Bahagia Sadar Sehat Meski Bisa Sakit

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3963
Selasa, 3 Dzulkaidah 1447

Bahagia Sadar Sehat  Meski Bisa Sakit
Saudaraku, dikisahkan bahwa Nabi Muhammad saw sangat menjaga keseimbangan hidup; menjaga pola hidup seimbang. Makan secukupnya, beribadah mahdhah, beristirahat, beraktivitas, dan tidak berlebihan dalam sesuatu. Dalam ajaran menjaga kesehatan di antaranya Nabi bersabda: “Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya…” (HR. Tirmidzi) Dan beliau juga bersabda: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Ini adalah peringatan yang sangat dahsyat, karena nikmat sehat sering dianggap biasa hingga ia berubah menjadi sesuatu yang sangat berharga ketika telah hilang atsu menjauh dari jangkauannya.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya, kita diajak menyadari bahwa hidup di diunia ini ada batasnya dan akan berakhir juga, usia muda juga akan berangsur menjadi tua, maka hari ini, kesadaran bahwa sehat bisa berubah menjadi sakit kapan saja, tanpa pemberitahuan, itu sangat penting.

Dalam praktiknya, sakit tidak selalu datang karena usia, tidak selalu karena kelemahan, tidak selalu karena kesalahan yang terlihat. Tetapi sakit terkadang datang tiba-tiba di tengah aktivitas, di tengah-tengah kesibukan, di saat di puncak popularitas, atau di saat kita merasa paling kuat.

Tubuh yang hari ini terasa ringan, bisa saja esok terasa berat. Langkah yang hari ini tegap, bisa esok tertatih atau pakai tongkat. Pikiran yang hari ini jernih, bisa esok bisa melemah karena merasakan tidak enak badannya. Bahkan yang lebih halus bahwa sakit tidak selalu terlihat dan permisi kinta ijin datang.

Ada sakit yang tersembunyi dalam tubuh, ada sakit yang perlahan menggerogoti tanpa terasa, ada sakit yang baru disadari ketika sudah jauh berkembang. Dan ada pula sakit yang tidak hanya fisik: lelah yang berkepanjangan, pikiran yang penuh tekanan, hati yang gelisah tanpa sebab yang jelas. Semua ini adalah bagian dari kemungkinan yang melekat pada manusia, terjadi di sekitar kita atau diri kita. Dan di situlah letak kesadaran bahwa sehat bukan jaminan, tetapi karunia Allah terbesar, dan kesempatan yang harus terus disyukuri.

Orang yang sadar akan kemungkinan sakit, tidak akan hidup ceroboh. Ia menjaga pola makan, waktu-waktu ibadah mahdhah, menjaga waktu istirahat, menjaga ritme hidup. Ia tidak memaksakan diri hingga melampaui batas, tetapi juga tidak menyia-nyiakan kemampuan yang ada. Dan lebih dari itu, ia menggunakan sehatnya dengan penuh makna; tidak menunggu sakit untuk beribadah; tidak menunggu lemah untuk mendekat; tidak menunggu berobat untuk bertobat, tidak menunggu kehilangan untuk bersyukur. Karena ia tahu, kesempatan itu bisa berubah kapan saja.

Untuk itu di antara hikmah menyadari kesehatan, meski visa sakit adalah pertama, dapat melahirkan rasa syukur yang hidup. Untuk ini biknat sehat tidak lagi dianggap biasa. Setiap nafas, setiap langkah, setiap kemudahan menjadi nikmat dari Allah yang disyukuri.

Kedua, dapat mendorong untuk menjaga diri dengan seimbang; tidak berlebihan juga tidak meremehkan. Hidup menjadi lebih teratur, karena sadar tubuh adalah amanah.

Ketiga, memanfaatkan waktu sehat untuk amal terbaik. Selagi mampu, kita harus berbuat, selagi kuat dan kaya kita harus  memberi. Kita tidak menunda hingga datang keterbatasan.

Keempat, menumbuhkan empati kepada yang sakit Karena sadar bahwa sakit bisa datang kepada siapa saja, maka lahir kepedulian dan kelembutan kepada sesama. Makanya ada tradisi bezuk untuk menghibur dan menguatkan sesama.

Kelima, mengikis kesombongan. Kesadaran bahwa sehat bisa berubah sakit membuat manusia lebih rendah hati. Tidak merasa paling berpengaruh, tidak merasa paling kuat, tidak merasa paling mampu. Bisa jadi esok hari kita bukan siapa-siapa, tidak punya apa-apa, terkulai lemas di pembaringan.

Keenam, menghadirkan ketenangan batin. Ketika sakit datang apalagi saat sudah tua, kita pun tidak kaget berlebihan. Karena sejak awal kita sudah sadar bahwa jangan-jangan itu bagian dari perjalanan hidup.

Pada akhirnya, bahagia itu bisa hadir ketika kita sadar bahwa kesehatan yang kita rnikmati hari ini, tetap  tidak ada jaminan untuk esok lusa. Maka sehat tidak kita sia-siakan, tidak kita lalaikan, tidak kita pakai untuk hal yang merusak, tetapi dijaga dan disyukuri. Karena sejatinya, sehat bukan hanya tentang tubuh yang kuat tetapi juga tentang kesempatan yang Allah berikan agar kita bisa hidup lebih baik, lebih dekat, dan lebih bermakna sebelum waktunya berubah atau sebelum waktunta pulang ke haribaanNya.

1 Komentar

Lebih baru Lebih lama