada mendengar. Mereka melihat bagaimana ayahnya shalat, bagaimana ibunya bersabar, bagaimana orang tuanya berbicara, memaafkan, dan menghadapi ujian kehidupan. Ibrahim menenangkan keluarganya bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan keyakinan hidup yang nyata.

Ketenangan keluarga juga lahir ketika hubungan antaranggota keluarga dibangun di atas nilai-nilai ruhani, bukan semata kepentingan dunia. Jika hubungan hanya dibangun karena materi, maka ia mudah retak ketika kesulitan datang. Namun jika hubungan dibangun karena Allah, maka cinta akan lebih kokoh menghadapi ujian zaman.

Di zaman sekarang, banyak keluarga mengalami kegelisahan meskipun hidup serba mudah. Teknologi semakin canggih, tetapi komunikasi hati semakin renggang. Rumah dipenuhi suara, tetapi miskin percakapan yang menenangkan jiwa. Dari sini kita belajar bahwa manusia tidak cukup hanya membangun rumah secara fisik, tetapi juga harus membangun ruh iman di dalamnya.

Menjadi “Ibrahim” yang menenangkan keluarga dengan iman juga berarti kita berikhtiar menghadirkan rasa aman dalam keluarga. Aman dari kekerasan lisan, aman dari amarah yang melukai, aman dari pengabaian kasih sayang, dan aman dari keteladanan buruk. Sebab keluarga seharusnya menjadi tempat pulang yang menenteramkan, bukan tempat yang menambah luka batin.

Pada akhirnya, bahagia menjadi “Ibrahim” yang menenangkan keluarga dengan iman adalah ketika kehadiran kita membuat keluarga lebih dekat kepada Allah. Sebab warisan terbesar seorang ayah bukan hanya harta atau jabatan, tetapi hati keluarga yang tetap hidup bersama iman. Dan ketika iman menjadi cahaya dalam rumah tangga, maka bahkan lembah tandus pun dapat berubah menjadi tempat lahirnya keberkahan sepanjang zaman.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama