Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3960
Sabtu, 30 Syawal 1447
Bahagia Ketika Kaki pun Terjaga
Saudaraku, dikisahkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Ada seorang lelaki berjalan di suatu jalan, lalu ia menemukan duri di jalan tersebut. Ia menyingkirkannya, maka Allah bersyukur kepadanya dan mengampuni dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa amal sederhana itu menjadi sebab ia dimasukkan ke dalam surga. Ini adalah riwayat yang sangat kuat sanadnya, dan sangat dalam maknanya: langkah kaki meski kecil, jika diarahkan pada kebaikan, bisa bernilai sangat besar di sisi Allah.
Sebagaimana muhasabah sebelumnya, Bahagia Punya Self Control melalui Air Wudhu, kita telah belajar bahwa wudhu menenangkan jiwa dan melatih pengendalian diri. Maka pada muhasabah hari ini, kita melihat buah nyatanya yakni kaki yang terjaga dalam langkah. Karena kaki merupakan di antara anggota badan yang kita basuh saat berwudhu.
Orang yang menjaga air wudhunya, hidupnya lebih sadar. Kakinya tidak melangkah sembarangan. Ia tahu ke mana harus pergi, dan ke mana harus berhenti. Kaki yang terjaga hanya akan melangkah ke tempat yang baik, akan ringan menuju masjid, ringan menghadiri majelis ilmu, ringan mendatangi takdhim ke orang tua, keluarga, dan sesama untuk kebaikan.
Sebaliknya, kaki yang terjaga menjadi berat untuk melangkah ke tempat yang melalaikan, menjauh dari langkah yang mengundang dosa, dan menahan diri dari perjalanan yang tidak diridhai Allah.
Kaki yang terjaga juga tidak hanya dilihat dari “ke mana ia pergi”, tetapi juga “untuk apa ia melangkah”. Apakah langkah itu membawa manfaat ataukah sekadar mengikuti keinginan sesaat?
Dikisahkan pula dari Umar bin Khattab, bahwa beliau sering berjalan di malam hari mengelilingi kota untuk memastikan keadaan rakyatnya. Langkah kakinya bukan untuk kepentingan diri, tetapi untuk amanah dan kepedulian pada sesama, orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.
Ini menunjukkan bahwa kaki yang terjaga adalah kaki yang bergerak untuk kemaslahatan. Dalam kehidupan hari ini, langkah kaki bisa berarti ke mana kita pergi secara fisik, tetapi juga ke mana kita “menuju” dalam pilihan hidup: lingkungan, aktivitas, bahkan arah perjuangan. Maka menjaga kaki berarti menjaga arah hidup.
Hari ini, seyogyanya kita bertanya dalam diri sebagai muhasabah, ke mana kaki kita melangkah selama ini? Ke mana yang paling sering melangkah? Apakah ia mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan? Ini penting, karena untuk meraih bahagia bisa lantaran kaki melangkah pada jalan yang diridhai Ilahi.
Ya, inilah mengapa bahagia itu hadir ketika kaki terjaga. Karena dari langkah yang baik, lahir perjalanan yang bermakna. Dari perjalanan yang benar, lahir tujuan yang diridhai. Dan ketika setiap langkah telah dipilih dengan kesadaran maka hidup bukan lagi sekadar berjalan, tetapi menapaki jalan kebaikan menuju Allah dengan penuh ketenangan.
Tags:
Muhasabah Harian Ke-3960