Bahagia Sadar Keluangan Waktu Meski Bisa Menyibukkan

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah Harian Ke-3964
Rabu, 4 Dzulkaidah 1447

Bahagia Sadar Keluangan Waktu, 
Meski Bisa Menyibukkan
Saudaraku, dikisahkan bahwa Abdullah bin Mas'ud,  sangat menjaga waktu-waktunya. Dalam riwayat disebutkan, sahabat Nabi ini tidak suka melihat seseorang menganggur tanpa aktivitas yang bermanfaat, bukan karena tidak boleh beristirahat, tetapi karena waktu luang adalah amanah yang mudah sekali terbuang tanpa makna. Bahkan lebih jauh lagi, Nabi Muhammad telah mengingatkan dengan sangat jelas: “Dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari) Hadis ini sederhana, namun menggugah kesadaran. Ia tidak menyalahkan kesibukan, tetapi justru memperingatkan tentang keluangan waktu yang tidak disadari nilainya.

Sebagaimana muhasabah sebelumnya tentang sehat yang bisa menjadi sakit maka hari ini kita diajak melihat sisi lain kehidupan yakni: waktu luang tanpa makna yang bisa berubah menjadi kesibukan yang menyita. Kasang bisa sibuk dengan agenda, sibuk dengan keluarga, sibuk dengan amanah, sibuk dengan masalah, atau bahkan sibuk dengan penyakit.

Terutama dengan amanah, seringkali kita mengeluh saat sibuk, padahal di sela-sela kesibukan itu terselip banyak waktu yang luang, hanya saja tidak kita sadari. Waktu menunggu sesuatu urusan, waktu jeda di antara aktivitas, saat akan tidur, waktu setelah pekerjaan selesai, bahkan waktu yang kita habiskan tanpa tujuan yang jelas. Semua ini adalah “keluangan” yang sering tidak kita hargai. Namun yang lebih dalam lagi, ada sisi lain yang perlu disadari: bukan hanya waktu luang yang hilang, tetapi kesibukan tak bermakna yang menyita. 

Atau pura-pura sibuk saja. Yakni seseorang yang bisa saja terlihat sangat sibuk, tetapi hatinya kosong. Aktivitasnya banyak,tetapi nilainya sedikit. Ia berpindah dari satu urusan ke urusan lain, namun tidak mendekatkan dirinya kepada Allah, tidak memperbaiki dirinya, tidak memberi manfaat bagi sesama. Di sinilah letak ujian zaman ini yakni bukan karena kekurangan aktivitas, tetapi kelebihan kesibukan yang tidak bernilai.

Orang yang sadar akan hal ini, akan hidup berbeda. Ia tidak hanya menghindari kemalasan, tetapi juga menyeleksi kesibukan. Ia bertanya pada dirinya: Apakah ini penting? Apakah ini bernilai? Apakah ini mendekatkanku kepada Allah? Ya, jika tidak, ia berani untuk menguranginya.

Dikisahkan pula dari Hasan al-Basri, beliau berkata: Aku mendapati suatu kaum yang lebih menjaga waktu mereka daripada kalian menjaga dirham dan dinar kalian.” Ini menunjukkan bahwa orang-orang shalih dahulu tidak hanya menghindari waktu kosong, tetapi juga sangat berhati-hati agar waktu mereka tidak diisi dengan hal yang sia-sia.

Oleh karena itu hikmah bahagia sadar akan keluangan waktu, meski bisa menyibukkan, di antaranya. Pertama, melahirkan kesadaran bahwa waktu adalah nikmat yang sering tersembunyi tidak selalu terlihat besar, tetapi sangat menentukan arah hidup seseorang.

Kedua, mendorong untuk mengisi waktu dengan hal yang bernilai. Bukan sekadar sibuk, tetapi sibuk yang bermakna, sibuk yang bernilai ibadah. Sibuk yang mampu mendekatkan diri kita pada Allah, Sang Pencipta

Ketiga, menumbuhkan kemampuan memilih aktivitas. Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Hidup menjadi lebih terarah. Insyaallah lebih mudah juga lebih berkah.

Keempat, menghindarkan dari kesibukan yang melelahkan tanpa tujuan. Karena tidak semua aktivitas membawa kebaikan.

Kelima, menghadirkan kualitas dalam hidup. Sedikit aktivitas, tetapi penuh makna lebih baik daripada banyak, tetapi kosong.

Keenam, mendekatkan diri kepada Allah dalam setiap waktu. Baik saat sibuk maupun saat luang, semuanya menjadi ibadah.

Pada akhirnya, bahagia itu hadir ketika kita sadar: bahwa waktu luang bukan untuk disia-siakan, dan kesibukan bukan untuk dibanggakan. Yang terpenting bukan seberapa penuh jadwal kita, tetapi seberapa bernilai waktu yang kita jalani. Karena setiap detik yang berlalu, tidak akan kembali.
Dan setiap detik itu, sejatinya adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik, lebih dekat, dan lebih bermakna.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama